Connect with us

Edukasi

Umar bin Khattab, Sang Penakluk yang Tewas Ditikam Budak Persia

Published

on

KLIKSATU.CO.ID — Salah satu keberhasilan dakwah Rasulullah adalah mampu membuat orang-orang yang semula menentangnya berbalik menjadi pendukung setia. Ada beberapa sahabat Rasulullah yang melakoni takdir macam itu, salah satunya Umar bin Khattab. Kelak, setelah Rasulullah wafat, sosok yang dikenal tegas ini menjadi khalifah menggantikan Abu Bakar.

Watak tegas Umar serupa bapaknya, Khattab. Sang bapak pernah mengusir Zaid, anak saudaranya alias sepupu Umar, karena ia menjadi pengikut ajaran monoteisme Nabi Ibrahim yang menentang berhala.

Dalam Muhammad Sang Nabi: Sebuah Biografi Kritis (2003), Karen Amstrong mencatat bahwa Zaid dikenal masyarakat karena secara terbuka mengutuk penyembahan berhala dan mencemarkan adat kebiasaan yang telah dilakukan secara turun-temurun itu.

“Sikap dan pendiriannya yang demikian ini mengakibatkan rakyat menentangnya, dan di antara musuh-musuhnya, yang paling kuat dan tidak berbelas kasih adalah Khattab, ayah Umar,” tulis Amstrong.

Sikap Khattab yang kerap menyulitkan Zaid membuatnya terpaksa melarikan diri ke Gua Hira, meski sesekali ia tetap berkunjung ke Makkah secara diam-diam.

Penentangan terhadap monoteisme yang dilakukan bapaknya, dilakukan juga oleh Umar. Saat Rasulullah berdakwah di Makkah, Umar menjadi salah satu penentang yang paling keras. Hal ini membuat Rasulullah berdoa agar salah satu dari dua Umar menjadi pendukungnya.

“Ya, Allah, kuatkanlah Islam dengan salah satu dari dua Umar,” ucap Rasulullah.

Dua Umar yang dimaksud adalah Amr bin Hisyam alias Abu Jahal, dan satu lagi adalah Umar bin Khattab. Beberapa tahun kemudian, keinginan Rasulullah itu terkabul: Umar memeluk Islam dan menjadi salah satu sahabat Nabi yang paling dekat.

Sebelum Umar memeluk Islam, ada sebuah kisah terkenal yang menunjukkan bagaimana kerasnya Umar dalam menentang agama baru itu.

Masih dalam buku yang ditulis Karen Amstrong, disebutkan bahwa sekali waktu Umar berniat membunuh Rasulullah. Ia menyusuri jalanan Makkah menuju sebuah rumah di bukit Safa sambil membawa pedang. Rumah tersebut adalah tempat Rasulullah berada.

Sementara saat Umar pergi hendak membunuh Rasulullah, saudarinya yang bernama Fatimah, yang menikah dengan Sa’id (anak Zaid sepupu Umar), mengundang Khabbab bin al-Arat, seorang pandai besi, untuk membacakan ayat-ayat Alquran. Keduanya memang telah menjadi Muslim.

“Dalam perjalanannya menuju bukit Shafa, Umar didekati seorang Muslim dari klannya. Orang itu berusaha membelokkannya dari tujuan membunuh Nabi. Dia menyuruh Umar pulang dan menyaksikan apa yang tengah terjadi di rumahnya sendiri,” tulis Amstrong.

Umar bin Khattab kemudian kembali ke rumahnya. Saat ia memasuki jalan menuju rumah, ia mendengar ayat-ayat Alquran yang dilantunkan Khabbab bin al-Arat. Mengetahui kedatangan Umar, sang pelantun Alquran buru-buru bersembunyi.

“Suara apa itu?!” serunya sambil memasuki rumah.

Syibli Nu’mani dalam Umar bin Khattab yang Agung (1994) mengisahkan Fatimah menjawab pertanyaan Umar itu. Fatimah mengatakan suara itu bukan apa-apa dan tidak ada artinya.

“Jangan mencoba menyembunyikan apapun dariku. Aku telah mengetahui segala sesuatunya. Aku telah mendengar bahwa engkau berdua telah ingkar agama,” bentak Umar.

Umar kemudian menyerang Fatimah dan suaminya. Ia memukuli saudarinya sampai jatuh ke tanah dan berdarah. Mengetahui Fatimah terluka, Umar menghentikan perbuatannya.

