Connect with us

Keuneubah Endatu

Jejak Aceh di Tanah Arab

Published

on

Oleh: Dr. M Adli Abdullah

KLIKSATU.CO.ID | “ASYI”, sebutan ‘marga’ Aceh dikalangan orang Arab. Gelar Asyi (Aceh—dalam bahasa Arab) ini adalah merupakan sebuah pengakuan identitas bagi setiap orang Aceh di Arab Saudi yang terhormat, sehingga gelar “al-Asyi”ini kemudian bisa dikatakan sebagai salah satu marga Aceh yang wujud di Tanah Arab.

Sebutan negeri Aceh adalah tidak asing bagi sebagian orang Arab walaupun sekarang hanyalah salah satu propinsi di negeri ini. Karena itu, saya memandang bahwa martabat orang Aceh di Arab Saudi sangat luar biasa. Sejauh ini, gelar ini memang tidak begitu banyak, namun mengingat kontribusi para Asyi ini pada kerajaan Saudi Arabia, saya berkeyakinan bahwa ada hubungan yang cukup kuat secara emosional antara tanah Arab ini dengan Serambinya, yaitu Aceh.

Banyak sekali orang Arab keturunan Aceh mendapat kedudukan bagus di kerajaan Saudi Arabia seperti alm Syech Abdul Ghani Asyi mantan ketua Bulan Sabit Merah Timur Tengah, Alm Dr jalal Asyi mantan wakil Menteri Kesehatan Arab Saudi, DR Ahmad Asyi mantan wakil Menteri Haji dan Wakaf dan banyak sekali harta wakaf negeri Aceh sekarang masih wujud disana.

Kita akan menguak tradisi sumbang menyumbang masyarakat Aceh di Tanah Hijaz (Mekkah, Saudi Arabia) pada abad ke-17 Masehi. Ini menarik agar kita tahu bagaimana kontribusi Aceh atas tanah hijaz (sekarang bernama Saudi Arabia, red), dimana orang Aceh tidak hanya mewakafkan tanah, melainkan juga emas yang didatangkan khusus dari Bumi Serambi ke negeri Mekkah Al-Mukarramah ini.

Diriwayatkan bahwa pada tahun 1672 M, Syarif Barakat penguasa Mekkah pada akhir abad ke 17 mengirim duta besarnya ke timur. Mencari sumbangan untuk pemeliharaan Masjidil Haram. Karena kondisi Arab pada saat itu masih dalam keadaan miskin. Kedatangan mareka ke Aceh setelah Raja Moghol, Aurangzeb (1658-1707) tidak mampu memenuhi keinginan Syarif Barakat itu. Dia saat itu belum sanggup memberi sumbangan seperti biasanya ke Mesjidil Haram. Setelah empat tahun rombongan Mekkah ini terkatung katung di Delhi India. Atas nasehat pembesar di sana, rombongan ini berangkat ke Aceh dan tiba di Aceh pada tahun 1092 H (1681M).

Sampai di Aceh, duta besar Mekkah ini disambut dan dilayani dengan baik dan hormat oleh Sri Ratu Zakiatuddin Inayatsyah (1678-1688 M). Di luar dugaan, kedatangan utusan syarif Mekkah ini menyulut semangat kelompok wujudiyah yang anti pemerintahan perempuan. Namun, karena sosok Sultanah Zakiatuddin yang ‘alim dan mampu berbahasa Arab dengan lancar. Bahkan menurut sejarah, dia berbicara dengan para tamu ini dengan menggunakan tabir dari sutra Dewangga (Jamil: 1968).

Utusan Arab sangat gembira diterima olehSri Ratu Zakiatuddin, karena mareka tidak mendapat pelayanan serupa ketika di New Delhi, India. Bahkan empat tahun mareka di India, tidak dapat bertemu Aurangzeb.

