Connect with us

Travel

Danau Lut Tawar Syurga Tersembunyi di Tanah Gayo

Published

on


KLIKSATU.CO.ID | DANAU Laut Tawar, itulah nama yang diberikan suku asli Gayo buat danau seluas 5472 hektar ini. Danau Laut Tawar ibarat hamparan permadani berwarna biru kalo kamu lewat di atasnya dengna naik heli atau pesawat, mirip seperti sisa-sisa air laut yang terjebak di daratan saat terjadi badai besar ribuan tahun silam.

Belum jelas kenapa danau yang berada di Kota Takengon, Aceh Tengah, Propinsi Aceh ini dinamakan Danau Laut Tawar. Mungkin karena luas banget kayak laut tapi airnya nggak asin alias tawar. Terus di sini juga ngga ada ombak atau pasang surut seperti di laut.

Menghabiskan waktu libur di Aceh tak lengkap rasanya bila tak mengunjungi Danau Lut Tawar. Keindahannya yang terasa sangat natural mampu membius dan membuatmu betah untuk berlama-lama.

Keindahan danau ini dapat dilihat dari pegunungan yang mengelilingi danau. “Negeri di atas awan”, begitu ungkapan umum yang sering digunakan untuk menggambarkan tempat ini. Danau Lut Tawar Takengon terletak di dataran tinggi Gayo dengan ketinggian sekitar 1.200 m di atas permukaan laut. Tak salah jika hawa sejuk selalu menyelimutimu ketika berkunjung kemari.

Kamu bosan dengan hiruk pikuk kota dan rutinitas sehari-hari? Tempat inilah jawabannya. Pantulan langit dan alam di permukaan airnya yang jernih, mampu memberi rasa damai dan tenang. Bagi kamu pecinta kopi, pantang rasanya bila kamu tak mencicipi kopi Gayo, kopi kebanggaan warga sekitar yang bisa kamu temukan di kedai kopi sepanjang tepi danau.

Kalau cuaca lagi bagus dan kabut yang menyelimuti Danau Laut Tawar dah pergi, kamu bisa melihat betapa mempesonanya danau berair kebiruan ini. Sambil menikmati gemericik suara air yang mendamaikan, layangkan pandanganmu di sekitar Danau Laut Tawar buat mengamati barisan pegunungan yang mengelilinginya.

Pegunungan yang berdiri kokoh itu ditumbuhi hutan yang cukup terpelihara dan belum dijamah oleh tangan manusia. Konon sejumlah satwa langka seperti trenggiling, landak, siamang, kijang, kucing hutan dan harimau masih tinggal di sana.

 

Selain duduk-duduk santai di tepi Danau Laut Tawar sambil menikmati secangkir Kopi Gayo yang legendaris, kamu bisa pake waktumu buat mengelilingi Danau Laut Tawar dengan naik perahu motor, bersepeda (ada rental sepeda di sekitar danau) atau memancing.

Siapa tau kamu bisa dapet ikan depik, satwa air endemik yang menghuni Danau Laut Tawar. Ikan depik mirip kayak ikan teri, tubuhnya mungil dan berwarna-warni. Kalo digoreng kering terasa renyah dan gurih, pasti bikin kamu ketagihan.

Tertarik ingin mengunjungi Danau Laut Tawar, kalau datang dari luar Aceh kamu mesti naik pesawat dulu dari kota asalmu ke Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda Banda Aceh. Terus dari sini kamu bisa naik bus umum atau menyewa mobil buat ke Takengon dengan jarak tempuh sekitar 8 sampai 9 jam.

Kamu bisa juga pergi ke Danau Laut Tawar lewat Kota Medan dan jarak tempuhnya juga lebih singkat, yaitu sekitar 5-6 jam saja via darat atau juga bisa ditempuh via udara dari Bandara Kuala Namu Medan menuju ke Bandar Udara Rembele Berner Meriah, dari bandara ini kamu bisa menyewa mobil menuju ke Danau Laut Tawar hanya butuh waktu sekitar 30 menit aja. []

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Travel

Berdayakan Warga Lokal dalam Pembangunan Pariwisata

Published

on

By


KLIKSATU.CO.ID | JAKARTA – Pemerintah mengejar penyelesaian pembangunan infrastruktur dasar dan amenitas pariwisata di sepuluh destinasi prioritas. Harapannya, seluruh proses pembangunan telah selesai pada tahun 2019. Di luar prasarana fisik tersebut, pengembangan industri pariwisata diharapkan tidak melupakan pemberdayaan masyarakat lokal.

