Connect with us

Budaya

‘Rabu Abeh’, Adat Pulo Aceh yang Masih Terjaga

Published

on

KLIKSATU.CO.ID | ACEH BESAR — Daerah Aceh memiliki berbagai macam ragam budaya dan adat istiadat yang masih terpelihara sampai sekarang, seperti ‘Rabu Abeh’ yang terdapat di Kecamatan Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar. Rabu Abeh diadakan pada bulan Safar di Gampong Gugop, Pulau Breuh, Rabu (07/11/2018).

Menurut salah seorang tokoh Pulo Aceh, Tgk Syukri menyampaikan kepada wartawan Kliksatu.co.id, bahwa adat Rabu Abeh merupakan adat penolakan bala yang diadakan setiap tahun sekali pada akhir Rabu Bulan Safar. Tujuannya sebagai penolakan bala serta menyambut bulan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW.

Mantan Keuchik Teunom ini menambahkan, Bulan Safar sebagaimana kita ketahui bersama merupakan bulan perubahan cuaca, sehingga banyak penyakit yang datang seperti demam, malaria dan lain-lain. Dengan diadakan doa dan kanduri diakhir Rabu bulan Safar, semoga Allah menjauhkan Bala.

Katanya, kenapa Rabu Abeh disebut Rabu terakhir, kan masih banyak rabu-rabu lain? karena diadakan diakhir Rabu bulan Safar, sehingga berakhirlah Rabu dibulan Safar tersebut. Prosesi Rabu Abeh hanya sebatas kanduri masak daging, makan dan berdoa bersama yang dipimpin oleh Tgk imum gampong setempat.

Harapannya, dengan pelaksanaan Rabu Abeh ini, semoga Allah menjauhkan segala marabahaya (Bala) dari masyarakat, khususnya masyarakat Pulo Aceh. [•]


Wartawan: Sahar | Editor: Saiful Haris

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Budaya

Medya Hus Berikan Pembekalan Pada Peserta Kemah Seniman

Published

on

By

KLIKSATU.CO.ID | ACEH BESAR — Seniman Tradisi Aceh Medya Hus membekali peserta Kemah Seniman Ke – 3 Dewan Kesenian Aceh (DKA) Kabupaten Aceh Besar di Lhoknga. Seniman yang populer dengan syair spontanitasnya ini disambut antusias peserta di hari terakhir pelaksanaan Kemah Seniman ini, Minggu (28/10/2018) sore.

Sebagai pemateri, Medya Hus dalam paparannya mengajak para peserta untuk mencintai seni tradisi dan mengenalnya lebih jauh seni dan budaya Aceh.

Menurut dia, seni tradisi merupakan identitas seni Aceh yang hampir punah di makan zaman, sebab itu perlu digalakkan kembali kepada para generasi muda terutama di gampong-gampong yang ada di Aceh Besar.

“Apalagi di Aceh Besar ada kesenian khas tersendiri yang tidak dimiliki oleh kabupaten lain di Aceh. Contohnya tari Likok Pulo dan Ratoh Taloe ini perlu diajarkan agar tidak punah,” ujar Syeh yang juga bisa membawakan syair spontanitas dalam bahasa Indonesia ini.

Syeh Medya menjelaskan melalui sanggar Seueng Samlakoe yang ia pimpin selama ini fokus pelestarian seni tradisi Aceh seperti Ca’e Aceh, Seumapa, Ratoh, Nazam dan Hikayat. Selain pengembangan seni tradisi grupnya juga punya anggota yang bisa mementaskan Cagok (lawak-red) Aceh yang sudah tampil di berbagai pementasan di seluruh Aceh.

Seni tradisi ini sebutnya perlu diregenerasi secara terus menerus, terutama kepada para anak muda supaya jangan salah kaprah. Jika hal ini tidak dilakukan, para generasi Aceh selanjutnya tidak akan mengenal lagi mana seni tradisi dan mana kreasi baru.

Sebab itu, ia mengajak para peserta Kemah Seniman bisa mengenalkan kembali seni ini secara menyeluruh kepada masyarakat di gampong-gampong yang ada di Aceh Besar.

