Connect with us

Hukum

Menanti Sikap Tegas Jokowi Bekukan dan Audit Lion Air

Published

on

KLIKSATU.CO.ID | JAKARTA — Pesawat Lion Air JT-610 rute Jakarta-Pangkal Pinang yang membawa 189 orang jatuh setelah sempat mengudara selama 13 menit dari Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, pada Senin (29/10/2018). Meski hingga kini bangkai pesawat belum ditemukan, diperkirakan kapal terbang dari maskapai berlambang singa itu berada di perairan Karawang.

Peristiwa itu menambah daftar panjang kecelakaan maskapai Lion Air. Dalam lima tahun belakangan, maskapai yang didirikan Rusdi Kirana itu mengalami lima kali kecelakaan.

Pada 13 April 2013, pesawat Lion Air jenis Boeing 737 seri 800 dengan nomor penerbangan JT-904, jalur penerbangan Bandung-Bali, jatuh di perairan saat akan mendarat di Bandara Ngurah Rai pada pukul 15.10 WITA.

Sekitar dua tahun setelahnya, pada 24 April 2015, pesawat Lion Air jenis Boeing 737 seri 900 dengan nomor penerbangan JT-303, rute penerbangan Medan-Jakarta, mengalami insiden terbakarnya mesin pesawat saat baru dinyalakan. Empat orang terluka akibat kejadian ini.

Kemudian pada 5 Januari 2016, pesawat Lion Air jenis Boeing 737 seri 900 dengan nomor penerbangan JT-388, rute penerbangan Jakarta-Pekanbaru mendarat darurat di Bandara Hang Nadim, Batam, karena mengalami kerusakan sayap.

Tak berhenti di situ, pada 15 Mei 2017, pesawat Lion Air jenis Boeing 737 seri 900 dengan nomor penerbangan JT-535 dengan rute penerbangan Solo-Jakarta, pecah ban ketika mendarat di Bandara Soekarno-Hatta.

Pada 1 April 2018 lalu pun, pesawat Lion Air jenis Boeing 737 seri 900 dengan nomor penerbangan JT-600, rute penerbangan Jakarta-Jambi mendarat darurat di Palembang akibat dekompresi.

Rentetan kejadian tersebut, belum lagi ditambah keluhan-keluhan dari konsumen lantaran pelayanan yang buruk. Tercatat lima gugatan hukum dilayangkan konsumen kepada pihak Lion Air dalam 11 tahun ke belakang.

Cabut Izin dan Audit Lion Air

Atas berulangnya permasalahan Lion Air, anggota Komisi V DPR RI Ridwan Bae mendesak pemerintah mencabut izin penerbangan maskapai itu.

“Kalau itu memang dapat merugikan masyarakat Indonesia, pemakai penerbangan ini, maka ya harus cabut izin jangan ragu-ragu buat keselamatan bangsa dan keselamatan masyarakat Indonesia,” kata Ridwan di Kompleks Parlemen DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (30/10/2018).

Terlebih, menurut Ridwan, Komisi V DPR RI sudah bosan berulangkali meminta Lion Air memperbaiki sistemnya. “Dan yang terjadi apa? Lion lagi, Lion lagi,” keluhnya.

Hal sama juga disampaikan Ketua Komisi V DPR RI Fary Djemy Francis. Dia menilai izin Lion Air memang bisa dicabut. Sebab menurutnya, kecelakaan-kecelakaan dan keluhan-keluhan konsumen yang terjadi telah menunjukkan pelanggaran pada UU Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan.

“Kalau memang begitu ya kami minta supayadiaudit saja. Diaudit, sehingga pemberian flight aproval dan audit keselamatan penerbangan terhadap maskapai Lion Air,” kata Fary di Kompleks Parlemen DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa kemarin.

Menurut politikus Partai Gerindra ini, laporan konsumen yang pernah dilayangkan ke pengadilan juga bisa menjadi penguat bagi Kemenhub mencabut izin Lion Air.

“Kan laporan-laporan dari masyarakat itu sudah jadi bukti tersendiri,” tegasnya.

