Connect with us

Edukasi

KIP Aceh Besar Goes to School SMAN 1 Lhoknga

Published

on

KLIKSATU.CO.ID | ACEH BESAR — Komiisi Indepent Pemilihan (KIP) Aceh Besar melaksanakan Goes to School yang dilaksanakan di SMAN 1 Lhoknga, Aceh Besar, Rabu (31/10/2018).

Ketua PPK Kecamatan Lhoknga Zoelfikar, ST menyampaikan bahwa kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai bagian dari pemberiitahuan informasi bagi pemilih pemula, khususnya untuk para siswa-siswi.

Elly Suzana, S.Pd selaku Kepala SMAN 1 Lhoknga dalam sambutannya sangat berterima kasih atas ditunjuknya sebagai tuang rumah dan mitra dari KIP Aceh Besar.

Harapannya siswa-siswi dapat benar-benar mengikuti kegiatan sosialisasi dengan baik, dan nantinya bisa lebih baik dalam hal memilih.

“Apa lagi ini merupakan pemilihan pertama dan harus benar-benar dimaanfatkan,” katanya.

Sementara itu, Komisioner KIP Aceh Besar Miswar M. Amin mengatakan SMAN 1 Lhoknga merupakan satu-satunya sekolah yang dipilih di Kecamatan Lhoknga, harapannya siswa-siswi selaku pemilih pemula, dan milenial harus benar-benar menjadi pemilih cerdas sehingga menghasilkan Pileg dan Pilpres yang berkualitas.

“Terlebih lagi kalangan muda sangat besar jumlahnya, dan dapat mempengaruhi hasil,” ujarnya.

Miswar menanmbahkan bahwa selain sebagai pemilih muda, harus dapat memberikan informasi yang baik bagi kalangan muda lain, agar tidak terjadi golput dikalangan muda.

“Apalagi di era kini semua informasi sudah dapat di akses dengan mudah di dunia maya, dari segi informasi profil calon maupun visi misi calon tingkatan apapun,” terangnya.

Miswar juga menyampaikan sudah harus memastikan diri bagi pemilih pemula agar terdaftar di setiap TPS yang ditunjuk sesuai dengan E l-KTP yang dimiliki.

Dalam kegiatan ini turut hadir seluruh PPK kecamaran Lhoknga Edi Iskandar, SE dan M. Irvan Syah Putra, SE serta seluruh dewan guru. [•]

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Daerah

Korek Sosialisasi Gerakan Literasi Untuk Pelajar

Published

on

KLIKSATU.CO.ID | LANGSA — Sejumlah mahasiswa, pemuda dan pelajar yang tergabung dalam komunitas relawan kreatif (Korek) Langsa mengadakan sosialisasi gerakan Literasi kepada anak-anak di Gampong Kebun Ireng, Kecamatan Langsa Lama, Kota Langsa. Minggu (11/11/2018).

Program ini di gagas Korek Langsa dengan tema ‘Membangun Budaya Literasi Sejak Dini’.

Dalam sosialisasi tersebut Korek bersama dengan Pelajar Islam Indonesia (PII) di dampingi oleh sejumlah mahasiswa kampus Institut Agama Islam Indonesia (IAIN) Langsa yang melaksanakan Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) di Gampong setempat.

Ketua Korek, Arif Rahmadan mengatakan, kegiatan Sosialisasi Gerakan Literasi merupakan kegiatan mingguan dan berkelanjutan.

“Insyaallah kita mengadakan kegiatan Sosialisasi ini secara rutin, dengan mengunjungi sarana pendidikan, seperti halnya sekolah, TPA. gerakan ini kita fokuskan ke tempat-tempat pedalaman,” ujarnya.

Selanjutnya ia mengatakan, Komunitas Relawan Kreatif terus berupaya melahirkan generasi sukarelawan untuk melakukan gerakan Literasi dalam mencerdaskan anak bangsa. Hal ini serupa dengan program pemerintah Aceh dalam mewujudkan ‘Aceh Carong’.

Kemudian di sampaikan lagi ketua Korek, Kehadiran Komunitasnya di sambut baik oleh Geuchik Gampong setempat.

