Connect with us

Edukasi

Mahasiswa KPM IAIN Langsa Gelar Festival di 3 Kecamatan

Published

on

KLIKSATU.CO.ID | LANGSA – Kegiatan Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM ) kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Langsa tahap III tahun 2018 yang di tempat di Kota Langsa mengadakan kegiatan akhir yaitu Festival KPM yang di pusatkan di gedung DPD II KNPI Kota Langsa, berlangsung pada 22-26 november 2018. Kamis (22/11/2018).

Kegiatan Festival tersebut di buka Pemerintah Kota Langsa dalam hal ini di wakili oleh Abdullah Gade,M.Pd asisten II Pemerintahan Kota Langsa yang kerap di sampa dengan panggillan Waled (Ayah).

Dalam Sambutannya waled menyampaikan apresisasi sepenuhnya kepada mahasiswa KPM IAIN Langsa, semoga dengan apa yang di laksanakan oleh mahasiswa dapat membuahkan hasil, kita berikan nilai plus kepada para panitia yang mempersiapkan kegiatan selama empat hari ini.

Selanjutnya Irwansyah ketua panitia kegiatan Festifal mengatakan , ”kegaiatan ini adalah kegiatan gabungan tiga kecamatan yang menjadi wilayah tempat mahasiswa KPM, yaitu Langsa Lama, Langsa Barat dan Langsa Timur.” Ujarnya.

Kegiatan ini merupakan inisiatif dari para mahasiswa untuk mengadakan kegiatan gabungan.

”iya, untuk kali ini kita tidak mengadakan kegiatan perkecamatan, tetapi kita bergabung dengan tiga kecamatan dan mengadakan satu kegiatan bersama, dan ini merupakan inisiatif dari teman-teman, dengan mengadakan 9 cabang lomba.” Tuturnya.

Kemudian ia juga menambahkan dengan kegiatan gabungan ini para peserta lebih kompetitif, karena para peserta bukan hanya dari satu kecamatan saja.Proses pembukaan juga dimeriahkan dengan penampilan tarian ranup lampuan yang di pesembahkan oleh sanggar tari gampong mutia.

Adapun 9 cabang yang di perlombakan yaitu, baca puisi islami, Kaligrafi Khat Naskhi, Fashion Show, Tarian Kreasi, Pidato, Shalat Fardhu Kifayah, Azan, Catur dan Futsal KPM Cup. yang memperbutkan juara terbaik desa dan juara terbaik kecamatan.

Usai mengadakan pembukaan Festival KPM IAIN Langsa Tahap III, kegiatan di lanjutkan dengan Seminar Motovasi dengan menghadirkan Putra-putri Langsa yang berprestasi di kancah nasional dan internasional.

“Kita Hadirkan Putra terbaik langsa dalam kegiatan seminar motovasi, kita undang bang Mukhtar,A.Md ketua KNPI Langsa dan Bang Muslem,SH.I, MM anggota DPR-RI,” Ujar Irwansyah saat memandu kegiatan.

Sementara itu Fahrul Razi saat di wawancarai awak media mengatakan, tujuan seminar kita untuk para mahasiswa yang sedang melakukan kuliah pengabdian masyarakat di wilayah Kota Langsa, sehingga dengan adanya seminar tersebut kita beharap para peserta KPM bisa termotivasi untuk semakin berinovasi di desa-desa meski kegiatan pengabdian tersebut tinggal beberapa hari lagi.

Muslem DPR RI dalam penyampaian materinya mengajak para pemuda dan mahasiswa untuk berfikir kreatif, Bergerak lokal berfikir Nasional dan Internasional.

“Anak muda Aceh hari ini harus berkarya di tingkat Nasional dan memiliki jaringan di tingkat internasional, layaknya saya hari ini anak seorang pelaut dari tanah kelahiran alukumba Aceh Timur, melanjutkan kuliah ke Jakarta dan kini telah menjabat sebagai anggota DPR RI di periode,” ujarnya.

