Connect with us

Opini

Cerita Cet Langet

Published

on

Oleh: Dr.  Sulaiman Tripa, SH, MH

KLIKSATU.CO.ID | SAYA jarang menemukan anak muda yang ketika berjumpa, sesekali kita ajak duduk di warung kopi, bercerita dengan bersahaja tentang apa yang sedang dilakukannya, dengan penuh perasaan bahagia. Saya mendengar cerita tentang hampir semua rumah yang sudah dan sedang dibangun. Kesantunan dalam menggambarkan apa yang sedang dilakukan, sosok ini sangat super, dengan tidak menyepelekan banyak sekali kontribusi orang lain di sekitarnya.

Suatu kali ia sempat bercerita, dan saya waktu itu takjup. Katanya, ia bukan siapa-siapa kalau tidak ada orang-orang yang di sekitarnya. Ia juga tidak bisa melakukan apa-apa, jika tanpa banyak orang yang membantunya. Bahkan, ia sering menerima bantuan untuk diteruskan kepada yang berhak, yang bahkan ia belum kenal wajahnya.

Tidak semua orang bisa seperti itu. Orang yang ingin menyumbang pasti sudah mempelajari banyak hal tentang apa yang kita lakukan. Kecacatan apapun dalam menjaga kepercayaan, pada akhirnya menggambarkan posisi kita. Saya merasakan anak muda ini memiliki kepercayaan yang tinggi dari banyak orang, yang justru era ini, kepercayaan semacam ini tidak kita miliki.

Sering saya berpikir, apakah anak muda seperti ini punya cukup waktu untuk berekrasi seperti konsep rekreasi yang kita bayangkan. Kita selalu berpikir yang namanya rekreasi itu hanya untuk bersenang-senang di tempat tertentu dan terpisah dengan arena sosial. Mungkin ia berhasil mengubah kesan ini, dengan konsep bahwa berbahagia dalam konteks rekreasi itu, tidak mesti melalui tempat-tempat yang indah. Ia berhasil meraih kebahagiaan dengan bekerja secara bersahaja membantu banyak orang.

Dari facebook, saya bisa memahami bagaimana ia bisa menjadikan apapun untuk rekreasi. Bersama keluarga, ia bisa kemana-mana yang mungkin ia anggap sebagai rekreasi. Padahal dalam berbagai kesempatan itu, ia sedang menunaikan tugas penting yang akan membuatnya pihak yang dituju akan menangis bahagia berkali-kali.

Mungkin Anda bisa membayangkan seberapa sering ia keluar kota, bersama keluarganya. Dengan waktu yang sudh ia bagi sedemikian rupa. Saya yakin dia dan keluarga merasakan kebahagiaan atas aktivitas yang dilakukan, sehingga memungkinkan anak muda ini bisa melakukan banyak hal untuk orang lain secara bahagia.

Saya tidak terlalu dekat dengan anak muda ini. Edi Fadhil. Bahkan di almamater, ia masuk saat saya sedang mencari pintu keluar. Suatu saat, ia menelepon saya meminta isi satu materi tentang mukim dan gampong. Saat itu, ia mengelola satu sekolah yang ia namakan dengan sekolah demokrasi di Aceh Utara. Seingat saya, sekolah ini berpindah dari satu tempat ke tempat lain, dengan peserta yang berbeda-beda. Di dalam sekolah itu, saya mendapatkan peserta dari profesi yang beragam. Jangan dibayangkan bahwa sekolah komunitas seperti ini, hanya diikuti oleh mereka yang dari kampus saja.

Ia menjemput saya di terminal minibus L-300 Lhokseumawe, lalu dibawa terlebih dahulu ke tempat mereka berkumpul (sekretariat). Sepanjang perjalanan, ia bercerita secara bersahaja apa yang menjadi impiannya selama ini. Salah satu yang saya ingat persis, saat ia bermimpi bahwa suatu saat, siapa saja di kampung-kampung, bisa melaporkan peristiwa apapun yang terjadi di kampungnya. Orang-orang akan mampu menulis, paling minimal, dengan bahasa yang teratur untuk menulis di media sosial yang dimiliki.

