Connect with us

Sosok

Hidup dan Mati Gembong Narkoba: Pablo Escobar

Published

on

KLIKSATU.CO.ID — Di jalanan kota Medellin, Kolombia, Jose Giraldo menjajakan berbagai cenderamata termasuk stiker ikonik sosok Pablito. Gambar Pablito adalah salah satu dari banyak gambar tokoh ikonik lainnya yang diabadikan di dalam stiker, seperti Che Guevara, Yesus Kristus, sampai Hello Kitty.

“Yang paling laris adalah Pablito” kata Gilardo, seperti dikutip BBC.

Pablito, tidak lain adalah Pablo Escobar, seorang pemimpin kartel Madellin yang mencapai titik kekuasaan dengan mengontrol 80 persen perdagangan kokain di seluruh dunia.

Orang seperti Giraldo bukanlah satu-satunya yang menaruh nilai positif terhadap sosok Escobar. Ada banyak orang Kolombia terutamanya dari kalangan miskin kota yang menganggapnya sosok pahlawan dan mengaguminya sebagai seorang yang dermawan lagi murah hati.

Escobar sohor karena kerap beramal dan terlibat dalam pembangunan fasilitas umum seperti sekolah-sekolah, lapangan olahraga, perumahan dan pengembangan bagi masyarakat miskin kota.

Roberto Escobar, saudaranya, dalam bukunya berjudul The Accountant’s Story: Inside the Violent World of the Medellín Cartel menceritakan bahwa Pablito memiliki relasi yang natural dan harmonis terhadap kaum miskin kota. Karena kegemarannya akan olahraga, lapangan olahraga, berbagai fasilitas hingga sponsor dana untuk tim sepak bola anak-anak ia kucurkan dari kekayaannya.

Saat kemenangan Atlético Nacional meraih juara prestisius Copa Libertadores tahun 1989, Pablito turut dipercaya sebagai aktor dibalik kemenangan klub kebanggaan kota Medellin tersebut karena suntikan dananya.

Karena kiprahnya menjajakan kokain internasional, ia berjibaku melindungi bisnisnya dengan melawan pemerintah Kolombia dan berkampanye melarang kebijakan ekstradisi penjahat ke Amerika Serikat. Perintah pembunuhan dari mulut Escobar tak terhitung jumlahnya. Mulai dari anggota polisi, jurnalis, pejabat tinggi hingga dan politisi pernah meregang nyawa karena aktivitasnya melawan kerajaan kokainnya.

Namun, banyak orang terutama di Medellin tetap memandangnya positif karena Escobar mampu mendistribusikan kekayaannya kepada orang miskin.

Perspektif lain juga menjelaskan tentang fenomena ini. Escobar dalam titik kekuasaannya mampu memberi ancaman untuk mengacaukan politik Kolombia, sistem peradilan dan bahkan politik perang internasional Amerika Serikat terhadap obat-obatan. Pemerintah Kolombia sendiri kala itu sedang tidak mampu mengangkat warganya dari jerat kemiskinan.

Beberapa waktu yang lalu, giliran Wiz Khalifa, rapper kondang berambut dreadlock asal Amerika Serikat ini dalam penampilannya di kota Medellin menyempatkan diri ke makam Pablo Escobar. Pada unggahan foto di akun instagram pribadinya, ia memberi penghormatan kepada mendiang Pablito serta membawa berbagai bunga yang diteletakkan di nisan.

Wiz Khalifa juga mengunggah foto ketika ia sedang merokok di dekat makam Escobar, dan menurut laporan CNN tampaknya lintingan tersebut adalah ganja. Juga beberapa foto lainnya ketika dirinya berpose di lokasi pemboman dan tempat kehidupan Escobar di era 80-an.

Tak hayal, kecaman terhadap Wiz Khalifa makin menjadi. Termasuk Fredico Guiterrez, Walikota Medellin yang menyebut foto-foto Wiz Khalifa bertema Medellin itu tidak sopan.

“Itu bajingan, alih-alih membawa bunga untuk Pablo Escobar, ia harusnya membawa bunga untuk para korban kekerasan di kota ini,” kata Gutierrez dalam sebuah wawancara dengan media lokal. “Dia harus meminta maaf kepada kota ini.”