“Umar! Lakukan apa yang kau kehendaki, Islam tidak akan pernah lepas dari hati kami,” ucap Fatimah.

Menurut Karen Amstrong, Umar kemudian memungut manuskrip Alquran yang ditinggalkan Khabbab. Sementara dalam catatan Syibli Nu’mani, Umar meminta Fatimah untuk menunjukkan apa yang tadi ia dengar. Lalu Fatimah menyodorkan manuskrip Alquran yang sebelumnya ia sembunyikan.

Umar yang yang dapat membaca dan menulis dengan fasih itu lalu mulai membaca ayat-ayat pembuka dalam surat Thaha.

“Betapa indah dan agungnya ucapan ini!” gumamnya.

Itulah momen ketika Umar tergerak dan mulai tertarik kepada agama yang dipeluk saudarinya. Ia lalu meraih pedangnya dan berlari menuju bukit Safa untuk menemui Rasulullah.

Sesampainya di tempat yang dituju, Rasulullah segera menarik jubah Umar sambil bertanya, “Apa yang telah membawamu kemari, hai anak Khattab?”

Umar menjawab, “Wahai Rasulullah, aku datang kepadamu untuk percaya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan pesan yang dibawanya dari Allah.”

Hijrah ke Yatsrib

Setelah masuk Islam, tidak seperti kaum Muslimin lain yang sembunyi-sembunyi dalam memeluk keyakinan baru mereka, Umar justru terang-terangan mengumumkan keislamannya di depan kaum Quraisy yang menentang dakwah Rasulullah.

Ia memang sosok yang disegani, sehingga para penentang dakwah Rasulullah tidak ada yang berani menyentuhnya. Hal ini membuat kaum Muslimin yang semula tidak berani melaksanakan salat di dekat Kakbah menjadi leluasa beribadah di sana.

“Ketika Umar memeluk Islam, ia berperang dengan Quraisy sampai ia memenangkan perjuangan itu demikian jauh sehingga ia masuk Ka’bah di mana ia salat dan kita bersamanya,” kata Abdullah bin Mas’ud seperti dikutip Muhammad Husain Haekal dalam Umar bin Khattab (2002).

Keberanian Umar juga tergambar saat kaum Muslimin hijrah ke Yatsrib atau yang kemudian bernama Madinah. Mereka berangkat diam-diam karena menghindari gangguan kaum Quraisy yang tak menghendaki ajaran Islam.

Ali bin Abi Thalib, seperti dikutip Husain Haekal, menyebutkan bahwa ketika semua kaum Muhajirin (Muslim Makkah yang melakukan hijrah) melakukannya secara diam-diam, Umar justru melakukannya dengan terang-terangan sambil membawa pedang dan menyelempangkan busur panah. Sementara tangannya menggenggam anak panah dan sebatang tongkat komando.

Sebelum hijrah, ia pergi ke Kakbah melakukan tawaf, sementara orang-orang Quraisy berada diberanda Kakbah. Ia tawaf sebanyak tujuh kali, menuju Maqom Ibrahim, dan salat. Kepada kaum Quraisy yang menentang Islam, yang ia datangi satu-persatu, Umar berkata:

“Wajah-wajah celaka! Allah menista orang-orang ini! Barang siapa ingin diratapi ibunya, ingin anaknya menjadi yatim atau istrinya menjadi janda, temui aku di balik lembah itu.”

Namun Husain Haekal menambahkan bahwa cerita Umar tersebut tidak ada dalam kisah yang diriwayatkan Ibnu Hisyam, Ibnu Sa’d, dan at-Tabari. Menurut mereka, Umar berangkat hijrah secara diam-diam, sama seperti kaum Muslimin lainnya.

“Dia melakukan itu [hijrah secara diam-diam] bukan karena lemah atau takut, yang memang tak pernah dikenalnya selama hidupnya, tetapi dia laki-laki yang penuh disiplin. Dia mengikuti jemaah dan meminta yang lain juga mengikuti mereka,” tulis Husain Haekal.

Perang dan Penaklukan

Dalam perjalanan Umar sebagai seorang Muslim, bersama Rasulullah ia turut dalam pelbagai peperangan antara kaum Muslimin dengan para penentang mereka. Umar terlibat dalam Perang Badar, Perang Uhud, Perang Khandaq, Perang Khaibar, dan Perang Hunain.

