Connect with us

Hukum

Sistem Hukum Indonesia Akan Dibahas di FH Unsyiah

Published

on

KLIKSATU.CO.ID | BANDA ACEH — Setidaknya dosen dari 19 perguruan tinggi di Indonesia akan hadir dalam seminar nasional, dan call paper yang akan berlangsung selama dua hari di Fakultas Hukum Unsyiah, Darussalam, 5-6 Desember 2018 mendatang.

Seminar nasional ini akan membahas peran otonomi daerah dalam pengembangan sistem hukum Indonesia.

Menurut Koordinator Panitia, Dr Sulaiman Tripa, selain pembicara utama, sebanyak 37 makalah call paper akan dipresentasikan.

“Makalah utama akan disampaikan Prof Esmi Warassih (Undip), Prof Ilyas Ismail dan Prof Husni Jalil (Unsyiah), Prof Faisal A Rani (Lembaga Layanan Perguruan Tinggi Wilayah XIII), Dr M Jafar dari Pemerintah Aceh, dan Muhammad Siddiq Armia PhD (UIN Ar-Raniry),” kata Sulaiman.

Tema ini dipandang menarik mengingat otonomi daerah membuka peluang bagi daerah untuk menghasilkan produk hukumnya. Dengan peluang tersebut, lanjut Sulaiman, hendaknya juga berkonstribusi dalam proses pengembangan sistem hukum di Indonesia.

Lebih lanjut, lulusan doktor UNDIP ini menyebutkan, apa yang dibicarakan tersebut juga menjadi momentum strategis bagi Aceh untuk memperkenalkan bagaimana perkembangan hukum daerah di Aceh.

“Dengan otonomi khusus, sejumlah perkembangan menarik akan menjadi pengetahuan penting bagi mereka yang datang dari berbagai daerah di Indonesianya,” jelasnya.

Peserta call paper yang sudah mendaftar, antara lain di UIN Ar-Raniry, Universitas Muhammadiyah Aceh, Universitas Abulyatama, Universitas Teuku Umar, Universitas Sumatera Utara, UIN Sumatera Utara, Universitas Diponegoro, Universitas Semarang, Universitas Bangka Belitung, Universitas Trisaksi Jakarta, Universitas Trisaksi Surabaya, Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, Universitas Airlangga Surabaya, Universitas Azhar Jakarta, Universitas Pancasila, Universitas Islam Bandung, Universitas Wiralodra, Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon, dan Universitas Khairun Ternate.

“Sejumlah makalah juga diterima panitia dari peserta yang posisinya jauh, mengingat transportasi ke Aceh agak mahal,” terang Sulaiman.

Banyaknya kampus yang mendaftar, tampak lumayan tinggi minat dosen bidang hukum untuk ikut acara ini.

“Untuk memfasilitasi mereka yang tidak bisa ke Aceh, Fakultas Hukum Unsyiah bekerjasama dengan pengelola video conference FH-MK juga akan memfasilitasi penyiaran seminar secara langsung di 34 jaringan kerjasama Video Conference Mahkamah Konstitusi,” ujar Sulaiman.

Kegiatan ini sendiri dilaksanakan secara gotong royong. Masing-masing pihak saling berkontribusi apa yang dibutuhkan seminar nasional ini.

“Banyak pihak terlibat dan saling membantu. Selain Fakultas Hukum Unsyiah, acara ini juga dibantu Pemerintah Aceh, Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry, Video Conference FH, Bandar Publishing, Geuthee Institute, Kedhewa Semarang, Acehna Institute, PSG Unsyiah, serta sejumlah pribadi,” tutup Sulaiman Tripa. [•]


Editor: Saiful Haris

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukum

Oknum Geuchik Pungut Biaya Pembuatan Sertifikat Tanah Dari Warga Rp 500 Ribu

Published

on

KLIKSATU.CO.ID | ACEH TIMUR – Geuchik Gampong Seubebok Pangou, Kec. Banda Alam, Kab. Aceh Timur diduga memungut biaya pembuatan sertifikat tanah dari warganya, sementara pembuatan sertifikat tanah tersebut sudah digratiskan oleh pemerintah Republik Indonesia untuk masyarakat kurang mampu. Kamis, 14 Febuari 2019.

Menurut keterangan Muhammad bahwa, geuchik di gampongnya itu meminta uang pembuatan sertifikat kepada warga sebesar Rp 500.000.00 (Lima Ratus Ribu Rupiah ) Apabila tidak diberikan, maka sertifikat tersebut di tahan oleh geuchik.