“Kehadiran kita di sambut baik oleh Geuchik Gampong Kebun Ireng, dalam melakukan sosialisasi ini, terlebih terlihat antusias dari warganya,” ujarnya lagi.

Dalam sosialisasi tersebut korek membagi dua ruang kelas yang ada di TPA Gampong setempat, sementara mentor dalam sosialisasi tersebut di lakukan oleh Tim komunitas.

Adapun Tim komunitas yang melakukan sosialisasi yakni, Arif Rahmadan, Bustami Adoe, Teuku Abit, Irwansyah, Fitri Yana, Mawadah Ulya dan Nisa.

Sementara itu Irwansyah menambahkan, dalam sosialisasi gerakan Literasi ini kita kemas dalam sebuah kegiatan, belajar sambil bermain.

“Sosialisasi ini kita fokuskan kepada anak-anak agar dapat meningkatkan kualitas pendidikan melalui semangat membaca dan menulis, sehingga pendidikan anak-anak Aceh semakin meningkat,” katanya.

Selanjutnya ia mengatakan, ‘Membaca Jembatan Ilmu’, dengan membaca kita dapat meningkatkan kualitas ilmu pengetahuan, kemudian dengan menulis kita dapat merekam akan apa yang kita pelajari.

“Seperti kata imam Al Ghazali, ‘Jika kamu bukan anak seorang raja atau anak ulama besar maka jadilah penulis’, meskipun kita bukan siapa-siapa jika ingin di kenal dunia maka jadilah penulis,” katanya.

Dengan demikian, tambahnya, membaca, menulis dan memahami informasi menjadi kebutuhan setiap orang, maka dari itulah perlu adanya penanaman pemahaman pentingnya Literasi kepada anak-anak, dalam artian penerapan literasi harus di mulai sejak dini. [.]

Continue Reading

Edukasi

Mahasiswi Universitas Serambi Mekkah Lakukan Study Tour ke Ruang Memorial Perdamaian Aceh

Published

on

By

KLIKSATU.CO.ID | BANDA ACEH — Sejumlah mahasiswi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Fakultas Agama Islam, Universitas Serambi Mekkah melakukan study tour ke Ruang Memorial Perdamaian Aceh, Kesbangpol Provinsi Aceh, Jum’at (2/11/2018).

Kunjungan study tour tersebut dilakukan guna mempelajari sejarah konflik, dan perdamaian yang pernah terjadi di Aceh.

Dalam kunjungan tersebut, turut serta didampingi oleh dosen Universitas Serambi Mekkah, Dr. Wahyu Khafidah, MA, dan turut diterima oleh perwakilan Kesbangpol Aceh, Kurator Muhammad Mardian.

Dalam kunjugan tersebut ada beberapa agenda yang dilakukan, yang pertama dimulai dengan seluruh mahasiswi mengisi absensi daftar hadir, kemudian dilanjutkan dengan melihat bukti senjata yang sudah dipotong-potong pasca perjanjian damai. Senjata ini dimasukkan kedalam sebuah kotak kaca di tengah ruangan. Kotak kaca ini berisikan potongan senjata bekas konflik dari jenis M-16 dan AK 56. Ada juga dua buah granat manggis yang sudah dikosongkan isinya. Potongan senjata ini berstatus pinjam pakai dari Kodam Iskandar Muda.

Dalam penjelasannya Kurator menyampaikan, asal mula terjadinya konflik. Momentum perjanjian damai MOU Helsinki ini terjadi setelah Aceh luluh lantak diterjang bencana dahsyat tsunami pada 26 Desember 2004.

Akibat bencana itu, ratusan ribu orang tewas. Perjanjian damai yang terjadi pada masa kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini dicetuskan oleh Wakil Presiden saat itu, Jusuf Kalla.

“Perjanjian itu dimediatori mantan Presiden Finlandia, Martti Ahtisaari melalui Crisist Management Initiative (CMI) yang dipimpinnya. Pihak GAM diwakili oleh Malik Mahmud Al Haytar, sementara pemerintah RI diwakili oleh Menteri Hukum dan HAM Hamid Awaludin,” katanya.