Perang Badar yang dimenangkan kaum Muslimin sempat melahirkan perbedaan pendapat soal perlakuan terhadap para tawanan. Abu Bakar berpendapat untuk melepaskan para tawanan perang harus melalui mekanisme uang tebusan.

Sementara Umar dengan tegas menyatakan bahwa para tawanan sepatutnya dipenggal lehernya, dengan ketentuan setiap Muslimin memenggal kerabatnya sendiri.

“Umar menentang [pendapat Abu Bakar] dan menyatakan bahwa pertalian keluarga tidak harus berurusan dengan masalah-masalah mengenai kepentingan Islam yang vital,” tulis Syibli Nu’mani dalam Umar bin Khattab yang Agung.

Pada akhirnya, pendapat Abu Bakar lah yang disetujui Rasulullah.

Sementara dalam Perang Uhud yang berakhir dengan kekalahan kaum Muslimin, Umar termasuk dalam 30 orang sahabat yang melindungi Rasulullah yang terluka saat kaum Quraisy memburunya di celah bukit Uhud.

“Umar dan beberapa orang Muhajirin serta Ansar menerjang ke depan dan menghalau kembali para penyerbu,” imbuh Syibli Nu’mani.

Pada masa kekhalifahan Abu Bakar, ekspedisi ke pelbagai wilayah telah dilakukan tapi masih dalam tahap awal. Sampai akhirnya khalifah pertama pengganti Rasulullah tersebut meninggal dunia.

Umar yang menjadi khalifah kedua meneruskan apa yang telah dilakukan khalifah pendahulunya. Di masa kekhalifahannya, Islam berhasil menaklukkan Irak, Suriah, Yerusalem, Persia, Mesir, dan lain-lain.

Subuh Terakhir dalam Hidup Umar

Pada tahun 23 Hijriyah atau 644 Masehi, di Madinah terdapat budak Persia bernama Firoz atau Fairuz yang nama keluarganya adalah Abu Lu’lu’i atau Abu Lu’lu’ah. Dialah orang yang membunuh Umar. Dalam pelbagai kisah yang menceritakan pembunuhan terhadap khalifah kedua tersebut, nama pembunuh yang kerap dipakai adalah Abu Lu’lu’ah.

Menurut sebagian sumber, motivasi Abu Lu’lu’ah membunuh Umar adalah dendam atas ditaklukkannya Persia oleh pasukan Muslim. Namun, terlepas dari benar tidaknya motivasi tersebut, berdasarkan catatan Syibli Nu’mani, pembunuhan terhadap Umar dilatari persoalan pajak.

Sekali waktu, Abu Lu’lu’ah datang menghadapi khalifah. Ia mengeluhkan pajak yang dibebankan tuannya, Mughirah bin Syubah. Ia meminta kepada Umar untuk mendesak tuannya agar menurunkan nilai pajak tersebut.

Umar bertanya kepadanya ihwal pekerjaan yang ia lakoni. Abu Lu’lu’ah menjawab bahwa ia bekerja sebagai tukang kayu, tukang cat, dan pandai besi. Menurut Umar, pekerjaan tersebut layak untuk dibebani pajak sebesar yang ia keluhkan.

“Jumlah (pajak) itu tidak banyak dibandingkan dengan pekerjaan yang menguntungkan ini,” kata Umar.

Abu Lu’lu’ah tidak terima dengan jawaban itu. Ia pun marah dan merencanakan untuk menghabisi Umar.

Keesokan harinya, Umar pergi ke masjid hendak salat Subuh berjamaah. Di sisi lain, Abu Lu’lu’ah yang Majusi pun pergi ke masjid dengan membawa sebilah belati. Saat Umar mulai mengimami salat Subuh, Abu Lu’lu’ah tiba-tiba menerobos dari belakang dan menghunjamkan belatinya sebanyak enam kali ke tubuh Umar. Salah satunya mengenai panggul.

Sang khalifah terkapar dan berlumuran darah. Sementara Abu Lu’lu’ah, dalam kondisi terpojok, juga melukai jemaah lain dan akhirnya bunuh diri.

Umar kemudian dibawa ke rumah. Ia lalu bertanya, “Siapa pembunuhku?”

“Firoz,” jawab orang-orang.

