Connect with us

Human Interest

Kisah Life of Aldi: Bertahan Hidup Sendirian di Samudra Pasifik

Published

on

KLIKSATU.CO.ID — Kisah Pi Patel dalam film Life of Pi (2012) yang terombang-ambing selama beberapa hari di Samudra Pasifik ternyata benar-benar terjadi di kehidupan nyata. Aldi Novel Adilang (19), remaja asal Desa Lansa, Kecamatan Wori, Kabupaten Minahasa Utara Provinsi Sulawesi Utara layak dijuluki Aldi Patel lantaran keteguhannya bertahan hidup di rakit yang terapung di Samudra Pasifik selama 49 hari.

Aldi bisa dibilang hidup dikelilingi laut. Ayahnya berprofesi sebagai nelayan. Rumah mereka tak jauh dari pantai. Setelah beranjak dewasa, Aldi bekerja sebagai penjaga lampu di rompong (rakit dengan bilik beratap di laut) dengan upah dua juta per bulan berdurasi kontrak selama setahun. Sorot lampu itulah yang memikat ikan-ikan datang dan menjadi hasil tangkapan.

Lokasi rompong ini bisa terbilang jauh dari rumah Aldi. Dia harus menempuh dua jam perjalanan untuk sampai di titik kumpul. Dari sana, kapal akan membawanya ke lokasi rompong, 125 kilometer dari pesisir utara Manado. Dari rompong itu, garis pantai jelas tak nampak lagi.

Setiap seminggu sekali, pemilik rompong datang dengan kapal untuk mengambil tangkapan ikan dan membawa keperluan ransum yaitu tiga kilo beras, bumbu, sayur, air tiga drum, tiga tabung gas kecil dan empat tabung bensin untuk generator lampu.

Namun pada pagi 14 Juli 2018, angin berhembus lebih kencang. Sialnya, tali rakit yang terhubung ke jangkar di dasar laut putus. Kawan Aldi di rompong lain sempat melihat kejadian tersebut. Tapi tidak bisa berbuat banyak apalagi menghentikan seketika karena jarak antar rompong bisa bermil-mil.

Biasanya, rakit yang hanyut ditemukan oleh kapal penangkap ikan lainnya. Tetapi ternyata rakit yang ditumpangi Aldi tidak melewati titik di mana kapal-kapal tersebut menunggu. Rakit Aldi terapung-apung menjauh dan terus menjauh.

Orangtua Aldi baru tahu kabar anaknya hilang dua hari sejak tali rakit putus. Bos tempat Aldi bekerja yang memberitahu langsung. Tentu saja mereka panik. Ayahnya gelisah sambil terus menelpon bos Aldi mendesak dilakukan pencarian. Ibunya juga sedang sakit dan ketika mendengar kabar putranya itu, ia sempat sesak nafas.

Apalagi, tidak setiap hari Aldi dan keluarganya berkumpul. Hanya setahun sekali saja biasanya Aldi pulang ke daratan. Terakhir kali ia berkumpul dengan keluarga terjadi pada bulan Maret kemarin. Menurut penuturan kakak ipar Aldi, bosnya sempat berbohong dengan menyebut Aldi di Filipina.

Di atas rakit yang terus bergerak terbawa arus laut itu, Aldi harus memutar otak keras untuk dapat bertahan hidup dengan perbekalan yang hanya cukup untuk satu minggu kedepan.

Petualangan Aldi Dimulai

Bak sedang mengukur luasnya Samudra Pasifik, rakit yang ditumpangi Aldi makin hari makin bergerak terus ke arah timur laut. Aldi sudah berusaha mencari pertolongan dengan handy talky (HT), namun tak berhasil tersambung ke manapun.