Beberapa pengecam lainnya mengkritik rapper tersebut sembari mengunggah ulang foto Wiz Khalifah di lokasi tempat Escobar pernah berkuasa. Wiz Khalifa kemudian mengutarakan pembelaannya di akun Instragram-nya. Ia tak bermaksud menyinggung siapapun, tulisnya.

Escobar dari Medellin

Lelaki bernama lengkap Pablo Emilio Escobar Gaviria ini lahir pada 1 Desember 1949 di sebuah pedesaan bernama Rionegro, sebagai anak ketiga dari tujuh bersaudara. Ibunya, Hermilda, adalah seorang guru sekolah dasar, dan ayahnya Abel adalah petani.

Medellin di era kolonial adalah pusat pertambangan di Kolombia. Wilayahnya berada di daerah dataran tinggi dan warganya mengembangkan budaya mereka sendiri. Dalam tesis Jenna L. Bowley berjudul Robin Hood or Villain: The Social Constructions of Pablo Escobar,masyarakat Medellin sudah memiliki tradisi dalam hal penyelundupan.

Menurut anaknya, Sebastián Marroquín, ayahnya terjun dalam dunia kriminal melalui praktik berjualan ijazah perguruan tinggi palsu. Umumnya, praktik ini dilakukan melalui kampus Universidad Autonoma Latinoamericana di Medellin, seperti dituliskan dalam buku berjudul Pablo Escobar, My Father.

Secara lahiriah, para penduduk Medellin adalah orang yang agresif, ambisius, pekerja keras dengan kepala keras yang mendambakan uang serta status sosial. Pepatah orang Medellin juga menguatkan dengan bunyi “Jika anda sukses, kirim uang, dan jika gagal jangan pulang ke rumah.”

Tahun 1970an, Medellin mulai menjadi tempat para sindikat kejahatan terorganisir yang menghasilkan banyak uang dari penyelundupan berbagai jenis barang termasuk narkotika. Untuk urusan pasar narkotika, Medellin kala itu belum menjadi barang utama dan umum di Kolombia. Sebelum 1973, sebagian besar kokain diproduksi di Chili yang mendapat pasokan daun koka dari Peru dan Bolivia, dan penyelundup Kolombia berperan sebagai penghubung ke Amerika Serikat.

Produksi kokain beralih ke Medellin ketika pada 1973 Jenderal Augusto Pinochet menguasai Chili. Ia mengakhiri bisnis kokain di Chili dan para penyelundup Kolombia mengambil alih produksi kokain ke negaranya khususnya Medellin. Pasokan daun koka masih berasal dari Peru dan Bolivia.

Bagai gayung bersambut, akhir 1970an kokain menjadi tren yang melanda Amerika Serikat terutamanya di kalangan anak muda. Permintaan seketika meledak dan Kolombia berada di posisi yang sempurna untuk mengisi permintaan pasar Amerika Serikat.

Escobar sendiri mulai masuk ke dunia perdagangan narkotika pada 1973.

Sebelumnya, dunia kriminal dilalui Escobar dengan menculik Diego Echavarría seorang pemilik pabrik yang kaya di Envigado. Sosok Ecgavarria sendiri sangat tidak disukai oleh kalangan pekerja kelas bawah karena kerap memecat dan menggusur rumah pekerja untuk perluasan properti miliknya. Escobar menculik pemilik pabrik ini dan meminta tebusan sebesar $50 ribu. Namun, tubuh bos tersebut ditemukan di galian lubang dekat rumah Escobar.

Meski tidak ada bukti yang menjelaskan lebih detail atas perbuatan pembunuhan Escobar terhadap bos tersebut, tapi keterlibatan yang dialamatkan kepadanya juga tidak berusaha disangkal oleh Escobar. Peristiwa tersebut tampaknya yang menaikkan pamor pribadi Escobar. Di mata pekerja kelas bawah, ia merupakan pahlawan karena berhasil menumbangkan penguasa lokal. Penduduk setempat menjulukinya sebagai El Doctor dan menjadikannya legenda setempat.

Escobar kemudian mulai merambah ke dunia perdagangan narkoba. Pada 1976, ia pernah ditangkap bersama sepupunya saat melintasi perbatasan Ekuador dengan 39 pin kokain saat memberi uang pelicin kepada petugas setempat.

Kiprahnya sebagai pedagang kokain terus meroket. Ia juga akrab berurusan dengan pihak kepolisian. Bersamaan dengan itu, gelontoran dana deras mengalir ke kantung Escobar, ketika ia menginjak usia 26 tahun, tabungannya di bank telah mencapai lebih dari $3 juta.