“Sebelumya geuchik tidak memberi tahu bahwa pembuatan sertifikat ini gratis, yang diberitahukan bahwa ada pembuatan sertifikat secara serentak di desa kami dengan biaya Rp 500 ribu/sertifikat,” ujar Muhammad kepada awak media beberapa waktu yang lalu.

Namun seiring berjalannya waktu, Masyarakat baru mengetahui jika pembuatan sertifikat tanah tersebut tidak dipungut biaya alias di gratiskan.

“Saya juga ada mengkonfirmasi kepada pihak BPN (Badan Pertanahan Nasional) Kabupaten Aceh Timur beberapa hari yang lalu, namun mereka menjelaskan bahwa pembuatan sertifikat tersebut gratis, dan pihaknya tidak menyuruh untuk mungut biaya itu pada siapapun,” sambung Muhammad.

Hal yang sama juga disampaikan Nasruddin (34), Bahwa geuchik meminta uang pembuatan sertifikat sebesar Rp 500 ribu, “Benar, uang tersebut dimita kepada masyarakat yang membuat sertifikat tanah, apabila tidak diberikan maka sertifikatnya ditahan.” Jelas Nasruddin.

Masyarakat berharap kepada aparat penegak hukum untuk menindak lanjuti perkara tersebut,” Kami berharap kepada aparat penegak hukum agar segera menindak lanjuti perkara ini, karena kami tidak ingin masyarakat terus dibodohi oleh para penguasa terutama dalam kasus ini,” harap kedua masyarakat tersebut.

Geuchik Gampong seneubok Pangou, Idris membenarkan pemungutan uang tersebut, dengan alasan untuk biaya administrasi. “Itu sudah dibahas di Jakarta, karena biaya tersebut untuk biaya adminstasi saat mengurus sertifikat tersebut ke kantor BPN Kota langsa dan hal itu merupakan hasil kesepakan bersama,” ungkap geuchik.

Sementara saat dikonfirmasi hal tersebut kepada Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Aceh Timur melaui pesan WhatsApp belum mendapatkan jawaban. Saat dihubungi melalui telepon celuler juga tidak dapat dihubungi.[.]

Continue Reading

Hukum

Polres Aceh Timur Amankan Puluhan Ton Kayu Illegal Logging

Published

on

KLIKSATU.CO.ID | KLIKSATU.CO.ID – Polres Aceh Timur berhasil mengamankan puluhan ton kayu olahan yang diduga hasil tindak pidana illegal logging di kawasan Simpang Jernih, Dalam Konferensi Pers yang di gelar di kantor Polsek Idi Rayeuk, kapolres menyebutkan jumlah total barang bukti yang di amankan sebanyak 203 batang kayu. Selasa (05/02/2019).

AKBP Wahyu Kuncoro, S.I.K, M.H, Kapolres Aceh Timur menyebutkan, pengungkapan kasus itu bermula adanya informasi dari masyarakat pada Senin (28/01/2019) yang menyebutkan telah terjadi tindak ilegaloging di sebuah hutan yang ada di Gampong Bedari, Kecamatan Simpang Jernih, Aceh Timur.

“Setelah medapatkan informasi tersebut, kami memerintahkan Kanit III Satreskrim Polres Aceh Timur dengan dibackup anggota Resmob untuk melakukan penyisiran.” Ujarnya.

Pada Selasa (29/01/2019) pagi, anggota kami menemukan lokasi kegiatan illegal logging serta didapatkan barang bukti ratusan balok kayu dari berbagai jenis. Namun di lokasi tidak ditemukanya pemilik kayu maupun pekerja. Diduga mereka melarikan diri mengetahui kedatangan anggota kami. Ungkap Kapolres.

Lebih lanjut Kapolres menjelaskan, “Proses pegefakuasian batang kayu ini terkendala alat trasnportasi untuk mengangkut barang bukti tersebut, Kanit III berkoordinasi dengan Kapolsek Simpang Jernih untuk meminta bantuan warga membuat rakit.” Katanya.

Hal ini dilakukan karena lokasi penemuan barang bukti kayu tersebut tidak bisa dilalui dengan kendaraan dan salah satu akses untuk mempermudah adalah dengan cara dihanyutkan ke sungai yang nantinya akan bermuara di sebuah gampong yang masuk wilayah hukum Polres Aceh Tamiang dari situlah kayu bisa diangkut dengan kendaraan.