Seminggu pertama, Aldi bisa makan dari perbekalan yang tersisa. Namun setelah itu, asupan makannya jelas tersendat. Ia mulai bersiasat untuk bertahan hidup. Guna memastikan perutnya tetap terisi, ia mengail ikan laut, merebus dan memakannya. Ketika persediaan air minum habis, Aldi mengandalkan air laut yang diperas agar mengurangi kadar asin, juga memanfaatkan air hujan.

Beberapa hari kemudian isi tabung gas mulai habis. Aldi memakai potongan kayu di rakitnya untuk dijadikan kayu bakar. Mulai dari ikan direbus, dibakar sampai mentahan dilahap Aldi seekor dalam sehari agar ia tetap bisa hidup.

Kapal-kapal besar bukannya tak pernah Aldi jumpai. Ketika melihat kapal, lampu rompong juga sudah ia nyalakan, berteriak via HT, tapi hasilnya nihil.

Terapung sendirian di tengah Samudra Pasifik membuat Aldi putus asa. Pikirannya terus berputar-putar mengenai daratan dan orangtua. Dua hal yang ingin sekali dicapai secepatnya oleh Aldi. Sekitar pertengahan Agustus, rasa putus asa dalam diri Aldi tampaknya sudah mencapai titik akumulasi. Ia memutuskan bunuh diri.

“Saya sudah mau lompat ke laut. Karena saya berpikir sudah tidak dapat bertemu lagi dengan orangtua dan tidak bakal sampai ke daratan lagi. Jadi saya berpikir untuk bunuh diri saja.” tutur Aldi kepada Tirto, Kamis (27/9) lalu. Tapi ternyata dia memang belum ditakdirkan untuk meninggal. Dia bilang, ketika sudah ancang-ancang menceburkan diri ke laut, ia merasa ada yang menahan dan memberitahukan bahwa sebuah pertolongan akan datang.

Ternyata kebiasaan Aldi membaca Alkitab membuat dirinya memiliki motivasi bertahan hidup ekstra. Untuk membunuh sepi dan mengisi kekosongan, tiap hari Aldi mengaku duduk di depan pintu gubuk rompongnya itu lalu membaca Alkitab dan menyanyikan lagu rohani. Dia paling sering mendaras Mazmur, Yohanes, Yesaya, dan Matius 6:6 yang berisi Doa Bapa Kami untuk mengusir rasa takut.

“Ya memang kalau saya baca Alkitab itu saya punya pikiran menjadi senang, bahwa saya akan terpikir bisa sampai daratan dengan tidak kurang suatu apapun. Tetap andalkan Tuhan,” tutur Aldi.

Pada hari kedua rakitnya terombang-ambing, sekawanan hiu membuntutinya. Wajar bila Aldi mengaku ketakutan.

“Memang takut. Hiu berkumpul di bawah rakit terus. Saya gak apa-apakan ikan itu, saya biarkan dia ikut saya.” kenangnya yang juga melihat pemandangan penampakan separuh badan ikan raksasa lainnya.

Samudra Pasifik memang rumah bagi sekitar 86 spesies paus, lumba-lumba. Beberapa jenis mamalia besar yang terkenal di sini adalah paus biru, paus abu-abu, paus pembunuh dan paus bungkuk. Ukuran mereka memang raksasa, dari 6 meter hingga 30 meter. Beratnya bisa mencapai ratusan ton. Maka tak salah kalau Aldi sering melihat penampakan mamalia gigantis ini.

Nyaris semua yang dilakukan Aldi di atas rakitnya untuk bertahan hidup sudah sesuai prosedur bertahan hidup di tengah lautan. Mulai dari memancing ikan untuk dimakan, minum air hujan, mengirimkan sinyal pertolongan hingga tidak membuat gerakan frontal ketika kerumunan hiu mendekat.

Keselamatan Menghampiri Aldi

Pikiran Aldi yang masih menggantungkan asa pertolongan akhirnya terjawab pada 31 Agustus kemarin. Sebuah kapal tanker MV Arpeggioberbendera Panama yang bergerak ke Tokuyama, Jepang mendengar teriakan “help” dari HT Aldi. Rompong itu ditemukan terombang-ambing di perairan Guam, barat Samudra Pasifik. Ini artinya, Aldi terombang-ambing  sejauh 1.931 kilometer dari tempatnya semula.