Kurator menyebutkan Ruang Memorial Perdamaian ini dibuat untuk memberikan informasi terkait sejarah konflik dan perdamaian Aceh dalam sebuah ruang multiguna dan multilayanan. Ukurannya hanya sekitar 8×10 meter.

Awalnya ruangan itu merupakan ruang kerja bidang penanganan konflik yang disulap menjadi sangat apik. Di ruangan inilah ditampilkan berbagai alat peraga audio visual berupa foto, video, film, buku-buku, hasil penelitian dan artefak di masa konflik.

Dibilah kanan menempel gambar besar yang dicetak di bahan vinyl MMT berisikan informasi mengenai jalan panjang perdamaian di Aceh. Dengan melihat gambar ini secara garis besar pengunjung akan mengetahui berbagai peristiwa dan tragedi yang terjadi di Aceh. Sejak masa Portugis, Belanda, masa konflik Gerakan Aceh Merdeka (GAM), pemberlakuan darurat operasi militer, darurat militer, hingga penandatanganan MOU Helsinki pada 15 Februari 2005 silam di Finlandia. Tanggal yang setelahnya ditetapkan sebagai hari perdamaian Aceh.

Diketahui, ruangan ini bisa digunakan untuk kegiatan publik tanpa dipungut biaya apapun. Entah itu untuk diskusi, workshop, atau training, selama masih ada kaitannya dengan isu-isu perdamaian.

Belasan foto ditata dengan apik merapat ke dinding. Disisi timur meja ada sebuah partisi dari kayu berukir yang memajang dua foto sekaligus menjadi penyekat ruangan. Ada sebuah kalimat yang berhasil memancing rasa penasaran dan diskusi panjang dari para blogger. “Senjata bukan tanda damai,” begitu bunyi tulisan tersebut. Di belakang partisi ini ada dua bilik kecil yang memuat sejumlah foto. Di antaranya foto yang menerangkan isi perjanjian MoU Helsinki dan Ikrar Lamteh.

“Damai ini lahir dari proses perundingan yang panjang. Ada yang mengatakan damai ini lahir karena tsunami, padahal peristiwa tsunami itu mengetuk hati orang-orang yang bertikai ketika itu sehingga mempermudah proses perundingan, sebab perundingan untuk perdamaian Aceh itu sendiri sudah dilakukan dari sebelum tsunami,” kata Muhammad Mardian.

Cikal Bakal Lahirnya Ruang Memorial Perdamaian

Ruang Memorial Perdamaian ini, kata dia, merupakan wujud dari salah satu tugas pokok lembaga Kesbangpol tersebut dalam menjaga keberlangsungan perdamaian Aceh.

Gagasan dari kepala Kesbangpol Aceh sebelumnya, ruangan ini dibuat pertama kali pada tahun 2013 dan rampung pada 2015 lalu, dan tahun 2015 lalu sudah dibuka untuk umum hingga saat ini.

Anggaran diperkirakan dihabiskan untuk membuat ruangan tersebut sekitar Rp 200 juta. Sementara untuk konten seperti koleksi foto, banyak didukung oleh pihak eksternal seperi kalangan LSM, diantaranya, lembaga achehnese civil society task force (ACSTF), dan juga ada foto karya Murizal Hamzah.

Ruang ini diharapkan bisa menjadi pusat penelitian penyelesaian konflik dan perdamaian di Aceh. Kedepan semoga ruang memorial ini mampu menghasilkan sebuah museum perdamaian. Kemudian ruangan ini mampu mendapatkan koleksi yang ada sekarang mewakili seperti apa wajah Aceh masa perang hingga damai.

Sesuai namanya, keberadaan ruang ini diharapkan menjadi perekat ingatan bahwa perdamaian itu sesuatu yang mahal. Menghabiskan satu setengah jam waktu di dalam ruangan itu rasanya terlalu singkat. Membuat kita sadar hanya ketakutan dan kekhawatiranlah yang membuat segala sesuatu menjadi lama dan tak menyenangkan.

Dua hal yang tak perlu diwariskan kepada generasi selanjutnya. Konflik membuat kita hilang pendidikan, banyak pengungsi dan banyak korban jiwa baik dari pihak TNI, GAM, dan masyarakat sipil yang tidak bersalah.