“Segala puji bagi Allah bahwa aku tidak dibunuh oleh seorang Muslim!” jawab Umar kembali.

Mulanya kaum Muslimin sedikit terhibur karena mereka mengira Umar akan pulih. Namun, saat tabib yang memeriksanya memberikan minuman hangat berupa campuran kurma dan susu yang diberikan kepada khalifah, minuman itu keluar dari luka-lukanya.

Sebelum meninggal, Umar menyuruh anaknya, Abdullah, untuk meminta izin kepada Aisyah, istri Rasulullah, agar ia dikuburkan disamping makam Rasulullah.

“Aku mempunyai pikiran untuk mencadangkan tempat ini bagi diriku, tetapi hari ini aku mengizinkan Umar didahulukan dari padaku,” ucap Aisyah.

Setelah mendapat jawaban dari Aisyah, Abdullah buru-buru kembali menemui ayahnya.

“Berita apa yang kau bawa kepadaku, oh anakku?” tanya Umar.

“Yang diharapkan memberikan kepuasan kepadamu,” jawab Abdullah.

“Itu adalah keiginanku yang paling besar,” kata Umar.

Pada 25 Zulhijah 23 Hijriyah atau 3 November 644, tepat hari ini 1374 tahun lalu, Umar bin Khattab, sahabat Rasulullah yang semula amat keras menentang Islam dan berbalik menjadi pembela Islam yang gigih itu, akhirnya meninggal dunia.

Syibli Nu’mani menerangkan, pemakaman Umar dilakukan oleh Shuhaib bin Sinan, Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Saad bin Abi Waqqas, dan Abdurrahman bin Auf yang menurunkan jenazah sang khalifah ke liang lahat.

“Dan sang cahaya yang menyinari dunia itu tersembunyi dalam bumi untuk selama-lamanya,” tulis Nu’mani. [•]

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Edukasi

Beri Pendidikan Politik, ‘Emak-Emak’ Tampak Antusias Ikuti Pertemuan Bersama Musannif

Published

on

KLIKSATU.CO.ID | ACEH BESAR — Wakil Ketua Komisi VII DPR Aceh, H. Musannif Sanusi, SE menilai peran terpenting dari partai politik adalah pendidikan politik bagi rakyat. Rakyat harus dibekali dengan pendidikan politik yang cukup, karena setiap persoalan kehidupan masyarakat dalam bernegara sangat berkaitan dengan kebijakan-kebijakan politik. Parpol sebagai institusi politik harus mengutamakan pendidikan politik untuk rakyat.

“Yang paling pokok adalah pendidikan politik bagi rakyat. Karena jika masyarakat tahu persoalan politik pasti akan terjadi konsolidasi politik. Karena semua hal dari kita itu ditentukan oleh kebijakan-kebijakan politik,” kata Musannif pada saat pertemuan dengan masyarakat Gampong Lam Hasan, Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar, Minggu (30/12/2018).

Musannif juga mengatakan, pendidikan politik memberikan kesadaran politik bagi rakyat sebagai Zoon Politicon. Jika rakyat memiliki pendidikan politik yang baik, maka dapat menjadi alat kontrol.

Pada pertemuan tersebut, Musannif menjelaskan tentang tanggung jawab para politisi dalam memberikan nilai pendidikan politik yang luhur serta membumikan demokrasi yang substansial.

Dia menjelaskan bahwa, idealnya politik adalah wadah yang beradab dan damai untuk mendapatkan kekuasaan. Setelah kekuasaan didapat maka power yang diperoleh digunakan untuk semaksimal mungkin menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat banyak.

“Kalau kita melihat politik adalah wadah yang beradab yang damai untuk memperebutkan pengaruh kekuasaan dan diatur melalui konstitusi,” ujarnya.

Dia mengatakan, karena banyak politisi yang menyimpang dari tujuan mensejahterakan rakyat secara keseluruhan, sehingga mengakibatkan kata politik berkonotasi buruk. Menurutnya kaum akademis harus bisa membedakan antara perilaku menyimpang para politisi dengan politik yang bebas nilai.

“Banyak yang beranggapan politik itu kotor dan politisi juga kotor. Ini yang menjadikan orang sinis dengan politik, tetapi pada ujungnya pasti membutuhkan politik,” katanya.