Laporan Bussines Insider menyebut, pada pertengahan 1980an dan bagian dari puncak kejayaaannya, kartel Medellin dipercaya mampu meraup hingga 420 juta dollar per minggu, dan berarti sekitar 22 miliar dollar per tahunnya.

Bahkan menurut penuturan saudaranya, kelompok kartel Medellin di bawah komando Escobar membelanjakan $1.000 per minggunya untuk membeli gelang karet guna membungkus tumpukan uang dan disimpan di gudang mereka. 10 persen dari tumpukan tersebut dilaporkan rusak dan hilang per tahunnya karena dimakan tikus, terendam air, dan hilang.

Sebagian besar uangnya dihabiskan untuk dirinya sendiri, keluarganya dan berbagai perlindungan untuk bisnisnya. Termasuk tindakannya yang membangun berbagai fasilitas umum dan membagikan uang tunai kepada orang miskin. Tindakannya ini praktis memenangkan dukungan rakyat.

Escobar dengan cepat menjadi dikenal secara internasional sebagai jaringan narkoba terkenal lewat kartel Medellin. Ia menguasai sebagian besar pasar obat yang masuk ke Amerika Serikat, Meksiko, Puerto Rico, Republik Dominika, Venezuela, dan Spanyol.

Pemerintahan Kolombia sendiri bukannya tidak tahu. Mereka berusaha keras untuk menutup operasi bawah tanah yang dimiliki Escobar. Bentrokan antara pemerintah dan para pedagang obat terlarang ini sering pecah dan mewarnai tahun-tahun panjang kekerasan di Kolombia.

Meski begitu, Pablo Escobar bisa semakin besar lewat penjualan kokain karena ia juga menyuap para jajaran pejabat, hakim, dan politisi. Ia juga turut terlibat dalam kematian ratusan orang termasuk warga sipil, polisi dan pejabat negara.

Tingkat pembunuhan di Kolombia meningkat karena Escobar yang menggelontorkan uang kepada pembunuh bayaran untuk menumpas polisi. Sebagai hasilnya, laporan dari Boston Globe menyebut 600 polisi meregang nyawa di tangan anak buah Escobar. Belum lagi keterlibatannya dalam pembunuhan calon presiden Luis Carlos Galán yang difavoritkan menang dalam pemilu Kolombia tahun 1990 dan serangkaian aksi lainnya.

Pada 1985, Escobar disebut-sebut turut mendukung gerakan kelompok gerilyawan sayap kiri Kolombia bernama M-19 saat menyerbu Mahkamah Agung sebagai jawaban atas konstitusi perjanjian ekstradisi dengan Amerika Serikat dan membunuh setengah dari seluruh hakim di tempat tersebut. M-19 mendapat titipan dengan dibayar untuk membakar semua dokumen yang berisi daftar para penyelundup kokain yang akan diekstradisi ke Amerika Serikat, salah satunya terdapat nama Escobar.

Pertengahan tahun 1991, operasi pemerintah Kolombia terhadap Escobar baru tampak serius. Dengan dibantu Amerika Serikat di bawah pasukan khusus, memaksa raja kokain dunia ini menyerah dengan negosiasi bahwa ia akan mengunci diri di penjara yang didesainnya sendiri di dataran tinggi dekat Medellin bernama La Caterdal bergelimang fasilitas mewah.

Namun pada pertengahan 1992, pemerintah Kolombia mendapati bukti bahwa Escobar masih menjalankan bisnis kokain di balik jerujinya. Pengepungan dilakukan aparat Kolombia ketika dirinya berhasil melarikan diri dan menghabiskan waktunya bersembunyi dalam kejaran aparat yang kian membesar dan terlatih.

Sewaktu dia berpindah-pindah lokasi persembunyian membawa keluarganya, ia pernah membakar uang tunai sebanyak $2 juta guna menghangatkan badan mereka dari cuaca dingin.

Akhir Hidup Escobar

Gabungan Komando Operasi Khusus Amerika Serikat yang terdiri dari Delta Force and Centra Spike (DEVGRU) melatih satuan khusus dari kepolisian Kolombia pemburu Escobar bernama Search Bloc. Selagi Escobar berkonflik dengan pasukan Kolombia dan Amerika Serikat, serangan lain kepada kelompok Escobar juga terjadi dari musuh-musuh kartel Medellin.