“Ketua sanggar kecamatan yang baru terpilih dalam kegiatan kemah seniman harus bisa menghidupkan kembali seni tradisi ini dan kami siap menfasilitasi nya,” tegas Medya Hus.

Dalam kesempatan itu, Medya Hus mengungkapkan bahwa masyarkat Aceh saat ini harus bisa menempatkan seni yang dipentaskan sesuai dengan kebutuhannya.

“Jangan ketika ada orang meninggal kita menyanyikan syair bahagia dan ketika ada orang pesta kita menyanyikan syair kesedihan. Sesuaikan dengan tempat dan kondisinya,” ujar Medya Hus lagi.

Di samping itu dialek bahasa Aceh yang benar juga perlu dikenalkan kembali kepada para generasi muda. Ia berharap pemuda dan pemudi Aceh tidak malu berbahasa Aceh, karena sebutnya bahasa menunjukkan bangsa. Selama ini, Ia merasa bangga bisa melestarikan seni budaya ini bagi masyarakat luas.

“Saya sebagai salah satu pemangku adat di Aceh juga terus berupaya mensosialisasikan hal ini sebagai bentuk kepedulian kita terhadap adat istiadat dan kebudayaan Aceh ini” sebutnya.

Dirinya menyebutkan Aceh Besar memiliki banyak sumber daya seni yang bisa dikembangkan. Terlebih Aceh Besar punya Dewan Kesenian yang selalu aktif menggelar kemah seniman ini tiap tahun sebagai bentuk pelestarian seni budaya. Ia berharap pengurus DKA Aceh Besar ke depan bisa terus menggali potensi-potensi yang ada di gampong-gampong, termasuk dalam hal pembinaan sanggar kecamatan.

Ketua Panpel Kemah Seniman Ke 3 DKAB, Mariadi ST MM, mengatakan Kemah Seniman 2018 ini diikuti 100 peserta utusan dari 23 kecamatan yang berlangsung selama 3 hari di Lhoknga mulai 26 hingga 28 Oktober 2018 dan dibuka oleh Bupati Aceh Besar Ir Mawardi Ali, Jumat (26/10/2018) malam.

“Pemateri selain Medya Hus juga kami hadirkan dari unsur Forkopimda Aceh Besar, Ketua DKA Provinsi Aceh, dan sejumlah pakar seni,” demikian Mariadi. [•]

Continue Reading

Budaya

Majelis Adat Aceh Selaraskan Program Kerja Demi Aceh Meuadab

Published

on

By

KLIKSATU.CO.ID | BANDA ACEH — Majelis Adat Aceh (MAA) Provinsi Aceh, mengadakan rapat kerja penyusunan pengendalian dan evaluasi program MAA tahun 2018, dengan mengangkat tema “kita selaraskan program dan kegiatan untuk mewujudkan Aceh meuadab,” Banda Aceh, Senin (29/10/2018).

Kepala Sekretariat MAA Provinsi Aceh Usman Umar, S.Sos, M.Si kepada Kliksatu.co.id menyampaikan, rapat kerja yang digelar guna mensinkronisasikan program-program kerja MAA Provinsi Aceh bersama MAA kabupaten/kota se-Aceh dalam jangka waktu lima tahun kedepan.

Lanjutnya, keselarasan program kerja dan kegiatan yang akan dilaksanakan oleh MAA nantinya, juga merupakan bagian daripada program Gubernur Aceh yaitu ‘Aceh Meuadab’.

“Yakni mengembalikan khittah Aceh sebagai Serambi Mekkah melalui implementasi nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari,” kata Usman saat dijumpai pada sela-sela acara, Hotel Grand Nanggroe, Banda Aceh (29/10/2018).

Ketua MAA Provinsi Aceh H. Badruzzaman Ismail, SH, M.Hum menyampaikan bahwa, budaya Aceh merupakan hasil proses interaksi internal maupun eksternal masyarakat dengan sesamanya, beserta lingkungan alam sekitarnya, yang menimbulkan berbagai paguyuban dalam satu kesatuan budaya Aceh.