Begitu juga Ketua DPR RI Bambang Soesatyo. Dia mendesak pemerintah Jokowi segera mengaudit perusahaan-perusahaan penerbangan. Ini karena kecelakaan pesawat sering terjadi di Indonesia, terutama melibatkan Lion Air.

“Tentu kami minta kepada pemerintah segera melakukan audit dan investigasi terhadap perusahaan-perusahaan penerbangan, terutama audit terhadap mesin-mesin, yang kedua dicek kembali. Karena ini bukan peristiwa yang pertama kali,” ungkap Bamsoet di Ruang VIP Bandara Soekarno Hatta, Selasa sore.

Bamsoet juga menegaskan kepada pemerintah untuk memperketat izin penerbangan yang ada di Indonesia. Tujuannya agar kenyamanan dan keselamatan konsumen terjamin.

“Kalau betul kondisi (Lion Air JT-610) mesinnya sebagaimana dilaporkan kemarin sudah ada gangguan sehari sebelumnya, tapi masih terbang. Kemudian pemberi izin diperiksa dan diberikan sanksi kalau ada unsur kesengajaan,” ujarnya.

Sanksi Setelah Penyelamatan Korban?

Sejauh ini, pemerintah belum menentukan sanksi bagi Lion Air. Ini diungkapkan Presiden Jokowi.

“Kami belum bicara itu (sanksi),” kata Jokowi usai menemui keluarga korban di Terminal 1B Bandara Soekarno-Hatta, Senin (29/10/2018).

Bagi politikus PDIP tersebut, saat ini yang harus diutamakan ialah memaksimalkan proses pencarian korban pesawat Lion Air JT-610. Sebab korban dan bangkai pesawat tersebut belum ditemukan secara utuh.

“Semuanya saya perintahkan kerja keras malam ini. Kita masih berurusan dengan pencarian korban yang ada di lapangan,” tegasnya.

Hal serupa juga diungkapkan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi. “Belum. Kami bicara mengenai pencarian dulu,” ujar Budi di Jakarta. [•]


Wartawan: Abdullah Kelrey | Editor: Saiful Haris

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukum

Semakin Menarik, Martini: Masrifa Berikan Keterangan Palsu

Published

on

By

KLIKSATU.CO.ID | ACEH TIMUR — Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Martini, membantah semua yang disampaikan Masrifa, istri petugas Rutan Idi, yang telah melaporkannya ke Polres Aceh Timur. Menurut politisi Partai Aceh itu, Masrifah sudah memberikan keterangan palsu yang tidak sesuai dengan kejadian yang sebenarnya.

Pada malam kejadian, Rabu (3/12/2019), Martini datang ke Rutan Idi untuk membantu asisten pribadinya Juliana. Pasalnya adik Juliana sedang mendekam di Rutan Idi karena kasus minyak dengan masa pidana delapan bulan.

“Adik Juliana yang bernama Syawaluddin sakit di Rutan Idi, rencana mau rujuk ke Rumah Sakit Graha Bunda, karena tidak ada ambulan kemudian diajak saya untuk membawa Syawaluddin ke rumah sakit,” kata Martini seperti dilansir AJNN, Selasa (8/1/2019).

Sampai ke Rutan Idi, kata Martini, tiba-tiba saja Masrifa datang dengan menenteng batu, dan langsung memukul mobilnya.

“Saya kaget, Masrifa dengan marah-marah langsung memukul kaca depan mobil dengan batu dan meminta agar suaminya keluar dari mobil saya, padahal suaminya tidak ada dalam mobil saya,” ungkapnya.

Selanjutnya, Martini meminta agar sopirnya untuk turun dan menjelaskan kepada Masrifah kalau tidak ada suaminya di dalam mobil tersebut. Masrifa semakin menjadi-jadi, dan meminta kepada sopir untuk menurunkan kaca mobil.

“Kemudian sopir saya membuka kaca mobil depan, posisi saya di belakang sopir, di kursi depan itu ada Juliana. Ketika kaca mobil belakang dibuka, dan melihat ada saya, Masrifah langsung memukul kaca mobil hingga pecah,” jelasnya.

Martini mengaku sempat mendapatkan penganiayaan oleh Masrifah yang menyebabkan kepala dan leher bengkak. Kemudian kondisi kaca mobil rusak karena dihantam menggunakan batu.