Kesepuluh destinasi pariwisata prioritas tersebut, yaitu  Danau Toba (Sumatera Utara), Tanjung Kelayang (Kepulauan Bangka Belitung), Tanjung Lesung (Banten), Kepulauan Seribu (DKI Jakarta), dan Candi Borobudur (Jawa Tengah). Lalu Bromo Tengger Semeru (Jawa Timur), Mandalika (Nusa Tenggara Barat), Labuan Bajo (Nusa Tenggara Timur), Wakatobi (Sulawesi Tenggara), dan Morotai (Maluku Utara).

Kepala Biro Komunikasi Publik Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Guntur Sakti yang dihubungi di Jakarta Jumat (14/9/2018) mengatakan, pihaknya rutin mengukur pencapaian pembangunan mulai dari aksesibilitas, amenitas atau segara fasilitas pendukung pariwisata, hingga perkembangan industri. Hasil pengukuran berupa skor. Semakin tinggi angka, pencapaiannya dinilai bagus.

Per tanggal 7 September 2018, rata-rata skor performa pembangunan sepuluh destinasi prioritas yaitu 100,8 persen. Sebanyak enam destinasi prioritas pariwisata memiliki skor di atas 100 persen, yaitu  Labuan Bajo, Kepulauan Seribu, Mandalika, Morotai, Tanjung Kelayang, dan Tanjung Lesung. Empat destinasi yang memiliki pencapaian kurang dari 100 persen adalah Wakatobi, Bromo-Tengger-Semeru, Candi Borobudur, dan Danau Toba.

Pencapaian pembangunan di Wakatobi yang dinilai masih kurang adalah amenitas, iklan, dan industri. Salah satu solusi yang akan dijalankan yaitu pelatihan pemasaran digital pada Oktober 2018.

Di destinasi Bromo-Tengger-Semeru, faktor aksesibilitas dan amenitas dinilai belum sesuai kualitas yang diinginkan. Kendalanya antara lain terkait pembangunan jalan Tol Probolinggo–Banyuwangi karena masalah penetapan lokasi yang belum diputuskan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Sementara di destinasi Candi Borobudur, kata Guntur, pencapaian pembangunan faktor aksesibilitas, amenitas, dan sumber daya manusia memiliki skor di bawah 100 persen. Soal aksesibilitas, misalnya,  Tol Bawen- Yogyakarta saat ini masih dalam proses penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dan dokumen pertanahan.

Penyusunan rencana induk Kawasan Otorita Borobudur (Visioning Masterplan) juga masih menunggu diselesaikannmya proses pengukuran lahan yang dijadwalkan minggu kedua bulan September 2018.

Adapun  Danau Toba, faktor iklan, penjualan, dan industri belum memiliki performa pembangunan sesuai yang diinginkan. Salah satu penyebab yaitu peluncuran program pencitraan destinasi Danau Toba belum kunjung dilaksanakan.

Ketua Tim Percepatan Pembangunan Sepuluh Bali Baru Kemenpar, Hiramsyah S Thaib menyebutkan, tantangan pembangunan aksesibilitas maupun amenitas mencakup legalitas, sinkronisasi koordinasi lintas kementerian dan lembaga, dan anggaran. Selama tiga tahun terakhir, tantangan ini coba diatasi secara serius.

Terkait anggaran pembangunan, Bank Dunia berkomitmen mengucurkan dana sebesar 300 juta dollar AS. Peruntukannya, pembangunan aksesibilitas destinasi Mandalika, Danau Toba, dan Candi Borobudur.
“Dana dari Bank Dunia tersebut sifatnya dukungan. Tujuannya, yakni  menambah keyakinan dan kepastian pembangunan infrastruktur,” kata Hiramsyah.