Lain halnya dengan ketua KNPI kota Langsa, ia menyemangati para peserta dengan motivasi bergerak untuk sukses, menurutnya pemuda kreatif inovatif dan solutif sangat di di butuhkan kota Langsa sebagai kota jasa.

“Hari ini jangan tanyakan apa yang Negera berikan kepada kita, akan tetapi tanyakan pada diri sendiri apa yang dapat kita berikan untuk Negera. Saya anak seorang petani garam kini dengan tekad dan kerja keras telah memimpin KNPI periode 2018-2021 dan menjabat sebagai direktur rumah sakit Chut Nyak dhin,” ujarannya.[•]

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Edukasi

Mahasiswa KPM IAIN Langsa Gelar Sosialisasi Bahaya Narkoba

Published

on

KLIKSATU.CO.ID | LANGSA — Mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Langsa tahap 3 yang melaksanakan tugas di Gampong Meurandeh Tengoh mengadakan sosialisasi bahaya narkoba terhadap anak-anak remaja di kalangan masyarakat. Jum’at (16/11/2018).

Kegiatan sosialisasi tersebut di laksanakan di kantor Geuchik gampong setempat pada pukul 08.30 WIB. Dengan Pemateri Ipda. Sritongga Babin Kamtibmas.

Sosialisasi yang di selenggarakan oleh mahasiswa KPM IAIN Langsa tahap 3 di respon baik oleh kaum pemuda dan pemudi Gampong setempat.

Nuryakin Geuchik Gampong Meurandeh Aceh mengatakan, “Kegiatan ini sangat bermanfaat di selenggarakan di Gampong Meurandeh Tengoh, dengan harapan dapat meminimalisir terjadinya penyalahgunaan narkoba di Gampong kita,” ujarnya.

Selanjutnya ia mengatakan bahwa satu hari sebelum di gelar kegiatan sosialisasi ini, di Gampong Meurandeh Tengoh telah terjadi penangkapan salah seorang pemuda yang terlibat penyalahgunaan narkoba.

“Kita juga sangat berterimakasih kepada mahasiswa KPM yang memiliki ide cemerlang telah melaksanakan kegiatan ini, semoga kegiatan ini dapat bermanfaat untuk kita dan berbuah pahala untuk mahasiswa KPM IAIN Langsa,” demikian katanya.

Sementara itu, Desnandra Faiz Noor Ahsani ketua panitia pelaksana kegiatan sosialisasi mengatakan, ” Tujuan di selenggarakan acara ini, kita melihat maraknya penyalahgunaan narkoba di Indonesia, khususnya di kalangan remaja. Oleh karena itu, kita perlu mengetahui bahaya dan cara menghindari penyalahgunaan narkoba,” katanya.

Ipda. Sritongga dalam penyampaian materi sosialisasi ia mengatakan, “Kalau tidak mau gila jangan pakai narkoba, karena saat pertama kali menggunakan narkoba kita akan ketergantungan, hati berdebar-debar, ingin terus dan terus sehingga membahayakan kesehatan dan berdampak negatif,” ujarnya.

Efektif negatif yang timbul pun beragam, semisal kehabisan uang untuk mendapatkan uang pelaku penyalahgunaan narkoba mencuri, merampok.

“Pengguna Narkoba itu nantinya ingin mencari jati diri, orang yang labil maka kepengen hebat, berawal dari rokok kemudian ganti ke ganca, nambah ke sabu-sabu, heroin dan pil ekstasi, ini sangat berbahaya,” ujarnya.

Selanjutnya ia mengatakan bahwa penyalahgunaan narkoba di jika tertangkap, berdasarkan Undang-undang paling singkat di tahan 4 tahun penjara dengan denda 100 juta rupiah dan maksimal seumur hidup.