Dalam video yang direkam awak kapal MV Arpeggio, tampak Aldi diberi pertolongan tali dan pelampung agar mendekat ke badan kapal. Selanjutnya para awak kapal menjulurkan tangga ke bawah dan Aldi berusaha meraih menaiki tangga tersebut. Berjuang cukup keras, Aldi akhirnya bisa naik dengan selamat ke dek kapal. Para awak kapal memberinya handuk, minuman dan beberapa potong makanan.

Menurut rilis Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Osaka, Kapten kapal MV Arpeggio langsung berkoordinasi dengan Coast Guard Guam, meneruskan pesan ke Coast Guard Jepang, dan akhirnya mengirim pemberitahuan tentang misi penyelamatan Aldi pada KJRI Osaka.

Sementara kapal MV Arpeggio sedang menuju Tokuyama membawa Aldi, KJRI Osaka mengurus berbagai proses administrasi. Keluarga dan Aldi berhasil dihubungi pada 3 September. Pada 6 September pukul 15.00 waktu Jepang, barulah kapal MV Arpeggio melempar sauh.

Pada 9 September pukul 10.20 WITA kemarin, Aldi mendarat dengan selamat di Manado dan pulang ke kampung halaman berkumpul dengan sanak keluarganya. Keinginan sederhana Aldi untuk bisa pulang dan bertemu keluarganya terkabul. [•]

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Human Interest

Keluarga Korban Pesawat Jatuh: Jangan Anggap Murah Nyawa Penumpang

Published

on

By

KLIKSATU.CO.ID | JAKARTA — Sehari usai jatuhnya pesawat Lion Air JT-610 rute Jakarta menuju Pangkal Pinang di Perairan Tanjung Karawang, Pendiri dan CEO Lion Air Group Rusdi Kirana menjanjikan memberi biaya hidup selama di Jakarta dan dana penguburan jenazah kepada keluarga korban.

“Kami berusaha mulai besok memberikan uang Rp5 juta untuk biaya hidup mereka di sini. Kalau ada jenazah yang ketemu, kami akan kasih uang Rp25 juta untuk penguburan. Ini semua di luar klaim asuransi, di luar klaim Jasa Raharja, di luar klaim asuransi kami,” kata Rusdi, di Hotel Ibis Cawang, Jakarta Timur, Selasa (30/10/2018) beberapa waktu lalu.

Duta Besar RI untuk Malaysia itu mengaku, pemberian dana itu sebagai usaha terbaik yang bisa ia lakukan, meski belum tentu cukup untuk meringankan keluarga korban.

Namun hingga kini, Lion Air belum menghitung biaya ganti rugi untuk korban. Direktur Umum Lion Air Edward Sirait menegaskan saat ini pihaknya masih fokus pada pencarian korban dan bangkai pesawat.

“Ya kami bicara itu (proses pencarian) dulu. Sekarang ini enggak kepikir apa-apa, kepikir nyari pesawatnya,” kata Edward saat dihubungi wartawan Kliksatu.co.id.

Terkait kompensasi, Edward hanya bisa mengatakan, Lion Air akan mengacu ke Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub). Sedangkan dalam Pasal 3 huruf a Permenhub Nomor 77 Tahun 2011 (PDF), diatur mengenai ganti kerugian terhadap penumpang yang meninggal akibat kecelakaan ialah sebesar, Rp1.250.000.000 per penumpang.

Selain kompensasi dari pihak maskapai, Pelaksana Administrasi Jasa Raharja Ajie Syarif mengaku, pihaknya siap memberikan santunan sebesar Rp50 juta kepada keluarga korban yang berhak menerima santunan. Santunan itu akan diserahkan jika telah dipastikan penumpang Lion Air JT-610 tersebut meninggal dunia.