Pemberdayaan
Ketua Program Studi Pascasarjana Kajian Pariwisata Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, M Baiquni yang dihubungi secara terpisah berpendapat, pembangunan sepuluh destinasi pariwisata prioritas semestinya menekankan pula pada pemberdayaan sumber daya manusia lokal. Penekanan ini bertujuan menciptakan ekonomi lokal yang berkelanjutan bagi masyarakat yang tinggal di sekitar destinasi wisata. “Ada kebijakan pembangunan dibuat  top-down, bukan sebaliknya,” katanya.

Sebagai ilustrasi, Baiquni menyebutkan, pengembangan amenitas  rumah singgah (homestay) di salah satu destinasi. Pemerintah pusat menggerakkan beberapa badan usaha untuk berpartisipasi dalam pengembangan, tetapi hakikat konsep  homestay  justru hilang.

“Jadinya malah lahir homestay-homestay  yang dikelola seperti vila. Padahal, hakikat homestay  adalah ada integrasi dan komunikasi langsung antara tamu dengan pemilik rumah,” ujarnya.

Baiquni menambahkan, arah pembangunan sepuluh destinasi prioritas perlu memperhatikan kondisi dan segmentasi pasar. Ada beberapa destinasi prioritas tidak bisa dikelola masif agar tetap terjaga kelestariannya. Misalnya, Morotai yang kaya kekayaan alam dan sejarah perang dunia II. [•]


Sumber: Kompas.id

Continue Reading

Travel

Melihat Kekayaan Sejarah Aceh Dalam Aceh History Expo

Published

on

By

KLIKSATU.CO.ID | BANDA ACEH – Tujuh lokasi terpisah dipilih panitia Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) VII untuk kegiatan Pameran Sejarah Aceh (Aceh History Expo) yang berlangsung pada 7 – 15 Agustus 2018.

Ketujuh lokasi tersebut yaitu Museum Negeri Aceh, Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh, Museum Tsunami, Museum dan Perpustakaan Ali Hasjmy, Badan Arsip dan Perpustakaan Aceh, Kerkhof Peucut, dan Taman Gunongan.

Aceh History Expo meliputi pameran sejarah Aceh yang dipusatkan di Museum Negeri Aceh, pameran kepurbakalaan di Taman Gunongan, pameran etnografi di Kerkhof Peucut, pameran literatur di Museum dan Perpustakaan Ali Hasjmy, dan pameran kebencanaan yang mengambil tempat di Museum Tsunami.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh Dr. Wildan Abdullah, selaku penanggungjawab Pameran Budaya dan Sejarah Aceh mengatakan, khusus di Museum Negeri Aceh, selain memamerkan koleksi-koleksi museum juga akan melibatkan lembaga atau komunitas yang bergiat dalam pelestarian sejarah Aceh.

“Total lembaga yang sudah konfirmasi untuk berpartisipasi dalam pamerah sejarah Aceh ini sebanyak 25 lembaga,” kata Wildan, Kamis (26/7/2018).

Dari jumlah itu, 22 di antaranya merupakan lembaga atau komunitas sejarah lokal, dua lainnya berasal dari luar Aceh dan satu lembaga berasal dari Malaysia. Selama sepekan lebih masyarakat bisa berkunjung ke museum untuk melihat berbagai koleksi menarik terkait peradaban dan sejarah Aceh.

Museum Aceh memiliki aneka koleksi yang digolongkan menjadi tiga klasifikasi besar, yaitu koleksi anorganik, organik, dan campuran.

Klasifikasi ini terbagi lagi dalam sepuluh jenis disiplin ilmu meliputi: geologi; biologika; etnografika (koleksi hasil budaya atau benda yang menggambarkan identitas suatu etnis); arkeologika (koleksi peninggalan arkeologi, sejarah, masa prasejarah sampai masuknya pengaruh budaya barat); historika (koleksi yang pernah digunakan dan berhubungan dengan suatu peristiwa bersejarah yang berkaitan dengan suatu organisasi masyarakat); numismatika dan heraldika (koleksi berupa mata uang dan tanda jasa seperti lambang dan tanda pangkat); filologi (koleksi sejarah seperti naskah kuni yang ditulis tangan atau manuskrip ); keramonologika (barang pecah belah); seni rupa, dan teknologika.