Kegiatan sosialisasi bahaya narkoba untuk anak-anak remaja di kalangan masyarakat turut di hadiri oleh, Hamdani supervisor KPM Gampong Meurandeh Tengoh, Nuryakin Geuchik Gampong Meurandeh Tengoh, ketua pemuda dan tamu undangan.[•]

Continue Reading

Daerah

Korek Sosialisasi Gerakan Literasi Untuk Pelajar

Published

on

KLIKSATU.CO.ID | LANGSA — Sejumlah mahasiswa, pemuda dan pelajar yang tergabung dalam komunitas relawan kreatif (Korek) Langsa mengadakan sosialisasi gerakan Literasi kepada anak-anak di Gampong Kebun Ireng, Kecamatan Langsa Lama, Kota Langsa. Minggu (11/11/2018).

Program ini di gagas Korek Langsa dengan tema ‘Membangun Budaya Literasi Sejak Dini’.

Dalam sosialisasi tersebut Korek bersama dengan Pelajar Islam Indonesia (PII) di dampingi oleh sejumlah mahasiswa kampus Institut Agama Islam Indonesia (IAIN) Langsa yang melaksanakan Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) di Gampong setempat.

Ketua Korek, Arif Rahmadan mengatakan, kegiatan Sosialisasi Gerakan Literasi merupakan kegiatan mingguan dan berkelanjutan.

“Insyaallah kita mengadakan kegiatan Sosialisasi ini secara rutin, dengan mengunjungi sarana pendidikan, seperti halnya sekolah, TPA. gerakan ini kita fokuskan ke tempat-tempat pedalaman,” ujarnya.

Selanjutnya ia mengatakan, Komunitas Relawan Kreatif terus berupaya melahirkan generasi sukarelawan untuk melakukan gerakan Literasi dalam mencerdaskan anak bangsa. Hal ini serupa dengan program pemerintah Aceh dalam mewujudkan ‘Aceh Carong’.

Kemudian di sampaikan lagi ketua Korek, Kehadiran Komunitasnya di sambut baik oleh Geuchik Gampong setempat.

“Kehadiran kita di sambut baik oleh Geuchik Gampong Kebun Ireng, dalam melakukan sosialisasi ini, terlebih terlihat antusias dari warganya,” ujarnya lagi.

Dalam sosialisasi tersebut korek membagi dua ruang kelas yang ada di TPA Gampong setempat, sementara mentor dalam sosialisasi tersebut di lakukan oleh Tim komunitas.

Adapun Tim komunitas yang melakukan sosialisasi yakni, Arif Rahmadan, Bustami Adoe, Teuku Abit, Irwansyah, Fitri Yana, Mawadah Ulya dan Nisa.

Sementara itu Irwansyah menambahkan, dalam sosialisasi gerakan Literasi ini kita kemas dalam sebuah kegiatan, belajar sambil bermain.

“Sosialisasi ini kita fokuskan kepada anak-anak agar dapat meningkatkan kualitas pendidikan melalui semangat membaca dan menulis, sehingga pendidikan anak-anak Aceh semakin meningkat,” katanya.

Selanjutnya ia mengatakan, ‘Membaca Jembatan Ilmu’, dengan membaca kita dapat meningkatkan kualitas ilmu pengetahuan, kemudian dengan menulis kita dapat merekam akan apa yang kita pelajari.

“Seperti kata imam Al Ghazali, ‘Jika kamu bukan anak seorang raja atau anak ulama besar maka jadilah penulis’, meskipun kita bukan siapa-siapa jika ingin di kenal dunia maka jadilah penulis,” katanya.

Dengan demikian, tambahnya, membaca, menulis dan memahami informasi menjadi kebutuhan setiap orang, maka dari itulah perlu adanya penanaman pemahaman pentingnya Literasi kepada anak-anak, dalam artian penerapan literasi harus di mulai sejak dini. [.]

Continue Reading

Edukasi

Mahasiswi Universitas Serambi Mekkah Lakukan Study Tour ke Ruang Memorial Perdamaian Aceh

Published

on

By

KLIKSATU.CO.ID | BANDA ACEH — Sejumlah mahasiswi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Fakultas Agama Islam, Universitas Serambi Mekkah melakukan study tour ke Ruang Memorial Perdamaian Aceh, Kesbangpol Provinsi Aceh, Jum’at (2/11/2018).