Itulah wujud cet langet. Namun tanggal 8 Juni 2015, ia menggerakkan “Program Cet Langet” dalam wujud yang lain. Tanggal 7 September 2017, saya pernah menulis satu esai lepas tentang cet langet ini. Apa yang saya tulis, sebenarnya juga ditentukan oleh momentum tertentu. Waktu itu, Selasa, 5 September 2017, saya ikut dalam peluncuran buku di Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala. Anak muda itu, Edi Fadhil, alumni FH angkatan 2002, turut menyampaikan sambutannya saat itu. Sambutan secara khusus dan tak biasa, dikarenakan undangan panitia peluncuran buku. Bukan itu saja menjadi sebab. Satu buku yang ditulis Dr. Teuku Muttaqin Mansur, ternyata menyumbangkan seluruh keuntungan bukunya untuk program cet langet tersebut.

Cet langet itu tidak biasa, melainkan luar biasa. Tanggal 1 Agustus 2018, ia menulis status facebook-nya, peh boh plang untuk pembangunan rumah ke-49 di Blang Dalam, Peusangan, Bireuen. Bayangkan, sudah 49 rumah. Sesekali bahkan saya bayangkan bagaimana wajah mereka yang tiba-tiba mendapat bantuan rumah itu.

Selain rumah, ada juga yang lain. Apa yang disebut sebagai “super store” sudah pada angka 51. Ia masuk dari satu kampung ke kampung lain. Setiap ada informasi yang memungkinkan diverifikasi, ia datang dan lihat secara langsung. Bahkan proses menginisiasi pembangunan salah satu madrasah, berhasil diwujudkan di Pameue, Kecamatan Rusip Antara, wilayah tengah Aceh.

Tidak semua manusia memiliki semangat begini rupa. Ia memiliki kelebihan yang tidak dimiliki banyak orang lain. Betapa ia berhasil mengubah menjadi bahagia dengan bisa membantu banyak orang. Saya kira virus ini yang ingin saya tuliskan, yang dimiliki anak muda ini.

Suatu kali saat jumpa, ia bercerita tentang banyak orang yang membantunya. Orang-orang yang direkrutnya itu sama sekali tidak dibayar. Hanya mereka yang rela berkorban yang memungkinkan untuk bergabung. Bukankah ini sangat luar biasa?

Saya tidak ingin menghitung-hitung berapa banyak ia sudah berkorban dengan perasaan bahagia. Tulisan sederhana ini hanya ingin memberi samangat agar tidak pernah berhenti memimpikan yang orang lain bahkan bermimpi saja mungkin tidak. Pada akhirnya saya ingin semakin banyak orang yang bisa menyebarkan virus perbuatan baik ini.

Bagi saya, ia harus memiliki mimpi-mimpi lain yang lebih besar. Saya ingin menitipkan doa agar ia selalu sehat dan bia berbuat baik untuk orang yang lebih banyak. Semoga! []

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Opini

Referendum Catalunya: Kisah Kemerdekaan yang Gagal di Barcelona

Published

on

By

KLIKSATU.CO.ID — “Di hari yang penuh harapan dan penderitaan ini, warga Catalunya telah memenangkan hak untuk sebuah negara merdeka dalam bentuk republik,” kata Pemimpin Catalan, Carles Puigdemont, dalam sebuah pidato televisi.

“Pemerintahan saya, dalam beberapa hari ke depan, akan mengirimkan hasil pemungutan suara hari ini kepada parlemen Catalan, di mana kedaulatan rakyat kita terbengkalai, sehingga bisa bertindak sesuai dengan hukum referendum.”

Oktober menjadi bulan yang panjang bagi wilayah di selatan Spanyol ini. Di bulan itu, Catalunya berupaya merdeka dari Spanyol. Referendum dilakukan dan hasilnya pun menggembirakan. Sebanyak 90 persen dari 2,26 juta warga yang mencoblos memilih “Ya” alias menghendaki kemerdekaan.

