Connect with us

Lifestyle

Viral ! Dua Wanita di Langsa Adu Jotos Lepas Hijab

Published

on

Scrinshot video adu jotos dua wanita di kota Langsa.

KLIKSATU.CO.ID | LANGSA — Kejadian tak patut di contoh terlihat dalam sebuah rekaman video berdurasi 2 menit 7 detik yang di unggah oleh Akun Sosial Media Facebook Suhela Herawati pada minggu (14/10/2018), dalam video tersebut terlihat dua wanita melakukan adu jotos dengan melepas hijab yang di gunakan, perkelahian keduanya di duga memperebutkan seorang laki-laki, hal ini terjadi di samping sekolah Muhammadiyah Langsa.

Usai di unggah, 2 jam tayang sekurangnya sudah di tonton sebanyak 1.657 tayangan, 25 komentar dan 30 kali di bagikan.

“Kita sibuk sibuk dengan urusan yg lain sehingga kita lupa bahwa urusan akhlak adalah yg terpinting #kemabalilah menjadi manusia berakhlak wahai generasi penerus bangsa”. Tulis Suhela Herawati di lini masa akun Facebook nya di tambah emoticon sedih.

Dalam Video tersebut terlihat wanita yang melakukan adu jotos tersebut, satu di antaranya menggunakan baju hijau celana pink dan baju bergaris zebra dan celana hitam, semula keduanya menggunakan jilbab sesaat kemudian jilbab yang di kenakan keduanya di lepas dan terjadi pertengkaran yang di saksikan oleh gadis-gadis lainnya.

Dari Video yang di unggah tersebut mencul komentar – komentar dari penguna sosial media Facebook yang berkomentar di status Facebook Suhela Herawati, berikut komentar pengguna jejaring maya.

“Rusak kali sudah, sdh bisa mulai razia besok di jalan itu,yg kedapatan langsung tangkap masukkan penjara,” Komentar akun Facebook Daud Moorlife langsa.

“Itu kl ngk slh dkt sd muhamad diah dpn gereja luar biasa aklak ank sekarang ngk patut d contoh ap yg sedang d ributkan oleh mereka,” cuit komentar akun Facebook Saifulbahri.

“Keren ya cabe”an tuu mau berantem ganti baju duluuu, trus buka jaket duluuu, Buka jelbb dulu Carik pasal duluuu baru hantam”an Tuuu ortu nya yg g ngajarin etika bicara AP mmg gaya ank nya yg sok keras gtu,” Komentar Lubis Febriana Vie.

“Sedih liatnya ya Mak….jaman kita bandel2 tetap ada sopan santun dan tata Krama……semoga kita bisa mendidik anak2 kita Mak,” Komentar akun Facebook Leni Sari.

Tak berlangsung lama, Video tersebut kembali di unggah akun Instagram Tanyoe Langsa, selama 45 menit di unggah sekurangnya sudah di tonton oleh 5.245 dan 423 komentar.

Dalam akun tersebut di tuliskan judul, “Krisis Moral”.

“Mita vs Lesly, Alucard cuma liatin aja di dukung kawannya berantam, krisis moral jaman Now, penyebab dari suara Video yang terunggah di FB Suhela Herawati, akibat lakik, jadikan ini pelajaran jangan gara-gara lakik adu jotos, buat kalian semua laki-laki dan perempuan ga cuma 1 di Langsa, masih banyak yang jomblo, jadi mohon bersabar.” Ujar Tanyoe Langsa dalam akun Instagram nya.

Tanyoe Langsa juga menyebutkan bahwa kejadian tersebut terjadi di samping Sekolah Muhammadiyah Langsa.

“Lokasi samping sekolah Muhammadiyah
Tulis tanyoe Langsa,”. Tulisnya.

Saat melakukan pertengkaran, terdengar suara adzan dari mesjid, Namun keduanya tidak menghentikan perkelahian hingga keduanya terguling – guling di aspal. [•]

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lifestyle

Sepatu, Bukan Sekadar Alas Kaki

Published

on

By

KLIKSATU.CO.ID – LEBIH dari sekedar fungsinya sebagai pelindung kaki, sepatu menjadi bagian dari industri gaya hidup. Bagi sebagian kelompok masyarakat, sepatu juga menjadi barang koleksi. Mereka yang masuk dalam kelompok masyarakat ini tak segan merogoh kocek hingga jutaan rupiah untuk menambah koleksi sepatu mereka.