“Banyaknya jumlah barang bukti dan minimnya anggota kami membuat perakitan kayu memerlukan waktu beberapa hari untuk menyelesaikanya.”Jelasnya.

Setelah sebagian kayu sudah berhasil dibuat rakit kemudian dihanyutkan di sungai Simpang Jernih dan bermuara di Gampong Sekerak Kanan, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang.

Sambil menunggu kayu yang lain, barang bukti yang sudah sampai dipinggir sungai untuk sementara dititipkan pada sebuah shawmil (kilang kayu) Mandiri yang tidak jauh dari menepinya kayu barang bukti tadi.

Dalam penitipan barang bukti tadi disertai Berita Acara Penitipan Barang antara pemilik kilang dengan kami (Polres AcehvTimur), dalam hal ini diwakili Kanit III Satreskrim Polres Aceh Timur, Ipda Rangga Setiyadi, S.TrK.

Lebih Lanjut Kapolres Mengatakan “Setelah terkumpul sebanyak 164 batang, pada Sabtu (02/02/2019) pagi kami geser dari lokasi penitipan untuk dibawa ke Polres Aceh Timur dan pada Minggu (03/02/2019) malam 39 batang juga kami geser dari lokasi penitipan. Sehingga jumlah total barang bukti yang kami amankan sebanyak 203 batang kayu.” Terangnya.

Selanjutnya kami akan berkoordinasi dengan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) III Wilayah Langsa untuk mengetahui jenis kayu sekaligus melakukan pengukuran tonase barang bukti yang sudah kami amankan.

Ada[pun jenis kayu yang di amankan dalam kasus ilegal loging ini, yakni kayu damar, kayu jati, kayu putih.

Sedangkan pemilik kayu atau pihak yang bertanggung pada kegiatan illegal logging tersebut masih masih dalam penyelidikan. Mudah-mudahan kita dapat mengungkap kasus tersebut. Pungkas Kapolres Aceh Timur AKBP Wahyu Kuncoro, S.I.K, M.H. [.]

Continue Reading

Hukum

Perampok Sadis di Aceh Timur di Bekuk Polisi

Published

on

KLIKSATU.CO.ID | ACEH TIMUR — Pelaku perampokan Nurmawati (59) ibu rumah tangga (IRT) warga Gampong (desa) Matang Bungong, Kecamatan Idi Timur, Aceh Timur, berhasil di ringkus oleh pihak kepolisian Polres Aceh Timur, hal ini di ungkap Kapolres Aceh Timur AKBP Wahyu Kuncoro SIK MH dalam konferensi pers, Rabu (30/01/2019)

Nurmawati (Korban) saat bepergian ke safari subuh di Masjid Al-Qubra Kuta Binjei Kecamatan Julok dengan mengendarai sepeda motor, di hadang oleh Zakir (35) pelaku warga Gampong Meunasah Tengoh, Kecamatan Pante Bidari,

“Selain meringkus tersangka, petugas juga mengamankan satu unit sepeda motor Honda Scoopy warna biru putih tanpa nomor polisi,” sebut Kapolres Aceh Timur, AKBP Wahyu Kuncoro, SIK, MH didampingi Wakapolres, Kompol Warosidi, SH, MH.

Kemudian lanjut Kapolres, berdasarkan pengakuan tersangka Zakir, sepeda motor yang dikendarainya didapat dari Zainuddin (22) dan Andi Alfulqan (25) keduanya warga Gampong Tanoh Anoe, Kecamatan Idi Rayeuk, Kabupaten Aceh Timur yang digadaikan sebesar Rp 1.500.000, dengan jaminannya adalah sepeda motor Honda Scoopy milik korban perampokan jamaah safari Sahat Subuh.

Selanjutnya, gabungan Opsnal Reskrim dan Intel Polres Aceh Timur, sekitar pukul 05.30 WIB berhasil mengamankan tersangka Zainuddin dan Andi Alfulqan di Gampong Tanoh Anoe, Kecamatan Idi Rayeuk, Kabupaten Aceh Timur, beserta satu unit sepeda motor Honda Vario 150 warna hitam, yang digunakan pelaku saat merampok safari Shalat Subuh.

Dalam penangkapan ini pihak kepolisian menyita barang bukti berupa uang tunai sebanyak Rp 295.000, satu bungkus ganja kering, 3 paket sabu serta barang bukti lainnya.

“Motif perampokan berdasarkan pengakuan pelaku, mereka merampok untuk berfoya-foya,” demikian pungkasnya.[•]

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

KLIKSATU CORNER

Advertisement

Facebook


Trending