Dilaporkan Los Angeles Times, kelompok ini bernama Los Pepes yang melakukan serangan ke anggota kartel Medellin dengan serangan berdarah dan membabi buta.

Belasan dan bahkan lebih rekan Escobar yang meliputi pengacara, kerabat dibunuh. Dan sejumlah besar properti dari kartel Medellin dihancurkan. Anggota Search Bloc bersama badan intelijen Kolombia dan Amerika Serikat bersekongkol dengan Los Pepes dan bahkan melakukan pencarian bersama.

Di bawah pimpinan Brigadir Hugo Martinez, tim tersebut mengawasi dan melacak transmisi telepon radio dan menemukannya bersembunyi di Los Olivio, sebuah kampung kelas menengah di Medellin. Baku tembak terjadi saat pasukan mengepung tempat persembunyiannya yang berisi Escobar dan pengawal pribadinya Alvaro de Jesús Agudelo.

Dalam kronologi penangkapan yang dirilis U.S Drug Enforcement Administration, kedua burnonan ini berusaha melarikan diri dengan berjalan di atap rumah, di saat itulah keduanya ditembak polisi Kolombia. Dilaporkan Escobar mengalami luka tembakan di kaki dan tubuh bagian atas, dan yang paling fatal adalah tembakan di telinga.

Kontroversi yang meliputi penembakan mati Escobar adalah tidak ada yang mengetahui secara pasti siapa yang melepaskan tembakan hingga tepat di telinganya atau proses itu dilakukan setelah ia terjatuh. Beberapa kerabat Escobar percaya ia mengakhiri hidupnya sendiri dengan menembakkan diri tepat di telinga.

Dalam buku Kenneth Robert berjudul Zero Hour: Killing of the Cocaine King memuat keterangan dari saudara Pablito, Roberto Escobar dan Fernando Sánchez Arellano yang menyebut bahwa raja kokain pernah mengutarakan bahwa ia akan menembak dirinya sendiri melalui telinga.

Segera setelah kematian Escobar, pasar kokain beralih tangan didominasi oleh rivalnya kartel Cali sampai pertengahan 1990an ketika pemimpinnya dibunuh.

2 Desember 1993 menjadi akhir hidup raja kokain dunia asal Rionegro yang pada akhir dekade 1980an memasok 80 persen kokain dunia, dan menyelundupkan 15 ton ke Amerika Serikat tiap harinya. Escobar yang telah menjadi ikon layaknya sosok Robin Hood bagi warga Medellin terutamanya kaum miskin kota banyak yang meratapi kematiannya.

Buku Virginia Vallejo berjudul Loving Pablo Hating Escobar menyebut pemakamannya dihadiri oleh 25.000 orang. [•]

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sosok

Zulkifli Hasan, Sosok Tokoh Inspiratif bagi Generasi Milenial

Published

on

By

KLIKSATU.CO.ID | BANDA ACEH — Aceh memiliki banyak tokoh inspiratif yang dapat dijadikan motivasi bagi generasi milenial (muda). Setiap tokoh memiliki pengalaman dan ceritanya masing-masing dalam meniti karir dan kontribusi untuk masyarakat Aceh seperti Drs. H. Zulkifli Hasan, MM.

Zulkifli Hasan lahir 10 Maret 1957, Ie Alang, Indrapuri, Aceh Besar. Tempat tinggal Gampong Pineung, Syiah Kuala, Kota Banda Aceh. Zulkifli Hasan menceritakan kepada Wartawan Kliksatu.co.id tentang dirinya terkait kiprah selama di Pemerintahan Aceh, Lampineung, Senin (12/11/2018).

Meniti karir dan mengabdi kepada pemerintah dan masyarakat, dirinya berawal dari Guru SD Lam IIie Kec. Indrapuri Kabupaten Aceh Besar. Saat itu, menjadi PNS (pengajar) di Sekolah Dasar Lam Ilie. Selama mengajar di SD tersebut, banyak muridnya mendapatkan prestasi baik antar sekolah maupun tingkat Kabupaten.

Mantan Kepala Bappeda Sabang ini menambahkan, beranjak dari Guru SD dirinya mendapatkan amanah yang lebih berat yaitu menjadi Kepala Sekolah Lam Ilie. Beliau mencoba memperbaiki managemen sekolah, hingga sekolah tersebut dari tidak populer sampai populer. Terutama sekali, melahirkan murid-murid sekolah yang siap bersaing di tingkat kabupaten dan provinsi.