Sebagai bagian dari tren gaya hidup, sepatu menjadi barang pelengkap padu padan dalam berbusana. Lebih jauh, komodifikasi sepatu mampu menghadirkan fanatisme terhadap merek tertentu baik bagi perempuan maupun laki-laki.

Hasil jajak pendapat Litbang Kliksatu.co.id, menunjukkan sebagian besar publik memiliki setidaknya lima pasang sepatu.

Perempuan lebih banyak mengoleksi sepatu ketimbang laki-laki. Separuh dari responden perempuan mengaku memiliki enam hingga 10 pasang sepatu.

Bahkan 16 persen responden perempuan yang berhasil diwawancarai, mengaku memiliki lebih dari 11 pasang sepatu. Sementara responden laki-laki dalam survei ini mengaku paling banyak memiliki lima pasang sepatu.

Sekitar empat dari sepuluh responden mengaku mengoleksi sepatu karena lingkungan pekerjaan yang menuntut mereka untuk selalu tampil trendy.

Sementara itu, sepertiga publik mengoleksi sepatu sebagai bagian dari kelengkapan padupadan dalam berbusana.

Sebagian responden lainnya mengaku mengoleksi sepatu karena kebutuhan, fanatik terhadap merek tertentu, sekedar hobi, atau bahkan untuk investasi.

Kegemaran mengoleksi sepatu memunculkan sejumlah komunitas pecinta sepatu. Komunitas-komunitas ini menjadi wadah bagi para penggemar sepatu untuk bertemu dan bertukar informasi tentang sepatu favorit mereka.

Penggemar Sepatu
Kegemaran mengoleksi sepatu, bagi sebagian orang sepertinya memberi efek ‘kecanduan’.

Jajak pendapat menunjukkan setidaknya ada separuh publik yang membeli sepatu sekali dalam setahun. Sementara, ada sepertiga publik yang membeli sepatu sebanyak 2-3 kali dalam setahun. Sisanya, membeli sepatu sebanyak tiga pasang bahkan lebih dari lima kali dalam setahun.

Kegemaran mengoleksi sepatu tidak hanya milik mereka yang berusia muda (17-38 tahun). Responden yang berusia antara 39 hingga 50 tahun ternyata paling banyak membeli sepatu dalam setahun.

Sebagian terbesar responden dalam rentang usia ini rata-rata membeli sepatu sebanyak dua hingga empat kali dalam setahun. Tak heran, mereka adalah kelompok responden dengan pendapatan yang lebih mapan.

Kegemaran terhadap sepatu membawa berbagai kelompok usia bertemu dan bersatu dalam wadah komunitas yang sama. Ada komunitas yang terbentuk karena kesamaan pada jenis sepatu tertentu, namun ada pula karena kesamaan merek sepatu yang diminati.

Setiap anggota komunitas berkumpul secara rutin untuk berbagi cerita dan pengalaman dengan sepatu merek andalan. Mereka memiliki kepuasan tersendiri ketika berhasil membeli sepatu dengan merek favorit.

Salah satu komunitas penggemar sepatu adalah 3foil.id. Komunitas ini bermula dari sebuah komunitas penggemar sepatu merk Adidas di Facebook.

Kecintaan akan sepatu Converse juga telah menyatukan publik penggemarnya lewat Converse Head Indonesia atau biasa disingkat CHI. Komunitas ini berawal dari forum daring Kaskus dengan nama awal ‘We Love Converse’.

Ada pula komunitas Griffon’s Army, yang fanatik pada sepatu merek Macbeth, sepatu berbahan baku vegan (material berbahan 100 persen non-hewani). Macbeth gencar meng-endorse band-band rock dengan genre punk, pop punk, emo, hardcore, dan post-hardcore.

Sementara itu, penggemar model sepatu bot berdesain klasik dan berkualitas bermerek Doctor Martens bergabung dalam komunitas Docmarters.

Ada juga komunitas yang beranggotakan penggemar model sepatu jenis khusus. Salah satunya adalah penggemar sneaker (jenis sepatu bersol karet) yang tergabung dalam Indonesia Sneaker Team.