Diakhir pertemuan diadakan diskusi, mahasiswa menyampaikan pertanyaan-pertanyaan yang menganjal dalam fikiran mereka. Salah satu pertanyaan mereka adalah mengenai penggabungan Aceh dengan Sumatera Utara menjadi satu provinsi, mengenai Wali Nanggroe dan lain-lainnya.

Wahyu Khadifah selaku dosen pembimbing mengucapkan terima kasih kepada Kesbangpol Aceh, yang dalam hal itu diwakili oleh Mardian yang telah memberikan edukasi mengenai konflik Aceh hingga terjadinya perdamaian Aceh setelah beberpa kali terjadi perundingan.

Dirinya berharap terakhir konflik di Aceh jangan sampai terjadi kembali, dirinya mengajak agar masyarakat Aceh merawat perdamaian yang sudah terjalin ini.

Sementara itu, Dekan Fakultas Agama Islam, Universitas Serambi Mekkah, Dr. Andri Nirwana, AN, M.Ag menyampaikan bahwa study tour yang dilakukan oleh mahasiswi PIAUD USM sangat bermanfaat.

Selain daripada menjalin silaturrahmi antara lembaga pemerintahan dengan lembaga pendidikan, juga terdapat banyak sekali nilai-nilai edukasi dan pembelajaran yang bermanfaat bagi mahasiswi PIAUD.

Andri menekankan bahwa tantangan terbesar kita saat ini adalah memastikan perdamaian di Aceh menjadi sebuah perdamaian yang abadi. [•]


Editor: Saiful Haris

Continue Reading

Edukasi

Umar bin Khattab, Sang Penakluk yang Tewas Ditikam Budak Persia

Published

on

KLIKSATU.CO.ID — Salah satu keberhasilan dakwah Rasulullah adalah mampu membuat orang-orang yang semula menentangnya berbalik menjadi pendukung setia. Ada beberapa sahabat Rasulullah yang melakoni takdir macam itu, salah satunya Umar bin Khattab. Kelak, setelah Rasulullah wafat, sosok yang dikenal tegas ini menjadi khalifah menggantikan Abu Bakar.

Watak tegas Umar serupa bapaknya, Khattab. Sang bapak pernah mengusir Zaid, anak saudaranya alias sepupu Umar, karena ia menjadi pengikut ajaran monoteisme Nabi Ibrahim yang menentang berhala.

Dalam Muhammad Sang Nabi: Sebuah Biografi Kritis (2003), Karen Amstrong mencatat bahwa Zaid dikenal masyarakat karena secara terbuka mengutuk penyembahan berhala dan mencemarkan adat kebiasaan yang telah dilakukan secara turun-temurun itu.

“Sikap dan pendiriannya yang demikian ini mengakibatkan rakyat menentangnya, dan di antara musuh-musuhnya, yang paling kuat dan tidak berbelas kasih adalah Khattab, ayah Umar,” tulis Amstrong.

Sikap Khattab yang kerap menyulitkan Zaid membuatnya terpaksa melarikan diri ke Gua Hira, meski sesekali ia tetap berkunjung ke Makkah secara diam-diam.

Penentangan terhadap monoteisme yang dilakukan bapaknya, dilakukan juga oleh Umar. Saat Rasulullah berdakwah di Makkah, Umar menjadi salah satu penentang yang paling keras. Hal ini membuat Rasulullah berdoa agar salah satu dari dua Umar menjadi pendukungnya.

“Ya, Allah, kuatkanlah Islam dengan salah satu dari dua Umar,” ucap Rasulullah.

Dua Umar yang dimaksud adalah Amr bin Hisyam alias Abu Jahal, dan satu lagi adalah Umar bin Khattab. Beberapa tahun kemudian, keinginan Rasulullah itu terkabul: Umar memeluk Islam dan menjadi salah satu sahabat Nabi yang paling dekat.

Sebelum Umar memeluk Islam, ada sebuah kisah terkenal yang menunjukkan bagaimana kerasnya Umar dalam menentang agama baru itu.