Adapun karir selama mengabdi kepada Pemerintah dan masyarakat Aceh dimulai dari Guru SD Lam Ilie, Kepala SD Lam Ilie, Kepala Sub Bagian Umum Bapeda, Ketua Bapeda Kota Madya Daerah TK II Sabang, Kepala Bapeda Kota Sabang, Asisten Administrasi Pembangunan Aceh Besar, PLT. Kadis Dinas Perindakop dan UMK Aceh Besar, Pj. Walikota Sabang, Kepala BPM Aceh, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Aceh, Asisten Keistemewan Aceh dan PLT. Walikota Sabang.

Katanya, “Bila menceritakan satu persatu secara detail terkait kontribusi saya maka butuh waktu lama. Namun, saya ingat semua dan itu bisa saya ceritakan satu Persatu”. Perlu digaris bawahi, saya bukan berasal dari keluarga kaya, saya berasal dari keluarga yang sangat-sangat sederhana. Saya terus berjuang, berusaha dan berdoa. Saya sangat bersyukur kepada Allah SWT, apa yang saya peroleh sudah melebihi dari cukup.

Diumur yg sudah 62 tahun dan pensiunan dari Pegawai Negeri Golongan IVe, semangat mengabdi kepada masyarakat terus membara dalam dirinya. Saat ini, dirinya menjadi Koordinator Pengajian Jamaah Safari Subuh setiap minggu sekali. “Saya orangnya tidak bisa santai, tidur saja 4 jam. Jiwa saya terus ingin mengabdi kepada masyarakat,” katanya. [•]


Penulis: Sahar | Editor: Saiful Haris

Continue Reading

Sosok

Cerita Lion Air dan Rusdi Kirana: dari Calo Tiket hingga Maskapai

Published

on

KLIKSATU.CO.ID | JAKARTA — Pesawat Lion Air JT-610 dipastikan jatuh di perairan dekat Tanjung, Karawang, Jawa Barat pada Senin (29/10/2018). Pesawat jenis boeing 737 ini terbang dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Pangkalpinang, Bangka Belitung pada pukul 06.20 WIB.

Pada pukul 06.33 WIB pesawat yang membawa penumpang 178 orang dewasa, 1 anak, 2 bayi infant, 2 kru, dan 6 awak kabin itu kehilangan kontak. Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) pada pukul 9.50 WIB memastikan bahwa pesawat itu jatuh di perairan dekat Tanjung, Karawang.

Jatuhnya pesawat tersebut tersebut menambah panjang daftar kecelakaan Lion Air sejak maskapai ini didirikan pada 1999.

Lion Air adalah pelopor penerbangan murah di Indonesia. Niat awal pendiri maskapai ini sebenarnya bagus, yaitu agar penerbangan bisa dijangkau banyak orang. Tapi niat baik itu kadang-kadang tidak diikuti dengan pelayanan yang prima bagi para penumpangnya.

Inilah sepenggal riwayat Lion Air dan bagaimana Kirana bersaudara membangun maskapai berlogo singa ini.

Bermula dari Calo Tiket

Ada Wright bersaudara dari Amerika yang merancang agar pesawat buatannya bisa terbang pada awal abad ke-20. Di pengujung abad, Kirana bersaudara dari Cirebon yang membuat agar lebih banyak orang bisa naik pesawat, lewat penerbangan murah di Indonesia.

Kirana bersaudara, Kusnan dan Rusdi, bukan anak konglomerat. Keduanya memulai usaha dari bawah dan tak langsung punya pesawat di tahun-tahun pertama bisnis mereka.

Semasa kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Pancasila, Rusdi Kirana nyambi sebagai calo tiket di Bandara Soekarno-Hatta. “Pekerjaan sambilan inilah yang membuatnya tahu dunia penerbangan,” catat Gatra No. 52 X (13/11/2004).

Selulus Rusdi kuliah, bermodal uang keringat dari jadi calo, ditambah uang dari abangnya, Kusnan, dua bersaudara itu mendirikan sebuah biro perjalanan. Berhubung keduanya berzodiak Leo, maka biro perjalanan itu diberi nama “Lion Tour”.