Para penggemar sneaker biasa menyebut diri mereka sebagai sneakerhead. Umumnya, mereka membeli dan memakai sneaker sesuai dengan tren mode yang sedang berkembang.

Selain mengoleksi sneaker, sneakerhead juga memperjualbelikan sepatu-sepatu edisi khusus atau terbatas kepada sesama pencinta sneaker, atau melakukan modifikasi sehingga mendapatkan nilai jual yang lebih tinggi.

Komoditas
Fungsi dasar sebagai alas kaki masih menjadi pertimbangan utama bagi 42 persen responden dalam membeli sepatu.

Namun demikian faktor harga, model/tren terbaru, merek, kenyamanan, dan kualitas juga mempengaruhi publik saat memutuskan membeli sepatu.

Sebagian publik tak ragu merogoh kantong lebih dalam untuk mendapatkan sepatu yang diminati. Biaya yang dikeluarkan untuk membeli sepatu pun tak sedikit.

Sebagian terbesar publik menganggarkan maksimal Rp 500 ribu untuk membeli sepasang sepatu. Namun, ada sekitar satu dari sepuluh responden membeli sepatu dengan kisaran harga Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta. Bahkan, ada sebagian kecil yang rela membeli sepatu berbandrol harga lebih dari Rp 1 juta.

Daya beli yang menjanjikan mendorong penjualan sepatu global kian menggeliat. Data dari Transparency Market Research yang dikutip dari laman Global News Wire (7/9/2015) menyebut pasar sepatu global akan mencapai 220,2 miliar dolar AS atau 10.974.000 unit pada tahun 2020.

Perhitungan tersebut juga didukung oleh data lain yang dilaporkan oleh Washington Post (17/3/2015) di mana pada tahun 2014 pembeli dari kelompok generasi milenial menghabiskan 21 miliar dolar AS untuk sepatu, naik enam persen dari tahun sebelumnya.

Khusus untuk sepatu sneaker, SportsOneSource menyebut pasar sepatu jenis ini di tingkat internasional telah tumbuh lebih dari 40 persen sejak 2004 (www.forbes.com, 7/9/2015). Sementara itu di Indonesia, Kementerian Perindustrian mencatat pertumbuhan industri alas kaki juga meningkat 2 persen dari 4,6 miliar dolar AS pada tahun 2016 menjadi 4,7 miliar dolar AS pada 2017.
Tak hanya jual dan beli sepatu baru, pasar sepatu bekas pakai (second hand) juga membentuk kelompok peminat yang cukup besar terutama bagi para kolektor sepatu.

Sepatu bekas pakai bermerek seperti Nike, Adidas, Docmart memiliki pasar yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Sepatu Docmart bekas pakai yang masih berkualitas baik, dapat dijual kembali seharga lebih dari Rp 1 juta.

Coba tengok laman ataupun aplikasi jual-beli dan akun-akun media sosial yang banyak menawarkan sepatu bekas secara daring. Penggemar sepatu koleksi tersebut bisa dengan mudah memilih dan menawar barang yang menjadi incarannya.

Seperti digambarkan Forbes,  di laman jual-beli khusus sepatu bekas seperti stockX.com tak kurang dari 20.000 pasang sepatu bekas berbagai merek ditawarkan secara daring, sebagian di antaranya dibandrol harga yang tinggi.

Sebagai contoh sepasang sepatu Nike Air Maxlawas dapat dijual hingga 3.200 dolar AS. Jika menggunakan kurs Rp 14.000 per dolar saja harganya setara dengan Rp 44,8 juta.

Di laman yang lain seperti ShoeFax.com sepatu model retro Air Jordan 5 Quai 54 Friends & Family keluaran Nike dijual seharga lebih dari Rp 50 juta!

Begitulah, bagi para kolektor sepatu nilai sepasang sepatu tak lagi diukur sebatas pada fungsinya sebagai alas kaki. [•]

Continue Reading

Lifestyle

Oppo Uji Coba Pasangi Modem 5G

Published

on

By

Ilustrasi 5G

KLIKSATU.CO.ID | VENDOR-vendor perangkat keras dan gadget bersiap menyongsong kedatangan jaringan seluler generasi ke-5 alias 5G, yang dijadwalkkan mulai rollouttahun depan.