Sementara Museum Tsunami merupakan bangunan monumental untuk mengenang bencana mahadahsyat yang menelan korban jiwa kurang lebih 240.000 jiwa. Di museum ini semua jejak tsunami Aceh bisa dilihat dalam beragam format seperti arsip berita, foto, hingga video.

Museum Tsunami Aceh ini terdiri dari empat lantai yang setiap lantainya memiliki makna dan filosofi tersendiri.

Bangunan yang terilhami dari rumoh Aceh ini memiliki beberapa space yang disebut dengan Space of Fear, Space of Memory, Space of Sorrow, Space of Confuse, dan Space of Hope. Setiap space atau ruang merupakan perwujudan tahap demi tahap yang terjadi saat tsunami terjadi.

“Pameran ini merupakan tempat untuk menggali informasi mengenai kekayaan sejarah, kebudayaan, dan kreativitas bangsa Aceh yang bisa dilihat dalam ragam bentuk seperti perhiasan, benda-benda sejarah, melalui literasi, dan ilmu kebencanaan,” kata Wildan. [•]

Continue Reading

Travel

Pariwisata Jadi Kekuatan Baru Ekonomi Indonesia

Published

on

By

KLIKSATU.CO.ID | JAKARTA – Pariwisata menjelma menjadi kekuatan baru sektor ekonomi. Ditetapkannya pariwisata menjadi leading sectoroleh Presiden Joko Widodo menjadi buktinya. Tidak hanya itu, pariwisata juga bisa menekan defisit pada neraca perdagangan.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara. Ia pun berharap jumlah wisatawan yang mengunjungi Indonesia bisa terus bertambah.

“Tentu harapan kami di Bank Indonesia yang mengelola cadangan devisa, jumlah turis yang masuk bisa jauh lebih banyak dibandingkan warga Indonesia yang ke luar negeri,” kata Mirza, pada acara Regional Investment Forum, di Hotel Grand Inna Padang, beberapa waktu lalu.

Menurut dia, semakin banyak wisatawan yang berwisata ke Indonesia, maka akan semakin besar pula devisa yang diterima Indonesia. Dijelaskannya, devisa Indonesia dari sektor pariwisata pada tahun 2016 sebesar 11,3 miliar dollar AS. Sedangkan jumlah wisatawan yang berkunjung ke Indonesia pada tahun 2016 sebanyak 12 juta orang.

Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), kontribusi sektor pariwisata juga terus menunjukkan pertumbuhan. Pada tahun 2013 tercatat mencapai 602 juta dollar AS atau berkontribusi sebesar 1,45 persen dari total investasi nasional. Kemudian pada semester I 2017 mencapai 929 juta dollar AS atau 3,67 persen dari total investasi nasional.

Hingga tahun 2019, pemerintah menargetkan jumlah wisatawan mancanegara mencapai 20 juta orang per tahun, serta wisatawan domestik berjumlah 275 juta orang. Dari sektor pariwisata tersebut pemerintah menargetkan jumlah devisa yang dihasilkan mencapai Rp 260 triliun.

Sementara Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menilai sektor pariwisata bisa menjadi mesin devisa yang menutup lubang di neraca pembayaran Indonesia.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kinerja perdagangan di Mei 2018 tercatat defisit USD1,52 miliar. Meski menurun dari bulan sebelumnya yang sebesar USD1,62 milar, angka tersebut dipandang masih tinggi dan perlu ditekan sedemikian rupa.

Untuk itu, Ia mengimbau bagi para wisatawan dalam negeri yang selama ini sering berpergian ke luar negeri, agar mengubah destinasi wisata ke dalam negeri.

“Pariwisata bisa dijadikan penyeimbang. Kami juga mengimbau masyarakat Indonesia yang banyak melakukan perjalanan ke luar negeri, mungkin destinasi pariwisatanya bisa di dalam negeri saja supaya ini membantu,” kata Ani, sapaan akrabnya, di Kemenkeu, Jakarta Pusat, Senin (25/6/2018) lalu.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini mengatakan, pemerintah siap fokus untuk membenahi sektor pariwisata. [•]

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

KLIKSATU CORNER

Advertisement

Facebook


Trending