Saat itu, sudah ada beberapa maskapai penerbangan selain Garuda Indonesia Airlines (kini jadi Garuda Indonesia). Pemerintah setidaknya memiliki Merpati Nusantara Airlines. Selain itu ada Bouraq Airlines, Sempati Air, dan Mandala Air sebagai maskapai penerbangan swasta yang beroperasi di Indonesia.

Sekitar 13 tahun Rusdi menjalankan biro perjalanannya. Meski terbilang pelaku dalam bisnis penerbangan, Rusdi dan abangnya terhitung belum apa-apa di masa Orde Baru.

Rusdi mengaku, suatu kali dirinya bertemu direktur maskapai penerbangan Vietnam. Satu pertanyaan penting yang diajukan Rusdi kepada direktur itu adalah: mau dibawa ke mana penerbangan nasional Vietnam? “Akan saya bawa menjadi penerbangan umum,” jawab sang direktur.

Jawaban itulah yang terus terngiang dalam benak Rusdi.

Agar Semua Orang Bisa Terbang

Rusdi muda tentu insyaf, penerbangan di Indonesia pada masa Orde Baru bersifat elitis, hanya orang-orang berduit yang bisa menjangkaunya. Rusdi pun bermimpi agar naik pesawat bukan lagi kemustahilan bagi orang Indonesia kebanyakan. Tentu saja, cekaknya modal yang dimiliki Rusdi juga sebuah kemustahilan.

Setelah Soeharto tumbang dari kursi kepresidenan, bisnis Rusdi dan Kusnan menyongsong era baru. “Saat itu, izin penerbangan belum dibuka,” ungkap Rusdi kepada Gatra.

Begitu izin terkabul pada 1999, Rusdi, yang sudah menyiapkan dana, mendaftarkan maskapainya. Pesawat pertama tidak beli baru atau dimiliki sendiri, tapi menyewa, yaitu sebuah pesawat buatan Rusia. Soal nama yang dipakai, Rusdi mengaku, “Saya pakai nama Lion Air.”

Tekad Rusdi Kirana soal penerbangan umum yang bisa menerbangkan siapa saja masih terngiang. Artinya, Kirana bersaudara harus rela mengadakan tiket dengan harga murah. “Mohon maaf, transportasi udara di Indonesia dulu itu penipuan,” tutur Rusdi.

Bagi Rusdi, harga tiket Jakarta-Medan sebelum 2004 yang mencapai Rp1,1 juta atau Jakarta-Manado yang mencapai Rp 2,1 juta adalah tipu-tipu. Di tangan Kirana bersaudara, tiket Jakarta-Medan pada 2004 bisa diperoleh mulai harga Rp300.000 dan Jakarta-Manado dengan harga mulai dari Rp400.000. Dengan harga tadi, Rusdi mengaku dirinya baik-baik saja.

Perusahaan milik Kirana mersaudara itu, seperti disebut dalam situs resmi Lion Air, “secara hukum didirikan pada tanggal 15 November 1999 dan mulai beroperasi pertama kali pada tanggal 30 Juni 2000.”

Kala itu, Lion Air melayani penerbangan rute Jakarta-Pontianak dengan armada dua unit pesawat tipe Boeing 737-200.

Dalam hitungan lima tahun, dua pesawat yang dioperasikan Lion Air itu beranak-pinak. Gatra menyebut, pada 2004 Lion Air telah mengoperasikan 23 pesawat dengan 130 kali penerbangan tiap harinya; baik di Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Vietnam.

Masih menurut situs resmi Lion Air, saat ini armada yang dioperasikan mencapai 112 pesawat yang terbagi dalam beberapa tipe seperti Boeing 747-400, Boeing 737-800, Boeing 737-900 ER, dan Airbus A330-300.

Ada Harga, Ada Rupa

Pada 2011, Lion Air membeli banyak pesawat dari Amerika yang sedang dilanda krisis ekonomi. Ini dianggap pertanda bahwa Lion Air makin membesar. Kirana bersaudara pun mengembangkan unit usaha mereka di bawah bendera Lion Air Group. Mereka menciptakan merek-merek lain dalam bisnis penerbangan: Wings Air, Batik Air, Lion Bizjet, Malindo Air (Malaysia), dan Thai Lion Air (Thailand).

Dengan mengatasnamakan diri sebagai PT Lion Mentari Airlines, Lion Air berkantor pusat di Lion Air Tower, Jl. Gajah Mada No. 7 Jakarta Pusat. Di Bandara Soekarno-Hatta, gedung Lion Air terlihat besar dan tampak dominan di Terminal 1.