Raihan itu lantas dirayakan dengan gegap gempita. Sejumlah besar pendukung kemerdekaan berkumpul di pusat ibu kota Barcelona, melambai-lambaikan bendera, dan menyanyikan lagu kebangsaan. Pesta berlangsung tanpa henti, bersuka cita menyambut hari esok yang sudah lama dinanti.

Diadang Pemerintah Spanyol

Referendum merupakan babak baru dari kebuntuan proses-proses politik antara pemerintah pusat dan Catalunya. Otoritas Catalunya sudah lama menginginkan kemerdekaan dari Madrid. Catalunya beranggapan, Madrid berlaku tidak adil dengan mengeruk kekayaan Catalunya serta menolak hak untuk menentukan nasib sendiri (self-determination).

Wacana untuk merdeka sudah direncanakan sejak Juni 2017 dan disetujui parlemen provinsi tiga bulan setelahnya. Puigdemont mengatakan, Madrid tidak dapat lagi menahan hasrat Catalunya untuk merdeka, terlebih parlemen telah mengetok palu tanda setuju.

Namun, Madrid tak tinggal diam. Perdana Menteri Mariano Rajoy mengecam wacana referendum Catalunya sebagai tindakan melanggar hukum. Ia lantas mendesak Mahkamah Konstitusi menunda keputusan yang telah disahkan parlemen Catalunya.

Selain itu, Madrid juga menempuh langkah-langkah riil: mengontrol penuh anggaran otonomi, memaksa kepolisian daerah untuk menerima komando dari Garda Sipil Spanyol, menangkap para pejabat yang terlibat perencanaan referendum, menyita sekitar 10 juta surat suara, dan menutup situs-situs berisikan informasi referendum.

Penolakan Madrid kian menjadi-jadi saat referendum dilaksanakan. Sebagaimana dilaporkan The New York Times, referendum mulanya berjalan kondusif. Laki-laki, perempuan, muda dan tua, hingga anak-anak saling bernyanyi dan bertepuk tangan jelang pencoblosan. Tapi, situasi berubah panas tatkala aparat dari pusat datang ke tiap TPS dan memaksa membubarkan agenda coblosan.

Bentrok pun tak terhindarkan. Ratusan warga terluka akibat kericuhan tersebut. Banyak pihak menilai, kekerasan yang dilakukan aparat kepolisian hanya akan meningkatkan militansi warga Catalunya untuk menentukan nasib sendiri—sebuah aspirasi yang telah mengalir sejak abad ke-19.

“Hari ini, Spanyol telah kehilangan lebih banyak dari yang telah hilang dan warga Catalunya telah menang lebih banyak dari yang didapatkan,” ungkap Puigdemont saat berbicara di keramaian Sant Juli de Ramis. “Citra Spanyol telah mencapai tingkat memalukan yang akan melekat bersama mereka selamanya.”

Di saat bersamaan, Soraya Saenz de Santamaria, Wakil Perdana Menteri Spanyol, justru memuji aparat kepolisian karena telah bersikap profesional dengan menghalangi pemungutan suara yang semestinya “tidak boleh dirayakan.”

Kandas Dilibas

Pada 27 Oktober 2017, tepat hari ini setahun lalu, parlemen Catalunya resmi mendeklarasikan kemerdekaan dari Spanyol. Namun, beberapa jam setelahnya, pemerintah Spanyol menggugurkan deklarasi itu dengan membubarkan parlemen serta menyerukan pemilihan lokal untuk menggantikan hasil referendum.

“Pemimpin Catalunya [Carles Puigdemont] memiliki kesempatan untuk kembali ke jalan yang legal dan mengadakan pemilihan umum di wilayah tersebut. Keputusan ini diinginkan oleh mayoritas rakyat Catalunya, namun ia tak menginginkannya. Oleh sebab itu pemerintah Spanyol mengambil langkah yang diperlukan untuk mengembalikan Catalunya ke jalan yang legal,” terang Rajoy.