“Saya sempat diseret sama Masrifa, saya tidak sempat membalas karena dihalang-halangi. Kondisi mobil kaca depan retak, kaca samping retak, kaca kanan belakang hancur karena dipecahkan menggunakan batu sama Masrifa,” ungkapnya.

Usai kejadian, Martini mengaku langsung membuat laporan ke Polres Aceh Timur. Ia tidak menerima perlakuan tersebut, dan meminta aparat kepolisian untuk mengusut sampai tuntas kasus penganiayaan itu.

“Jadi apa yang disampaikan Masrifa dalam jumpa pers merupakan keterangan palsu alias bohong. Masrifa juga tidak menyampaikan adanya pengrusakan kaca mobil, saya punya bukti dan saksi,” tegas Martini. [•]


Sumber: Ajnn.net | Editor: Aidil

Continue Reading

Hukum

Masrifa Lapor Balik Martini Anggota DPR Aceh ke Polisi

Published

on

By

KLIKSATU.CO.ID | ACEH TIMUR — Muhammad Zubir dan Indra Kusmeran dari Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) Aceh Timur, menjadi kuasa hukum Masrifa, membantah bahwa kliennya telah menyerang Martini, anggota DPRA dari Partai Aceh (PA) secara sepihak. Menurutnya, yang terjadi justru terjadi perkelahian di antara Masrifa dan Martini, saat di depan Rutan Kota Idi beberapa waktu lalu.

Itu disampaikan Muhammad Zubir dan Indra Kusmeran kepada sejumlah wartawan saat konferensi pers yang digelar pada salah satu kafe di Kota Idi Rayeuk,Senin sore (7/1/2019).

“Itu bukan penganiayaan murni, tetapi saling serang atau berantem, dalam kasus ini duel. Penyebabnya sudah lama terkait masalah keluarga, sebelumnya pernah didamaikan. Saudari Martini pernah dekat dengan suami ibu Ryfa sehingga gejolak, namun pernah dibuat perdamaian oleh pihak Desa Uteun Dama Kecamatan Peureulak,” kata Muhammad Zubir kepada wartawan. Senin (7/1/2019).

Lebih lanjut Zubir mengatakan. Sebenarnya perselisihan tersebut sudah damai di bulan Agustus 2018 lalu, juga ada surat perjanjian yang telah dibuat. Namun dianggap butir-butir pelanggaran yang telah disepakati tersebut ada yang telah dilanggar.

“Pelanggarannya adalah tidak lagi berjumpa dengan suami saya, karena melanggar perjanjian dan ia tidak datang menandatangani surat tersebut sehingga saya curiga kenapa dia tidak mau tanda tanganinya pada bulan Agustus 2018 lalu. Jadi pada malam kejadian, mobilnya itu berhenti di depan mie Barcelona. Saya melihat beriringan dengan mobil suami saya. Saya memantau suami saya masuk ke halaman LP. Kalau memang mengurus surat kenapa tidak ada satupun yang keluar dari mobil. Saat itu suami saya mamegang pintu mobil, di situ saya pegang suami saya dan saya tanya abang mau kemana,” kata Masrifa yang didampingi kuasa hukumnya.

Ia menambahkan, saat ia kelilingi mobil dan menyuruh membukakan kaca tidak ada yang mau melakukan sehingga kecurigaannya semakin besar. “Saya tanya siapa di dalam, saat itu kelihatan ada Martini di belakang. Kemudian Martini keluar mobil dan dia nyerang saya dan saya membalas kemudian kami berantem. Jadi, bukan melakukan penganiayaan sepihak,” sebut Masrifa.