Menurut majalah Forbes, duo Kirana berada di peringkat 33 dari 50 orang terkaya di Indonesia per 29 November 2017. Kekayaan mereka mencapai 970 juta dolar Amerika.

Sejak 2013, Rusdi Kirana terjun ke dunia politik. Dia memilih Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sebagai kendaraan politiknya. Pada 2014, Jokowi menunjuk Rusdi sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Tiga tahun kemudian, ia diangkat sebagai Duta Besar RI untuk Malaysia.

Hingga hari ini, Lion Air masih mendaku diri sebagai maskapai penerbangan berbiaya rendah (Low Cost Carrier) dengan jargon “We Make People Fly.” Maskapai ini tentu punya tempat di hati para pengguna jasa maskapai penerbangan Indonesia.

Tapi pepatah lama “ada harga, ada rupa” memang berlaku di mana-mana, tak terkecuali di dunia penerbangan. Harga tiket murah tentu berbanding lurus dengan kualitas pelayanan dan besarnya risiko yang ditanggung penumpang. Dalam soal ketepatan waktu, misalnya, Lion Air bisa dibilang tidak begitu baik. Lion Air dikenal sebagai maskapai yang armadanya sering delay. [•]

Continue Reading

Sosok

Si Bung yang Maju Caleg Demi Orang Pinggiran ?

Published

on

By

Foto : Fitriadi Lanta bersama rekan mahasiswanya saat aksi unjukrasa tahun 2006. (Doc Pribadi)


“Berbuatlah tanpa pamrih,

berjuang demi rakyat yang terabaikan,” Fitriadi Lanta.


MASYARAKAT miskin maju jadi Calon Legislatif (Caleg) ?, telah ada buktinya. Bahkan bergelut di dunia organisasi menjadi bekal memahami politik, tak hanya sebentar dari masa ke masa dengan almamater lembaga berbeda. Dengan pemahaman kritis dan tindakan nyata ia dikenal.

Pemuda ramah sekaligus humoris setiap harinya menghabiskan waktu berdagang susu kambing, menjajakan minuman sachet dengan berpindah-pindah tempat demi menghidupi keluarga. Kondisi ekonomi yang merosot tak memurungkan niatnya maju.

“Bung Fiks,” sapaan untuk lelaki bernama lengkap Fitriadi Lanta, anak pesisir yang lahir pada 7 Mei 1978. Hidup sederhana semenjak kecil, sudah terbiasa untuk bekerja keras itu meski hanya berusia remaja. Ia juga Alumni dari Universitas Muhammadiyah Aceh ini berani maju sebagai Calon Legislatif untuk melawan gengsi.

Karir organisasinya dimulai sejak tahun 1998 sebagai ketua umum KAPA kala itu ia masih remaja, tak tertelan masa ia juga menempuh pendidikan tinggi pada tahun 2002 di Universitas Muhammadiya Aceh, modal tekad da nisi kantong pas-pasan membuat ia tak minder dihadapan mahasiswa lain.

Kala menyemat gelar mahasiswa ia pernah di percayai sebagai Ketua Umum Sombep, ikut terlibat dalam aksi mendesak oprasional Universitas Teuku Umar (UTU) kini menjadi universitas jantung barat selatan. Hingga ia lulus pada tahun 2008 semangatnya masih ada untuk berjuang. Tahun 2012 ia membentuk organisasi Komunitas Muda Barat Selatan Aceh (KMBSA) untuk menjadi corong bagi masyarakat menyampaikan aspirasi. Hingga saat ini salah satu yang diperjuangkan organisasi tersebut ialah terwujudnya pembangunan Terowongan Gurute.

Foto : Fitriadi Lanta saat berorasi di depan masyarakat korban gempa dan tsunami Aceh saat masih berstatus mahasiswa. (Doc Pribadi)

Di Desa Ujong Baroh, Kecamatan Johan Pahlawan, Aceh Barat (tempat ia tinggal) dipercaya sebaga juru bicara pemuda, “Melawan Gengsi, bahwa masyarakat miskin kota juga dapat untuk menjadi peserta Pemilu,” kata Fitriadi saat bincang-bincang bersama KLIKSATU.CO.ID di Meulaboh.

(lebih…)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

KLIKSATU CORNER

Advertisement

Facebook


Trending