Masih dalam buku yang ditulis Karen Amstrong, disebutkan bahwa sekali waktu Umar berniat membunuh Rasulullah. Ia menyusuri jalanan Makkah menuju sebuah rumah di bukit Safa sambil membawa pedang. Rumah tersebut adalah tempat Rasulullah berada.

Sementara saat Umar pergi hendak membunuh Rasulullah, saudarinya yang bernama Fatimah, yang menikah dengan Sa’id (anak Zaid sepupu Umar), mengundang Khabbab bin al-Arat, seorang pandai besi, untuk membacakan ayat-ayat Alquran. Keduanya memang telah menjadi Muslim.

“Dalam perjalanannya menuju bukit Shafa, Umar didekati seorang Muslim dari klannya. Orang itu berusaha membelokkannya dari tujuan membunuh Nabi. Dia menyuruh Umar pulang dan menyaksikan apa yang tengah terjadi di rumahnya sendiri,” tulis Amstrong.

Umar bin Khattab kemudian kembali ke rumahnya. Saat ia memasuki jalan menuju rumah, ia mendengar ayat-ayat Alquran yang dilantunkan Khabbab bin al-Arat. Mengetahui kedatangan Umar, sang pelantun Alquran buru-buru bersembunyi.

“Suara apa itu?!” serunya sambil memasuki rumah.

Syibli Nu’mani dalam Umar bin Khattab yang Agung (1994) mengisahkan Fatimah menjawab pertanyaan Umar itu. Fatimah mengatakan suara itu bukan apa-apa dan tidak ada artinya.

“Jangan mencoba menyembunyikan apapun dariku. Aku telah mengetahui segala sesuatunya. Aku telah mendengar bahwa engkau berdua telah ingkar agama,” bentak Umar.

Umar kemudian menyerang Fatimah dan suaminya. Ia memukuli saudarinya sampai jatuh ke tanah dan berdarah. Mengetahui Fatimah terluka, Umar menghentikan perbuatannya.

“Umar! Lakukan apa yang kau kehendaki, Islam tidak akan pernah lepas dari hati kami,” ucap Fatimah.

Menurut Karen Amstrong, Umar kemudian memungut manuskrip Alquran yang ditinggalkan Khabbab. Sementara dalam catatan Syibli Nu’mani, Umar meminta Fatimah untuk menunjukkan apa yang tadi ia dengar. Lalu Fatimah menyodorkan manuskrip Alquran yang sebelumnya ia sembunyikan.

Umar yang yang dapat membaca dan menulis dengan fasih itu lalu mulai membaca ayat-ayat pembuka dalam surat Thaha.

“Betapa indah dan agungnya ucapan ini!” gumamnya.

Itulah momen ketika Umar tergerak dan mulai tertarik kepada agama yang dipeluk saudarinya. Ia lalu meraih pedangnya dan berlari menuju bukit Safa untuk menemui Rasulullah.

Sesampainya di tempat yang dituju, Rasulullah segera menarik jubah Umar sambil bertanya, “Apa yang telah membawamu kemari, hai anak Khattab?”

Umar menjawab, “Wahai Rasulullah, aku datang kepadamu untuk percaya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan pesan yang dibawanya dari Allah.”

Hijrah ke Yatsrib

Setelah masuk Islam, tidak seperti kaum Muslimin lain yang sembunyi-sembunyi dalam memeluk keyakinan baru mereka, Umar justru terang-terangan mengumumkan keislamannya di depan kaum Quraisy yang menentang dakwah Rasulullah.

Ia memang sosok yang disegani, sehingga para penentang dakwah Rasulullah tidak ada yang berani menyentuhnya. Hal ini membuat kaum Muslimin yang semula tidak berani melaksanakan salat di dekat Kakbah menjadi leluasa beribadah di sana.

“Ketika Umar memeluk Islam, ia berperang dengan Quraisy sampai ia memenangkan perjuangan itu demikian jauh sehingga ia masuk Ka’bah di mana ia salat dan kita bersamanya,” kata Abdullah bin Mas’ud seperti dikutip Muhammad Husain Haekal dalam Umar bin Khattab (2002).