Sementara itu kuasa hukumnya Masrifa juga mengatakan. Persoalan tersebut juga telah dilaporkan ke Polres Aceh Timur, dan telah diterima oleh penyidik Polres Aceh Timur dengan Nomor: BL/03/1/2019/SPKT, tertanggal 7 Januari 2019. “Karena Martini sudah duluan buat laporan kepada klien kami, maka hari ini kami lapor balik ke polisi. Namun kami juga akan membuka ruang bila permasalahan ini ditempuh upaya damai secara kekeluargaan,” ujar Muhammad Zubir. [•]

Continue Reading

Hukum

Masrifa Polisikan Anggota DPR Aceh Gara-Gara Penganiayaan

Published

on

Masrifa (tengah) di dampingi kuasa hukumnya Muhammad Zubir (kiri) dan Indra Kusmeran (kanan) saat menggelar konferensi pers di salah satu Cafe di kota Idi Rayeuk. Senin (07/01/2019). Foto : Irwansyah / Kliksatu.co.id

KLIKSATU.CO.ID | ACEH TIMUR – Terkait Penganiayaan, anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Aceh Martini,S.Pd di Polisikan, Masrifa melaporkan wakil rakyat tersebut ke Polres Aceh Timur pada, senin (07/01/2019). Sore dini hari.

Dalam Konferensi Pers yang di gelar  di sebuah Warung Coffe di Kota IDI Rayeuk, Masrifa yang di dampingi  kuasa hukumnya, Muhammad Zubir, SH dan Indra Kusmeran, SH dari Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) membantah jika ia melakukan penganiyayaan terhadap Martini.

“Yang terjadi justru terjadi perkelahian di antara Masrifa dan Martini, saat di depan Rutan Kota Idi beberapa waktu lalu, Itu sebabnya, kami membantah bahwa kliennya telah menyerang Martini, anggota DPRA dari Partai Aceh (PA) secara sepihak” Ungkap Muhammad Zubir di hadapan Awak Media.

Sementara itu kuasa hukumnya Masrifa juga mengatakan. Persoalan ini juga telah dilaporkan kepada jajaran Kepolisian setempat, dan telah diterima oleh penyidik Polres Aceh Timur dengan Nomor: BL/03/1/2019/SPKT, tertanggal 7 Januari 2019.

“Karena Martini sudah duluan buat laporan kepada klien kami, maka hari ini kami lapor balik ke polisi. Namun kami juga akan membuka ruang bila permasalahan ini ditempuh dengan jalur kekeluargaan, akan tetapi bila Martini ingin melewati proses Hukum maka kita juga akan mengikutinya,” ujar Muhammad Zubir.

Lebih lanjut Zubir mengatakan. Sebenarnya perselisihan tersebut sudah damai di bulan Agustus 2018 lalu, sambil menunjukkan surat perjanjian kehadapan awak media, Namun dianggap butir-butir pelanggaran yang telah disepakati tersebut ada yang telah dilanggar.

“Pelanggarannya adalah tidak lagi berjumpa dengan suami saya, karena melanggar perjanjian dan ia tidak datang menandatangani surat tersebut sehingga saya curiga kenapa dia tidak mau tanda tanganinya pada bulan Agustus 2018 lalu. Jadi pada malam kejadian, mobilnya itu berhenti di depan mie Barcelona. Saya melihat beriringan dengan mobil suami saya. Saya memantau suami saya masuk ke halaman LP. Kalau memang mengurus surat kenapa tidak ada satupun yang keluar dari mobil. Saat itu suami saya mamegang pintu mobil, di situ saya pegang suami saya dan saya tanya abang mau kemana,” kata Masrifa yang didampingi kuasa hukumnya.

Selanjutnya Masrifa mengatakan, bahwa ia sempat mengelilingi mobil tersebut, oleh sebab tidak seorangpun keluar mobil. “Tiba-tiba Martini keluar dan melabrak saya hingga terjatuh dan Hanphone (HP) saya terlempar, setelahnya ia masuk ke mobil, kemudian saya ketuk-ketuk lagi kaca mobilnya, selanjutnya martini keluar dari pintu mobil sebelahnya dan kembali melabrak saya, kemudian saya tidak terima, lalu membalasnya hingga terjadi perkelahian, jadi bukan penganiyayan sepihak, “ tutur Masrifa menceritakan Kronologi kejadian.

Kapolres Aceh Timur AKBP Wahyu Kuncoro melalui Kepala Satuan Reserse Kriminal AKP Erwin Satrio Wilogo membenarkan bahwa Masrifa telah melaporkan balik Martini, “Ia benar kita udah menerima laporan Masrifa yang didampingi pengacaranya,” jawab Erwin Satrio Wilogo.[.]

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

KLIKSATU CORNER

Advertisement

Facebook


Trending