Intervensi terhadap Catalunya, klaim Rajoy, merupakan “sesuatu yang belum pernah terjadi” dan harus dilakukan demi “memulihkan keadaan.” Tak lupa, Rajoy juga memecat Puigdemont dan anggota kabinet lain yang berada di belakangnya.

Kegagalan Catalunya untuk merdeka tentu bikin Madrid lega. Mereka tak jadi kehilangan wilayah yang selama ini jadi andalan negara dalam menggenjot perekonomian. Kendati hanya menguasai 6 persen wilayah Spanyol dan 16 persen keseluruhan populasi, Catalunya mampu menyumbang 20,1 persen GDP Spanyol pada 2015 dan berkontribusi pada produksi barang ekspor yang mencapai 25,6 persen dari total ekspor Spanyol pada 2016.

Tak sekadar itu, sumbangan pajak dan pendapatan dari sektor pariwisata Catalunya untuk Spanyol juga cukup tinggi: 21 dan 38,8 persen. Di mata para investor, Catalunya adalah wilayah Spanyol yang paling menarik dan cocok dijadikan ladang investasi. Sebanyak 56,3 persen dari investasi di sektor startup di Spanyol pada 2015 mengalir ke Catalunya dengan nilai mencapai 371 juta euro.

Laporan berjudul “Foreign Direct Investment in Barcelona” (PDF) menyebutkan, hampir sepertiga dari seluruh perusahaan asing di Spanyol memilih ibu kota regional Barcelona sebagai basis mereka. Tingginya investasi asing di Barcelona dipengaruhi ekosistem bisnis yang kondusif, biaya tenaga kerja yang kompetitif, transportasi, infrastruktur logistik, bandara, serta pelabuhan Barcelona yang menawarkan peluang perdagangan global yang menguntungkan karena dapat mengakses Amerika dan Asia.

Semua Salah Franco

Gerakan kemerdekaan Catalunya telah dimulai sejak diktator fasis Fransisco Franco berkuasa pada 1939. Di bawah Franco, penggunaan bahasa Catalunya dilarang dan semua institusi pemerintah setempat dihapus untuk mengakhiri regionalisme di Spanyol. Setelah pemerintahan Franco berakhir pada 1975, keadaan perlahan berubah. Pemerintah Spanyol mengembalikan status Catalunya sebagai wilayah otonom.

Pada 2010, sekitar 25 persen masyarakat Catalunya menyatakan ingin merdeka dari Spanyol. Setahun kemudian, menurut Pusat Studi Opini Catalunya, lebih dari 30 persen masyarakat Catalunya mendukung kemerdekaan. Jumlah ini meningkat menjadi 57 persen pada 2012.

Melihat terus naiknya suara pro-kemerdekaan tiap tahunnya, upaya lebih serius pun dilakukan pada 2014. Pemungutan suara informal dilaksanakan pada bulan November. Hasilnya, sekitar 2,25 juta dari total 5,4 juta warga Catalunya memilih merdeka. Mantan Presiden Catalunya, Arthur Mas, memuji hasil tersebut sebagai kesuksesan besar.

Berkaca dari itu, Mas mendorong adanya referendum formal di masa depan dengan membandingkan situasi Skotlandia yang melakukan referendum pada September 2014. Pada 2017, wacana referendum kembali muncul dan didukung 41,1 persen warga Catalunya.

Secara garis besar, terdapat dua alasan mengapa Catalunya getol menuntut merdeka.Alasan pertama ialah krisis ekonomi 2008, yang telah menyebabkan kenaikan angka pengangguran dan utang di Spanyol, tak terkecuali di Catalunya. Berdasarkan data pemerintah dari 2005 hingga 2016, ditemukan korelasi yang tinggi antara dukungan kemerdekaan dan pengangguran di Catalunya.

Masyarakat Catalunya percaya bahwa Madrid punya andil besar dalam krisis tersebut. Asumsi ini diperkuat lagi dengan permintaan Madrid kepada Catalunya untuk membayar pajak lebih tinggi dibanding wilayah lain guna memperkuat perekonomian wilayah miskin di Spanyol. Menurut Reuters, Catalunya membayar pajak senilai 12 miliar dolar per tahun kepada Madrid. Nyatanya, jumlah pajak sebesar itu tidak berkorelasi dengan besarnya imbalan yang diperoleh Catalunya.