Keberanian Umar juga tergambar saat kaum Muslimin hijrah ke Yatsrib atau yang kemudian bernama Madinah. Mereka berangkat diam-diam karena menghindari gangguan kaum Quraisy yang tak menghendaki ajaran Islam.

Ali bin Abi Thalib, seperti dikutip Husain Haekal, menyebutkan bahwa ketika semua kaum Muhajirin (Muslim Makkah yang melakukan hijrah) melakukannya secara diam-diam, Umar justru melakukannya dengan terang-terangan sambil membawa pedang dan menyelempangkan busur panah. Sementara tangannya menggenggam anak panah dan sebatang tongkat komando.

Sebelum hijrah, ia pergi ke Kakbah melakukan tawaf, sementara orang-orang Quraisy berada diberanda Kakbah. Ia tawaf sebanyak tujuh kali, menuju Maqom Ibrahim, dan salat. Kepada kaum Quraisy yang menentang Islam, yang ia datangi satu-persatu, Umar berkata:

“Wajah-wajah celaka! Allah menista orang-orang ini! Barang siapa ingin diratapi ibunya, ingin anaknya menjadi yatim atau istrinya menjadi janda, temui aku di balik lembah itu.”

Namun Husain Haekal menambahkan bahwa cerita Umar tersebut tidak ada dalam kisah yang diriwayatkan Ibnu Hisyam, Ibnu Sa’d, dan at-Tabari. Menurut mereka, Umar berangkat hijrah secara diam-diam, sama seperti kaum Muslimin lainnya.

“Dia melakukan itu [hijrah secara diam-diam] bukan karena lemah atau takut, yang memang tak pernah dikenalnya selama hidupnya, tetapi dia laki-laki yang penuh disiplin. Dia mengikuti jemaah dan meminta yang lain juga mengikuti mereka,” tulis Husain Haekal.

Perang dan Penaklukan

Dalam perjalanan Umar sebagai seorang Muslim, bersama Rasulullah ia turut dalam pelbagai peperangan antara kaum Muslimin dengan para penentang mereka. Umar terlibat dalam Perang Badar, Perang Uhud, Perang Khandaq, Perang Khaibar, dan Perang Hunain.

Perang Badar yang dimenangkan kaum Muslimin sempat melahirkan perbedaan pendapat soal perlakuan terhadap para tawanan. Abu Bakar berpendapat untuk melepaskan para tawanan perang harus melalui mekanisme uang tebusan.

Sementara Umar dengan tegas menyatakan bahwa para tawanan sepatutnya dipenggal lehernya, dengan ketentuan setiap Muslimin memenggal kerabatnya sendiri.

“Umar menentang [pendapat Abu Bakar] dan menyatakan bahwa pertalian keluarga tidak harus berurusan dengan masalah-masalah mengenai kepentingan Islam yang vital,” tulis Syibli Nu’mani dalam Umar bin Khattab yang Agung.

Pada akhirnya, pendapat Abu Bakar lah yang disetujui Rasulullah.

Sementara dalam Perang Uhud yang berakhir dengan kekalahan kaum Muslimin, Umar termasuk dalam 30 orang sahabat yang melindungi Rasulullah yang terluka saat kaum Quraisy memburunya di celah bukit Uhud.

“Umar dan beberapa orang Muhajirin serta Ansar menerjang ke depan dan menghalau kembali para penyerbu,” imbuh Syibli Nu’mani.

Pada masa kekhalifahan Abu Bakar, ekspedisi ke pelbagai wilayah telah dilakukan tapi masih dalam tahap awal. Sampai akhirnya khalifah pertama pengganti Rasulullah tersebut meninggal dunia.

Umar yang menjadi khalifah kedua meneruskan apa yang telah dilakukan khalifah pendahulunya. Di masa kekhalifahannya, Islam berhasil menaklukkan Irak, Suriah, Yerusalem, Persia, Mesir, dan lain-lain.

Subuh Terakhir dalam Hidup Umar

Pada tahun 23 Hijriyah atau 644 Masehi, di Madinah terdapat budak Persia bernama Firoz atau Fairuz yang nama keluarganya adalah Abu Lu’lu’i atau Abu Lu’lu’ah. Dialah orang yang membunuh Umar. Dalam pelbagai kisah yang menceritakan pembunuhan terhadap khalifah kedua tersebut, nama pembunuh yang kerap dipakai adalah Abu Lu’lu’ah.