Sementara itu, masyarakat setempat mengaku baru kali ini didatangi oleh anggota DPR Aceh yang juga merupakan Caleg DPR Aceh yang memberikan edukasi pendidikan politik.

“Tidak hanya kampanye dan mengubar janji-janji saja seperti yang lain, kami melihat Pak Musannif orang yang pintar, dia memberikan pemahaman-pemahaman tentang politik,” kata Nurasiah, warga setempat yang hadir pada pertemuan tersebut.

Pantauan Kliksatu.co.id, sejumlah seratusan ’emak-emak’ (ibu-red) tampak antusias mengikuti pertemuan tersebut. [•]

Continue Reading

Edukasi

Mahasiswa KPM IAIN Langsa Gelar Festival di 3 Kecamatan

Published

on

KLIKSATU.CO.ID | LANGSA – Kegiatan Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM ) kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Langsa tahap III tahun 2018 yang di tempat di Kota Langsa mengadakan kegiatan akhir yaitu Festival KPM yang di pusatkan di gedung DPD II KNPI Kota Langsa, berlangsung pada 22-26 november 2018. Kamis (22/11/2018).

Kegiatan Festival tersebut di buka Pemerintah Kota Langsa dalam hal ini di wakili oleh Abdullah Gade,M.Pd asisten II Pemerintahan Kota Langsa yang kerap di sampa dengan panggillan Waled (Ayah).

Dalam Sambutannya waled menyampaikan apresisasi sepenuhnya kepada mahasiswa KPM IAIN Langsa, semoga dengan apa yang di laksanakan oleh mahasiswa dapat membuahkan hasil, kita berikan nilai plus kepada para panitia yang mempersiapkan kegiatan selama empat hari ini.

Selanjutnya Irwansyah ketua panitia kegiatan Festifal mengatakan , ”kegaiatan ini adalah kegiatan gabungan tiga kecamatan yang menjadi wilayah tempat mahasiswa KPM, yaitu Langsa Lama, Langsa Barat dan Langsa Timur.” Ujarnya.

Kegiatan ini merupakan inisiatif dari para mahasiswa untuk mengadakan kegiatan gabungan.

”iya, untuk kali ini kita tidak mengadakan kegiatan perkecamatan, tetapi kita bergabung dengan tiga kecamatan dan mengadakan satu kegiatan bersama, dan ini merupakan inisiatif dari teman-teman, dengan mengadakan 9 cabang lomba.” Tuturnya.

Kemudian ia juga menambahkan dengan kegiatan gabungan ini para peserta lebih kompetitif, karena para peserta bukan hanya dari satu kecamatan saja.Proses pembukaan juga dimeriahkan dengan penampilan tarian ranup lampuan yang di pesembahkan oleh sanggar tari gampong mutia.

Adapun 9 cabang yang di perlombakan yaitu, baca puisi islami, Kaligrafi Khat Naskhi, Fashion Show, Tarian Kreasi, Pidato, Shalat Fardhu Kifayah, Azan, Catur dan Futsal KPM Cup. yang memperbutkan juara terbaik desa dan juara terbaik kecamatan.

Usai mengadakan pembukaan Festival KPM IAIN Langsa Tahap III, kegiatan di lanjutkan dengan Seminar Motovasi dengan menghadirkan Putra-putri Langsa yang berprestasi di kancah nasional dan internasional.

“Kita Hadirkan Putra terbaik langsa dalam kegiatan seminar motovasi, kita undang bang Mukhtar,A.Md ketua KNPI Langsa dan Bang Muslem,SH.I, MM anggota DPR-RI,” Ujar Irwansyah saat memandu kegiatan.

Sementara itu Fahrul Razi saat di wawancarai awak media mengatakan, tujuan seminar kita untuk para mahasiswa yang sedang melakukan kuliah pengabdian masyarakat di wilayah Kota Langsa, sehingga dengan adanya seminar tersebut kita beharap para peserta KPM bisa termotivasi untuk semakin berinovasi di desa-desa meski kegiatan pengabdian tersebut tinggal beberapa hari lagi.

Muslem DPR RI dalam penyampaian materinya mengajak para pemuda dan mahasiswa untuk berfikir kreatif, Bergerak lokal berfikir Nasional dan Internasional.