Seketika isu pajak, krisis finansial, pengangguran, hingga rasa terabaikan yang dialami Catalunya menghidupkan kembali gejolak separatisme.

Alasan kedua, keputusan Madrid untuk membatalkan pemberlakuan Undang-Undang Peradilan Konstitusi 2010. Dalam perkembangannya, undang-undang tersebut bertujuan untuk meningkatkan kedaulatan dalam Statuta Otonomi Catalunya agar setara dengan konstitusi. Kedua alasan di atas meyakinkan masyarakat Catalunya bahwa kehidupan mereka akan menjadi lebih baik apabila berada di bawah kendali pemerintahan sendiri.

Sejak saat itu, Madrid gigih menentang referendum dengan alasan bahwa tindakan tersebut dilarang konstitusi 1978, yang salah satu pasalnya berbunyi “setiap wilayah merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dari Bangsa Spanyol.”

Tuntutan referendum juga didasari politik identitas yang kuat. Budaya, tradisi, hingga bahasa Catalunya telah memberikan identifikasi ataupun karakter yang melekat pada setiap masyarakat Catalunya. Menurut penelitian, dua nilai suci Catalunya dianggap memotivasi gerakan kemerdekaan, yakni menentukan nasib sendiri dan melindungi identitas Catalunya.

Dari studi-studi yang ada, penolakan terhadap aspirasi separatis umumnya hanya akan memperbesar gerakan kemerdekaan lebih jauh. Sampai referendum itu terjadi, masih banyak orang yang bingung memilih. Namun, setelah Madrid menolak referendum mentah-mentah, banyak yang kecewa dan menyatakan dukungan atas kemerdekaan.

Memburuknya situasi di sekitar referendum Catalunya pada 2017 silam menunjukkan satu hal: demokrasi tidak berjalan baik. Hammad Sheikh, Angel Gomez, dan Scott Atran dalam studinya menyebutkan hanya 23 persen orang Spanyol yang menganggap demokrasi sebagai sesuatu yang sakral.

Berdasarkan hasil wawancara dengan berbagai warga di Spanyol, Hammad Sheikh dan kawan-kawan menyimpulkan bahwa turunnya kepercayaan masyarakat disebabkan karena pemerintah pusat tidak responsif dalam memenuhi kebutuhan warga.

Bagi masyarakat Spanyol (yang menjadi narasumber dalam studi tersebut), demokrasi Spanyol adalah ketika para pejabat mencuri jutaan uang rakyat, tanpa peduli nasib warganya, dan memprioritaskan kekuasaan pribadi belaka. Partai Rakyat yang saat itu berkuasa, misalnya, terlibat dalam 65 kasus korupsi. Sikap Perdana Menteri Rajoy yang kerap membela para tersangka pun dinilai mengecewakan.

Walaupun rezimnya sudah berakhir, bau amis warisan yang ditinggalkan Franco nyatanya tetap kekal. [•]


Penulis: Faisal Irfani

Continue Reading

Opini

Syariat Islam di Aceh Besar Antara Harapan dan Kenyataan

Published

on

By

Penulis: Usman, M.Si – Wakil Rektor bidang Akademik Universitas Abulyatama

KLIKSATU.CO.ID — PELAKSANAAN Syariat Islam adalah menjadi keharusan di Kabupaten Aceh Besar, karena Aceh Besar merupakan salah satu kabupaten di Aceh yang notabane malaksanakan syariat Islam sesuai dengan perda No 5 tahun 2000 tentang pelaksanaan Syariat Islam. Apalagi di periode ini yang memegang tampuk kekuasaan adalah kalangan pasantren. Artinya pasti bakal ada terobosan kebijakan dalam pelaksanaan syariat Islam di Aceh Besar.