“Buat santunan. Satu orang Rp50 juta. Seluruhnya dapat,” kata Ajie.

Hingga kemarin siang, Ajie memperkirakan sudah 110 keluarga korban yang menyerahkan data diri. Jumlah tersebut diperkirakan bertambah karena belum semua keluarga korban terdata.

Nantinya, PT Jasa Raharja memberikan santunan melalui RS Polri, sebagai pihak yang memastikan korban telah meninggal dunia.

Namun apakah rentetan uang pengganti nyawa yang hilang itu bisa menggantikan keberadaan korban yang meninggal? Bagaimana jika berkaca pada korban kecelakaan pesawat yang terjadi sebelumnya?

Kerugian Permanen Keluarga Korban

28 Desember 2014 menjadi hari yang mencemaskan bagi Adityas Warih. Pada hari itu, pesawat yang ditumpangi suaminya, Christophorus Nanang Priyo Widodo jatuh di perairan Selat Karimata.

Pesawat Air Asia dengan nomor penerbangan QZ8501, rute Surabaya menuju Singapura, dinyatakan hilang kontak sekitar pukul 06.17 WIB. Dalam perjalanan tersebut, kapal terbang itu mengangkut 155 penumpang dan 7 kru pesawat.

Kakak Widodo, Lukas J. Pramudiono menceritakan kepada saya, hingga saat ini keluarganya masih menuntut Air Asia memberikan kompensasi. Sebenarnya Air Asia telah menawarkan kompensasi sesuai Permenhub 77/2011, tapi Lukas dan puluhan keluarga korban lainnya tak setuju dengan besaran tersebut, apalagi penyebab kecelakaan itu murni kesalahan dari maskapai.

“Bukan kami enggak mau menghormati ketentuan yang sudah ditentukan pemerintah, tapi yang jadi masalah, alasan dari Air Asia itu maintenance yang dulu statusnya jelas-jelas adalah rudder-nya (bagian pesawat) itu ada bermasalah,” ujar Lukas.

Lukas menjelaskan, berdasarkan hasil penyelidikan tim KNKT, telah terjadi kerusakan yang berulang pada bagian rudder sejak November 2014. Seharusnya, maskapai mempertimbangkan untuk meng-grounded pesawat (tak bisa diberangkatkan) karena harus diperbaiki dahulu.

“Sekarang kan pihak keluarga seperti sudah hancur terus kemudian (maskapai) hanya (seperti) nyawa itu enggak ada harganya. Di situ kami tuntut apa perubahan yang harus dilakukan, kalau kayak gini terus, nah ini terbukti, sekarang Lion Air juga kayak gitu,” jelasnya.

Hingga saat ini, Lukas menyesalkan buruknya sistem manajemen transportasi komersial yang ada di Indonesia. Maskapai seolah ragu memberikan garansi bahwa pesawat tak akan jatuh saat terbang. Hal itu, kata Lukas, terbukti dari kacaunya perawatan dan kontrol yang dilakukan pemerintah dan maskapai.

Tak hanya itu saja, Lukas pun meminta pemerintah Indonesia dan maskapai untuk berpikir tentang masa depan dari keluarga korban. Terlebih jika diantara korban ada yang menjadi tulang punggung keluarga, seperti Widodo.

“Orang-orang yang ditinggal seperti adik ipar saya yang ditinggal suaminya, sementara dia harus membesarkan anaknya, sementara dia juga sekarang lagi sakit kanker,” keluhnya.

“Dengan kompensasi yang ditentukan pemerintah Rp1,250 miliar, apa yang bisa kami lakukan dengan itu?” imbuhnya. [•]


Wartawan: Abdullah Kelrey | Editor: Saiful Haris

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

KLIKSATU CORNER

Advertisement

Facebook


Trending