Menurut sebagian sumber, motivasi Abu Lu’lu’ah membunuh Umar adalah dendam atas ditaklukkannya Persia oleh pasukan Muslim. Namun, terlepas dari benar tidaknya motivasi tersebut, berdasarkan catatan Syibli Nu’mani, pembunuhan terhadap Umar dilatari persoalan pajak.

Sekali waktu, Abu Lu’lu’ah datang menghadapi khalifah. Ia mengeluhkan pajak yang dibebankan tuannya, Mughirah bin Syubah. Ia meminta kepada Umar untuk mendesak tuannya agar menurunkan nilai pajak tersebut.

Umar bertanya kepadanya ihwal pekerjaan yang ia lakoni. Abu Lu’lu’ah menjawab bahwa ia bekerja sebagai tukang kayu, tukang cat, dan pandai besi. Menurut Umar, pekerjaan tersebut layak untuk dibebani pajak sebesar yang ia keluhkan.

“Jumlah (pajak) itu tidak banyak dibandingkan dengan pekerjaan yang menguntungkan ini,” kata Umar.

Abu Lu’lu’ah tidak terima dengan jawaban itu. Ia pun marah dan merencanakan untuk menghabisi Umar.

Keesokan harinya, Umar pergi ke masjid hendak salat Subuh berjamaah. Di sisi lain, Abu Lu’lu’ah yang Majusi pun pergi ke masjid dengan membawa sebilah belati. Saat Umar mulai mengimami salat Subuh, Abu Lu’lu’ah tiba-tiba menerobos dari belakang dan menghunjamkan belatinya sebanyak enam kali ke tubuh Umar. Salah satunya mengenai panggul.

Sang khalifah terkapar dan berlumuran darah. Sementara Abu Lu’lu’ah, dalam kondisi terpojok, juga melukai jemaah lain dan akhirnya bunuh diri.

Umar kemudian dibawa ke rumah. Ia lalu bertanya, “Siapa pembunuhku?”

“Firoz,” jawab orang-orang.

“Segala puji bagi Allah bahwa aku tidak dibunuh oleh seorang Muslim!” jawab Umar kembali.

Mulanya kaum Muslimin sedikit terhibur karena mereka mengira Umar akan pulih. Namun, saat tabib yang memeriksanya memberikan minuman hangat berupa campuran kurma dan susu yang diberikan kepada khalifah, minuman itu keluar dari luka-lukanya.

Sebelum meninggal, Umar menyuruh anaknya, Abdullah, untuk meminta izin kepada Aisyah, istri Rasulullah, agar ia dikuburkan disamping makam Rasulullah.

“Aku mempunyai pikiran untuk mencadangkan tempat ini bagi diriku, tetapi hari ini aku mengizinkan Umar didahulukan dari padaku,” ucap Aisyah.

Setelah mendapat jawaban dari Aisyah, Abdullah buru-buru kembali menemui ayahnya.

“Berita apa yang kau bawa kepadaku, oh anakku?” tanya Umar.

“Yang diharapkan memberikan kepuasan kepadamu,” jawab Abdullah.

“Itu adalah keiginanku yang paling besar,” kata Umar.

Pada 25 Zulhijah 23 Hijriyah atau 3 November 644, tepat hari ini 1374 tahun lalu, Umar bin Khattab, sahabat Rasulullah yang semula amat keras menentang Islam dan berbalik menjadi pembela Islam yang gigih itu, akhirnya meninggal dunia.

Syibli Nu’mani menerangkan, pemakaman Umar dilakukan oleh Shuhaib bin Sinan, Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Saad bin Abi Waqqas, dan Abdurrahman bin Auf yang menurunkan jenazah sang khalifah ke liang lahat.

“Dan sang cahaya yang menyinari dunia itu tersembunyi dalam bumi untuk selama-lamanya,” tulis Nu’mani. [•]

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

KLIKSATU CORNER

Advertisement

Facebook


Trending