Selama ini pemerintah baik bupati dan wakil bupati hadir dalam berbagai komunitas masyarakat, selalu menyampaikan keseriusan mereka dalam implementasi syariat islam. Diantara respon cepat yang dilakukan bupati dan wakil bupati, adalah wajib memakai jilbab bagi pramugari pesawat yang mendarat di Blang Bintang yang merupakan wilayah Kabupaten Aceh Besar. Kebijakan ini jadi sorotan media-media nasional dan lokal, ini sebagai bukti bahwa Mawardi Ali konsisten ingin menjalankan syariat islam.

Kemudian yang kontroversi juga dilakukan oleh Waled (Wakil Bupati Aceh Besar), dalam pernyataan beliau tidak akan menuruti peraturan menteri agama yang berkaitan dengan volume azan, yang mendapat respon masyarakat luas di Aceh Besar. Statement Wabup Aceh Besar ini merupakan salah satu tindakan yang dianggap oleh sebagian besar masyarakat sebagai bentuk keberpihakan Pemerintah Aceh Besar dalam menjalankan syariat Islam di bumi Aceh Besar.

Dua kebijakan sebagai terobosan yang dilakukan orang no 1 dan 2 Aceh Besar mendapat beragam pendapat, ada yang pro dan kontra. Pada prinsipnya masyarakat berharap pada pemerintah, khususnya Pemerintah Kabupaten Aceh Besar konsisten dalam pelaksanaan Syariat Islam. Tidak hanya pada kebijakan pengaturan jilbab dan suara azan saja. Tentunya pelaksanaan syariat Islam tidak hanya seputar khamar, zina, judi, jilbab.

Menurut pemahamam dan hemat penulis banyak persoalan-persoalan yang paling substansi yang sangat memdesak yang harus dilakukan pemkab, misalnya penguatan pendidikan agama Islam (Aqidah, Akhlak, dan Hukum), karena kondisi sosial masyarakat dalam pemahaman agama era milinium sekarang sangat terbatas, apalagi kondisi pemuda Aceh Besar sudah mulai meninggalkan indentitas ke-Acehannya. Di tambah lagi gaya hidup yang semakin kapitalisme, semua identik dengan matrialisme, dan sosialita ala zaman now akan berdampak pada pelaksanaan syariat Islam.

Hukum cambuk diterapkan namun efek jera belum ada, dapat dibuktikan dengan berbagai pelangar syariat dilakukan para muda-mudi. Kenapa hal ini terjadi bisa jadi lebih duluan penerapan hukum daripada pemahaman dan pendidikan Islam yang terlupakan. Sehingga pada point ini, pendidikan terhadap mengapa mereka tidak boleh melanggar syariat, itu amat sangat penting ketimbang hukuman cambuk.

Ditambah lagi dengan berbagai perangkat hukum yang berbenturan dengan hukum nasional, persoalan anggaran terbatas wilayah Aceh Besar sangat luas, sehingga peran WH terbatas dan juga persoalan SDM. Apabila Aceh Besar benar-benar serius dalam pelaksanaan syariat harus siapkan anggaran, SDM, dan konsisten dalam pembangunan manusia seutuhnya dengan pendidikan Islam. Karana pendidikan merupakan basis penting untuk suskses dalam melaksankan syariat Islam secara komprehensif.

Selanjutnya jika pemerintah konsisten dengan pelaksanaan syariat Islam, Aceh Besar harus benar-benar berbenah dengan program penguatan ekonomi masyarakat. Penguatan ekonomi rakyat sebagai penunjang syariat Islam berjalan dengan baik. Pemkab harus mampu membuat rakyat ‘troe’ kenyang. Caranya dengan koosep ekonomi rakyat, sektor sektor yang memguntungkan Aceh Besar adalah parawisata, perikanan, perkebunan dan pertanian. Kalau konsep ini kelas dan konsisten program membangun ekonomi rakyat, akan berdampak positif dalam penerapan syariat islam. Kalau peluang-peluang kerja dan penguatan ekonomi rakyat tidak berjalan, maka tingkat kriminilitas akan meningkat, karena masyarakat butuh ketercukupan untuk hidup, ketika pemerintah gagal akan berdampak pada meningkatnya pengagguran, kriminalitas, menjadi bandar narkoba dan berbagai macam perbuatan melanggar syariat islam. Jadi pemkab harus mampu membuka lapangan kerja, harus mampu memberdayakan masyarakat disektor tertentu dan konsisten.