Kunjungan study tour tersebut dilakukan guna mempelajari sejarah konflik, dan perdamaian yang pernah terjadi di Aceh.

Dalam kunjungan tersebut, turut serta didampingi oleh dosen Universitas Serambi Mekkah, Dr. Wahyu Khafidah, MA, dan turut diterima oleh perwakilan Kesbangpol Aceh, Kurator Muhammad Mardian.

Dalam kunjugan tersebut ada beberapa agenda yang dilakukan, yang pertama dimulai dengan seluruh mahasiswi mengisi absensi daftar hadir, kemudian dilanjutkan dengan melihat bukti senjata yang sudah dipotong-potong pasca perjanjian damai. Senjata ini dimasukkan kedalam sebuah kotak kaca di tengah ruangan. Kotak kaca ini berisikan potongan senjata bekas konflik dari jenis M-16 dan AK 56. Ada juga dua buah granat manggis yang sudah dikosongkan isinya. Potongan senjata ini berstatus pinjam pakai dari Kodam Iskandar Muda.

Dalam penjelasannya Kurator menyampaikan, asal mula terjadinya konflik. Momentum perjanjian damai MOU Helsinki ini terjadi setelah Aceh luluh lantak diterjang bencana dahsyat tsunami pada 26 Desember 2004.

Akibat bencana itu, ratusan ribu orang tewas. Perjanjian damai yang terjadi pada masa kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini dicetuskan oleh Wakil Presiden saat itu, Jusuf Kalla.

“Perjanjian itu dimediatori mantan Presiden Finlandia, Martti Ahtisaari melalui Crisist Management Initiative (CMI) yang dipimpinnya. Pihak GAM diwakili oleh Malik Mahmud Al Haytar, sementara pemerintah RI diwakili oleh Menteri Hukum dan HAM Hamid Awaludin,” katanya.

Kurator menyebutkan Ruang Memorial Perdamaian ini dibuat untuk memberikan informasi terkait sejarah konflik dan perdamaian Aceh dalam sebuah ruang multiguna dan multilayanan. Ukurannya hanya sekitar 8×10 meter.

Awalnya ruangan itu merupakan ruang kerja bidang penanganan konflik yang disulap menjadi sangat apik. Di ruangan inilah ditampilkan berbagai alat peraga audio visual berupa foto, video, film, buku-buku, hasil penelitian dan artefak di masa konflik.

Dibilah kanan menempel gambar besar yang dicetak di bahan vinyl MMT berisikan informasi mengenai jalan panjang perdamaian di Aceh. Dengan melihat gambar ini secara garis besar pengunjung akan mengetahui berbagai peristiwa dan tragedi yang terjadi di Aceh. Sejak masa Portugis, Belanda, masa konflik Gerakan Aceh Merdeka (GAM), pemberlakuan darurat operasi militer, darurat militer, hingga penandatanganan MOU Helsinki pada 15 Februari 2005 silam di Finlandia. Tanggal yang setelahnya ditetapkan sebagai hari perdamaian Aceh.

Diketahui, ruangan ini bisa digunakan untuk kegiatan publik tanpa dipungut biaya apapun. Entah itu untuk diskusi, workshop, atau training, selama masih ada kaitannya dengan isu-isu perdamaian.

Belasan foto ditata dengan apik merapat ke dinding. Disisi timur meja ada sebuah partisi dari kayu berukir yang memajang dua foto sekaligus menjadi penyekat ruangan. Ada sebuah kalimat yang berhasil memancing rasa penasaran dan diskusi panjang dari para blogger. “Senjata bukan tanda damai,” begitu bunyi tulisan tersebut. Di belakang partisi ini ada dua bilik kecil yang memuat sejumlah foto. Di antaranya foto yang menerangkan isi perjanjian MoU Helsinki dan Ikrar Lamteh.