Oppo pun tak mau ketinggalan. Pabrikan ponsel asal China itu belakangan mengumumkan telah sukses menguji coba koneksi 5G dengan smartphone yang tersedia secara komersil.

Smartphone dimaksud bukan model baru yang dikembangkan dari awal untuk mendukung 5G, tapi ponsel seri R15 keluaran awal tahun ini, yang dimodifikasi dengan penambahan modem 5G X50 besutan Qualcomm.

Koneksi 5G yang berhasil diujicoba dengan Oppo R15 dan X50 ini sesuai dengan standar 3GPP release 15 NSA, menggunakan 5G NR band n78 dengan lebar pita 20 MHz dan 4G LTE band 5 dengan lebar pita 10 MHz.

Band n78 merupakan band 5G NR yang saat ini paling banyak dijadikan acuan di seluruh dunia. Ada kemungkinan band ini pula yang akan digunakan untuk penggelaran awal 5G pada 2019. Karena itu, band n78 dipandang memiliki nilai komersial tinggi.

Sebelumnya, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari GizmoChina, Selasa (28/8/2018), pada Mei lalu, Oppo telah mendemonstrasikan panggilan video call 5G pertama di dunia dengan teknologi 3D structured light.

Kecepatan transmisi yang dicatat ketika itu mencapai 1,46 Gbps untuk downlink dan 160 Mbps untuk uplink.

Kini, setelah sukses melakukan uji coba di perangkat komersil yang beredar di pasaran, waktu kemunculan perangkat 5G pertama dari Oppo mungkin tak lama lagi. Pihak Oppo sendiri pernah berjanji bakal menjadi salah satu brand pertama yang merilis smartphone 5G ke pasaran. [•]

Continue Reading

Lifestyle

Telkomsigma Perkuat Layanan Mobile Cloud

Published

on

By

KLIKSATU.CO.ID | JAKARTA – Telkomsigma memperkuat layanan MobileCloud, dengan merilis aplikasi layanan ini, pada momen hari Kemerdekaan RI ke-73 dan Asian Games 2018. Untuk memeriahkan dua acara penting itu, Telkomsigma menggelar kegiatan Join Selfie and Groupfie Contest dengan MobileCloud.

MobileCloud adalah layanan yang terintegrasi, mulai dari fitur gratis penyimpanan 16 GB selama tiga bulan dan dapat dilakukan upgrade hingga 128 GB melalui paket-paket yang tersedia, sebagai media penyimpanan seluruh jenis data (video/foto/file) berbasis cloud yang sangat efektif dan efisien, memudahkan masyarakat dalam penggunaannya baik dalam menyimpan dan melakukan sharing data.

Layanan ini dapat diunduh melalui Playstore dan Appstore. Terdapat tiga jenis layanan, yakni penyimpanan pribadi, fitur travel, dan transaksi voucher game. Ke depan, akan semakin banyak fitur yang di tambahkan, seperti TVonCloud, Big Data on Cloud, bahkan hingga pembayaran telepon, pembelian pulsa, asuransi dan lain-lain.

“Zaman sekarang masyarakat tidak perlu repot atau khawatir lagi ponsel atau komputer kehabisan memori, karena sudah ada mobile cloud yang aman dan didukung oleh pusat data Telkomsigma,” ujar Direktur Retail Business SolutionTelkomsigma Achmad Soegiarto dalam keterangan resmi, akhir pekan lalu.

Sebelumnya, dalam mendukung era ekonomi digital, Telkomsigma bersama IndiHome melakukan inovasi solusi IT berbasis cloud, yaitu IndiServer dan IndiStorage. Solusi ini diperuntukan bagi para pelaku bisnis sektor usaha kecil menengah (UKM), startup, dan pribadi.

Indiserver ditawarkan dalam bentuk mesin virtual (vMachine) dengan konfigurasi CPU, RAM yang sudah ditentukan, dan tempat penyimpanan data (storage) yang dapat diperbesar. IndiServer memberi konsumen CPU, RAM, tempat penyimpanan data, serta perangkat lunak berlisensi. [•]

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

KLIKSATU CORNER

Advertisement

Facebook


Trending