“Anak muda Aceh hari ini harus berkarya di tingkat Nasional dan memiliki jaringan di tingkat internasional, layaknya saya hari ini anak seorang pelaut dari tanah kelahiran alukumba Aceh Timur, melanjutkan kuliah ke Jakarta dan kini telah menjabat sebagai anggota DPR RI di periode,” ujarnya.

Lain halnya dengan ketua KNPI kota Langsa, ia menyemangati para peserta dengan motivasi bergerak untuk sukses, menurutnya pemuda kreatif inovatif dan solutif sangat di di butuhkan kota Langsa sebagai kota jasa.

“Hari ini jangan tanyakan apa yang Negera berikan kepada kita, akan tetapi tanyakan pada diri sendiri apa yang dapat kita berikan untuk Negera. Saya anak seorang petani garam kini dengan tekad dan kerja keras telah memimpin KNPI periode 2018-2021 dan menjabat sebagai direktur rumah sakit Chut Nyak dhin,” ujarannya.[•]

Continue Reading

Edukasi

Mahasiswa KPM IAIN Langsa Gelar Sosialisasi Bahaya Narkoba

Published

on

KLIKSATU.CO.ID | LANGSA — Mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Langsa tahap 3 yang melaksanakan tugas di Gampong Meurandeh Tengoh mengadakan sosialisasi bahaya narkoba terhadap anak-anak remaja di kalangan masyarakat. Jum’at (16/11/2018).

Kegiatan sosialisasi tersebut di laksanakan di kantor Geuchik gampong setempat pada pukul 08.30 WIB. Dengan Pemateri Ipda. Sritongga Babin Kamtibmas.

Sosialisasi yang di selenggarakan oleh mahasiswa KPM IAIN Langsa tahap 3 di respon baik oleh kaum pemuda dan pemudi Gampong setempat.

Nuryakin Geuchik Gampong Meurandeh Aceh mengatakan, “Kegiatan ini sangat bermanfaat di selenggarakan di Gampong Meurandeh Tengoh, dengan harapan dapat meminimalisir terjadinya penyalahgunaan narkoba di Gampong kita,” ujarnya.

Selanjutnya ia mengatakan bahwa satu hari sebelum di gelar kegiatan sosialisasi ini, di Gampong Meurandeh Tengoh telah terjadi penangkapan salah seorang pemuda yang terlibat penyalahgunaan narkoba.

“Kita juga sangat berterimakasih kepada mahasiswa KPM yang memiliki ide cemerlang telah melaksanakan kegiatan ini, semoga kegiatan ini dapat bermanfaat untuk kita dan berbuah pahala untuk mahasiswa KPM IAIN Langsa,” demikian katanya.

Sementara itu, Desnandra Faiz Noor Ahsani ketua panitia pelaksana kegiatan sosialisasi mengatakan, ” Tujuan di selenggarakan acara ini, kita melihat maraknya penyalahgunaan narkoba di Indonesia, khususnya di kalangan remaja. Oleh karena itu, kita perlu mengetahui bahaya dan cara menghindari penyalahgunaan narkoba,” katanya.

Ipda. Sritongga dalam penyampaian materi sosialisasi ia mengatakan, “Kalau tidak mau gila jangan pakai narkoba, karena saat pertama kali menggunakan narkoba kita akan ketergantungan, hati berdebar-debar, ingin terus dan terus sehingga membahayakan kesehatan dan berdampak negatif,” ujarnya.

Efektif negatif yang timbul pun beragam, semisal kehabisan uang untuk mendapatkan uang pelaku penyalahgunaan narkoba mencuri, merampok.

“Pengguna Narkoba itu nantinya ingin mencari jati diri, orang yang labil maka kepengen hebat, berawal dari rokok kemudian ganti ke ganca, nambah ke sabu-sabu, heroin dan pil ekstasi, ini sangat berbahaya,” ujarnya.

Selanjutnya ia mengatakan bahwa penyalahgunaan narkoba di jika tertangkap, berdasarkan Undang-undang paling singkat di tahan 4 tahun penjara dengan denda 100 juta rupiah dan maksimal seumur hidup.

Kegiatan sosialisasi bahaya narkoba untuk anak-anak remaja di kalangan masyarakat turut di hadiri oleh, Hamdani supervisor KPM Gampong Meurandeh Tengoh, Nuryakin Geuchik Gampong Meurandeh Tengoh, ketua pemuda dan tamu undangan.[•]

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

KLIKSATU CORNER

Advertisement

Facebook


Trending