Terahir menurut hemat penulis adalah kebijakan politik anggaran, pihak eksukutif dan legeslatif harus bersepakat dengan mendorong jalannya syariat islam melalui kebijakan politik anggaran. Tidak bisa dinafikkan bahwa untuk menjalankan pendidikan yang berbasis Islam sebagai modal utama dan juga model dalam menjalankan syariat islam membutuhkan anggaran. Sehingga pada aspek anggaran ini sangat ditentutakan kemana arah kebijakn politik anggaran Aceh Besar. Sehingga semua lini mendukung pelaksanan syariat Islam, terutama kebijakan politik anggaran yang akan menjadi penentu dalam merilkan pelakasanan syariat secara nyata, tidak hanya sebatas program semata. [•]

Continue Reading

Opini

Memilih Pemimpin Bangsa

Published

on

By

KLIKSATU.CO.ID – MOMEN keakraban di Asian Games 2018 di antara dua tokoh yang akan berkontestasi pada Pilpres 2018, yaitu Joko Widodo dan Prabowo Subianto, bisa dibaca secara kritis: menyemburkan aroma persaingan. Persaingan unjuk prestasi, unjuk kinerja. Persaingan yang lalu didamaikan oleh sang atlet.

Momen multitafsir itu kemudian memunculkan berbagai pertanyaan. Salah satu yang mendasar adalah kepemimpinan yang bagaimana yang sesungguhnya dibutuhkan Republik Indonesia ke depan.

Pertanyaan itu menyeruak di tengah banyaknya pemimpin dan pejabat di negeri ini yang mengecewakan. Banyak yang dilihat sebagai pemimpin, baik  di tingkat nasional maupun lokal, yang kemudian jadi pencuri. Mereka sesungguhnya bukan pemimpin, melainkan orang biasa yang mampu mengapitalisasi segala modal yang mereka miliki, yaitu modal sosial, budaya, dan terutama kapital, untuk meraih kekuasaan tertentu.

Banyak juga pemimpin yang bertindak tidak adil dalam kepemimpinannya, terutama terhadap minoritas. Mereka menyingkirkan minoritas atau setidaknya menutup akses terhadap kekuasaan, baik politik maupun ekonomi. Mereka yang menjilat-jilat kepada mayoritas, jadi penindas dan ”pembunuh” ketika dirinya menjadi mayoritas di suatu titik sejarah.

Di sisi lain, banyak pemimpin yang, meskipun terlihat sungguh-sungguh bekerja keras, tidak mampu berbuat banyak. Kerja kerasnya tidak diiringi kerja cerdas. Akibatnya, kerja keras menjadi sia-sia.

Kapasitas dan amanah

Para pemimpin merupakan pengawal dan pengarah yang menentukan keamanan dan kemajuan suatu masyarakat. Pemimpin bangsa adalah sang penentu apakah bangsa tersebut akan aman dan maju. Pemimpin bangsalah yang membuat suatu bangsa aman dari ancaman dan gangguan, baik dari dalam maupun dari luar negeri, serta maju dan memenangi persaingan global.

Karena itu, memilih pemimpin adalah momen krusial. Salah memilih pemimpin akan memunculkan kekacauan. Alih-alih memenangi persaingan global, pemimpin yang salah dapat menyeret bangsa ke dalam kondisi negara gagal.

Sosok seperti apakah sang pemimpin bangsa yang dibutuhkan bangsa Indonesia ke depan? Pertama, ia adalah sosok yang selama ini selalu berpikir dan bertindak untuk bangsa. Indikatornya, apakah sosok tersebut dalam setiap langkah dan kebijakannya selalu berupaya menciptakan kebaikan umum. Cirinya, ia bertindak sesuai dengan kehendak umum. Kehendak umum bukan akumulasi dari kehendak individu ataupun kehendak mayoritas. Kehendak umum adalah kehendak yang secara rasional dapat dipahami oleh akal manusia yang waras.