“Damai ini lahir dari proses perundingan yang panjang. Ada yang mengatakan damai ini lahir karena tsunami, padahal peristiwa tsunami itu mengetuk hati orang-orang yang bertikai ketika itu sehingga mempermudah proses perundingan, sebab perundingan untuk perdamaian Aceh itu sendiri sudah dilakukan dari sebelum tsunami,” kata Muhammad Mardian.

Cikal Bakal Lahirnya Ruang Memorial Perdamaian

Ruang Memorial Perdamaian ini, kata dia, merupakan wujud dari salah satu tugas pokok lembaga Kesbangpol tersebut dalam menjaga keberlangsungan perdamaian Aceh.

Gagasan dari kepala Kesbangpol Aceh sebelumnya, ruangan ini dibuat pertama kali pada tahun 2013 dan rampung pada 2015 lalu, dan tahun 2015 lalu sudah dibuka untuk umum hingga saat ini.

Anggaran diperkirakan dihabiskan untuk membuat ruangan tersebut sekitar Rp 200 juta. Sementara untuk konten seperti koleksi foto, banyak didukung oleh pihak eksternal seperi kalangan LSM, diantaranya, lembaga achehnese civil society task force (ACSTF), dan juga ada foto karya Murizal Hamzah.

Ruang ini diharapkan bisa menjadi pusat penelitian penyelesaian konflik dan perdamaian di Aceh. Kedepan semoga ruang memorial ini mampu menghasilkan sebuah museum perdamaian. Kemudian ruangan ini mampu mendapatkan koleksi yang ada sekarang mewakili seperti apa wajah Aceh masa perang hingga damai.

Sesuai namanya, keberadaan ruang ini diharapkan menjadi perekat ingatan bahwa perdamaian itu sesuatu yang mahal. Menghabiskan satu setengah jam waktu di dalam ruangan itu rasanya terlalu singkat. Membuat kita sadar hanya ketakutan dan kekhawatiranlah yang membuat segala sesuatu menjadi lama dan tak menyenangkan.

Dua hal yang tak perlu diwariskan kepada generasi selanjutnya. Konflik membuat kita hilang pendidikan, banyak pengungsi dan banyak korban jiwa baik dari pihak TNI, GAM, dan masyarakat sipil yang tidak bersalah.

Diakhir pertemuan diadakan diskusi, mahasiswa menyampaikan pertanyaan-pertanyaan yang menganjal dalam fikiran mereka. Salah satu pertanyaan mereka adalah mengenai penggabungan Aceh dengan Sumatera Utara menjadi satu provinsi, mengenai Wali Nanggroe dan lain-lainnya.

Wahyu Khadifah selaku dosen pembimbing mengucapkan terima kasih kepada Kesbangpol Aceh, yang dalam hal itu diwakili oleh Mardian yang telah memberikan edukasi mengenai konflik Aceh hingga terjadinya perdamaian Aceh setelah beberpa kali terjadi perundingan.

Dirinya berharap terakhir konflik di Aceh jangan sampai terjadi kembali, dirinya mengajak agar masyarakat Aceh merawat perdamaian yang sudah terjalin ini.

Sementara itu, Dekan Fakultas Agama Islam, Universitas Serambi Mekkah, Dr. Andri Nirwana, AN, M.Ag menyampaikan bahwa study tour yang dilakukan oleh mahasiswi PIAUD USM sangat bermanfaat.

Selain daripada menjalin silaturrahmi antara lembaga pemerintahan dengan lembaga pendidikan, juga terdapat banyak sekali nilai-nilai edukasi dan pembelajaran yang bermanfaat bagi mahasiswi PIAUD.

Andri menekankan bahwa tantangan terbesar kita saat ini adalah memastikan perdamaian di Aceh menjadi sebuah perdamaian yang abadi. [•]


Editor: Saiful Haris

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

KLIKSATU CORNER

Advertisement

Facebook


Trending