Perkembangan sosiologis kehidupan budaya bangsa mencakup berbagai nilai-nilai hukum yang hidup di dalam ikatan kolektif suatu masyarakat.

“Dan diturunkan secara lisan dari satu generasi ke generasi lain. Dengan demikian persoalan hukum negara versus hukum lokal, atau hukum adat pada hakekatnya adalah perjumpaan antara hukum tertulis dengan hukum lisan,” kata Badruzzaman.

Dalam paparannya, Badruzzaman lebih menyampaikan tentang fungsi kelembagaan adat dalam struktur budaya adat Aceh.

Menurutnya, lembaga adat di Aceh memiliki fungsi dan kedudukan yang sangat strategis, dan berpengaruh dalam membangun dan membina kehidupan masyarakat.

Sementara itu, Ketua Panitia Sanusi M. Syarief, SE, M.Phil mengatakan acara yang berlangsung selama dua hari itu berlangsung dari tanggal 29 sampai 30 Oktober 2018.

Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh perwakilan MAA sebanyak 22 kabupaten/kota se-Aceh, sementara MAA Kabupaten Aceh Jaya dikabarkan berhalangan untuk hadir. [•]

Continue Reading

Budaya

H. Badruzzaman Ismail Terpilih Kembali Sebagai Ketua MAA

Published

on

KLIKSATU.CO.ID | BANDA ACEH — Musyawarah Besar (Mubes) Majelis Adat Aceh (MAA) Provinsi Aceh yang diselenggarakan pada 23 sampai 24 Oktober 2018 di Hotel Grand Nanggroe, kembali menetapkan H. Badruzzaman Ismail sebagai ketua yang dipilih secara aklamasi.

Mubes yang dihadiri oleh pengurus dan pemangku adat, serta perwakilan MAA kabupaten/kota seluruh Aceh dan provinsi lain di Indonesia berlangsung sukses, setelah sebelumnya dibuka oleh Sekda Aceh Drs. Dermawan dan sambutan Wali Nanggroe Aceh Malek Mahmud Al Haytar.

Pasca sidang pleno, presidium sidang memberikan kesempatan pada peserta forum untuk mengusulkan beberapa nama yang nantinya akan dipilih bersama untuk menjadi Ketua MAA periode 2019-2023. Namun, peserta forum seluruhnya sepakat melakukan aklamasi dengan mengusung kembali H. Badruzzaman Ismail sebagai ketua.

Diketahui, alasan yang hampir sepenuhnya senada diberikan peserta Mubes mengingat sosok Badruzzaman memiliki syarat dan masih layak menahkodai lembaga adat tersebut.

Dalam sambutannya, Ketua terpilih berkomitmen untuk meneruskan beberapa program MAA yang telah berhasil, dan akan melakukan serta menambah beberapa program baru yang bersifat aksi untuk kemajuan adat istiadat serta bernilai di tengah masyarakat.

Badruzzaman menyampaikan ada beberapa masalah penting dalam adat Aceh, yaitu mengenai cara sebuah adat dan budaya dalam beradaptasi dengan perkembangan zaman.

“Adat dan budaya itu sangat dinamis, jadi dia tidak kaku. Kita berpegang pada nilainya sebuah adat, misalnya perempuan Aceh memakai jilbab, namun soal model jilbab, itu boleh berubah sesuai zaman,” ujarnya.

Menurutnya, banyak permasalahan dalam kehidupan masyarakat yang akan menjadi perhatian MAA. Karena menyangkut budaya dan prilaku masyarakat.

“Misalnya menghentikan penggunaan narkoba, serta budaya dalam berdagang yang sudah berubah. Karena saat ini banyak pedagang yang menggunakan formalin untuk barang dagangannya,” katanya.

Menurut Badruzzaman, hal itu merupakan prilaku yang merugikan orang lain dan tidak ada dalam budaya Aceh. [•]

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

KLIKSATU CORNER

Advertisement

Facebook


Trending