Kedua, tokoh yang memiliki kemampuan memimpin. Indikatornya, apakah ia orang yang memiliki kemampuan yang cukup untuk membuat kemajuan.

Cirinya, dalam setiap langkah dan kebijakan di lingkup kepemimpinan yang menjadi tanggung jawabnya selama ini selalu meninggalkan jejak keberhasilan.

Ketiga, apakah sosok tersebut merupakan tokoh yang dapat dipercaya. Dapat dipercaya di sini adalah dalam arti perkataan dan perbuatannya sama. Perbuatan menjadi bukti akan perkataannya. Dapat dipercaya juga dalam arti bahwa orang ini dikenal jujur dan akuntabel.

Dari kriteria memilih pemimpin di atas, dapat disimpulkan bahwa kapasitas dan amanah merupakan kriteria penting sebagai bahan perimbangan dalam memilih. Sebelum menentukan pilihan, carilah data terkait sang calon atau pasangan calon. Apakah ia selalu menuai keberhasilan dalam setiap jejak langkahnya.

Apakah ia sosok yang tidak pernah berbohong dan amanah dalam melaksanakan kekuasaan di tangannya.

Ideologi yang jelas

Selain kriteria tersebut, dalam memilih pemimpin perlu dipertimbangkan juga perihal ideologi. Maksud ideologi di sini dalam arti pemihakan dan cita- cita yang selama ini diperlihatkan sang calon atau pasangan calon.

Pemihakan terhadap rakyat yang mana yang selalu ditunjukkan, dan cita-cita apa yang selalu ingin dicapai.

Kesetaraan dan keadilan sosial merupakan hal penting yang harus dikejar untuk diwujudkan sang pemimpin bangsa. Kenapa hal ini penting? Konflik lebih mudah meletup saat terjadi ketidaksetaraan dan ketidakadilan sosial. Berbagai ketidaksetaraan yang membahayakan integrasi bangsa antara lain dalam hal ketidaksetaraan sosial, ekonomi, dan politik (akses terhadap kekuasaan). Ketidaksetaraan ini berujung pada ketidakadilan sosial.

Perjuangan kesetaraan dalam beragama misalnya, apakah ia orang yang selama ini memperjuangkan kebebasan yang sama dan setara dalam beragama dan beribadah menurut agamanya. Kesetaraan dalam kemanusiaan, apakah ia sosok yang selama ini memperjuangkan kesetaraan dalam hal hak asasi manusia (HAM). Setiap manusia melekat pada dirinya HAM sejak lahir. Kesetaraan dalam politik, apakah ia selama ini merupakan seorang demokrat, yang selalu mengutamakan musyawarah dalam penyelesaian setiap masalah.

Akhirnya, kesetaraan dalam sosial-ekonomi: apakah ia selama ini memperjuangkan keadilan sosial. Selain karena merupakan amanat para pendiri bangsa yang tercantum dalam ideologi bangsa, terciptanya keadilan sosial merupakan prasyarat tak terhindarkan jika ingin menciptakan persatuan Indonesia.

Akhirnya, kapasitas, amanah, dan cita-cita adalah tiga hal penting yang harus menjadi bahan pertimbangan dalam memilih pemimpin bangsa. Pemimpin bangsa adalah orang yang penuh mimpi, penuh cita-cita, api membara di dalam dada semata untuk menciptakan kemajuan bangsa dan negara. Selain mimpi dan cita-cita, ia memiliki kemampuan mewujudkan cita-cita tersebut serta amanah dalam menjalankan kedaulatan rakyat. [•]

Toto Sugiarto Direktur Eksekutif Riset Indonesia dan Analis pada Exposit Strategic

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

KLIKSATU CORNER

Advertisement

Facebook


Trending