Ketika mereka pulang ke Mekkah, Sri Ratu Zakiatuddin Inayat Syah, memberi mareka tanda mata untuk rombongan dan Syarif Mekkah juga sumbangan untuk Mesjidil Haram dan dan Mesjidil Nabawi di Madinah terdiri dari: tiga kinthar mas murni, tiga rathal kamfer, kayu cendana dan civet (jeuebeuet musang), tiga gulyun (alat penghisap tembakau) dari emas, dua lampu kaki (panyot-dong) dari emas, lima lampu gantung dari emas untuk Masjidil Haram, lampu kaki dan kandil dari emas untuk Masjid Nabawi.

Pada tahun 1094 (1683 M) mareka kembali ke Mekkah dan sampai di Mekkah pada bulan Sya’ban 1094 H (September 1683 M). Dua orang bersaudara dari rombongan duta besar Mekkah ini yakni Syarif Hasyim dan Syarif Ibrahim, tetap menetap di Aceh atas permintaan para pembesar negeri Aceh yang dalam anti raja perempuan (Jamil: 1968). Mereka dibujuk untuk tetap tinggal di Aceh sebagai orang terhormat dan memberi pelajaran agama dan salah satu dari mereka, kawin dengan Kamalat Syah, adik Zakiatuddin Syah.

Lima tahun kemudian setelah duta besar Mekkah kembali ke Hijaz dengan meninggalkan Syarif Hasyim dan Syarif Ibrahim di Aceh, Sultanah Sri Ratu Zakiatuddin Inayat Syahwafat tepat pada hari Ahad 8 Zulhijjah 1098H (3 Oktober 1688 M). Pemerintahan Aceh digantikan oleh adiknya yaitu Seri Ratu Kamalatsyah yang bergelar juga Putroe Punti. Dia diangkat menjadi Ratu pemerintahan kerajaan Aceh atas saran Syeikh Abdurrauf Al Fansury yang bertindak pada saat itu sebagai Waliyul-Mulki (Wali para Raja).

Baru setelah meninggalnya Syeikh Abdurrauf pada malam senin 23 Syawal 1106 H (1695M), konflik mengenai kedudukan pemerintahan Aceh dibawah pemerintahan ratu yang telah berlangsung 54 tahun sejak Safiatuddin Syah(1641-1675M), terguncang kembali. Hal ini dipicu oleh fatwa dari Qadhi Mekkah tiba. Menurut sejarah, “fatwa import” ini tiba dengan “jasa baik” dari golongan oposisi ratu. Lalu pemerintah Aceh, diserahkan kepada penguasa yang berdarah Arab, yaitu salah satu dua utusan Syarif dari Mekkah, yakni suami Ratu Kemalatsyah, Syarif Hasyim menjadi raja pada hari Rabu 20 Rabi`ul Akhir 1109 H (1699M).

Menurut sejarah, Ratu tersebut dimakzulkan akibat dari “fatwa import” tersebut. Lalu kerajaan Aceh memiliki seorang pemimpin yang bergelar Sultan Jamalul Alam Syarif Hasyim Jamalullail (1110-1113 H/1699-1702M). dengan berkuasanya Syarif Hasyim awal dari dinasti Arab menguasai Aceh sampai dengan tahun 1728 M. Inilah bukti sejarah bahwa kekuasaan para Ratu di Aceh yang telah berlangsung 59 tahun hilang setelah adanya campur tangan pihak Mekkah, paska para ratu ini menyumbang emas ke sana. Aceh yang dipimpin oleh perempuan selama 59 tahun bisa jadi bukti bagaimana sebenarnya tingkatemansipasi perempuan Aceh saat itu (Azyumardi Azra, 1999).

Terkait dengan sumbangan emas yang diberikan oleh Ratu kepada rombongan dari Mekkah, ternyata menjadi perbincangan dan perdebatan di Mekkah. Disebutkan bahwa sejarah ini tercatat dalam sejarah Mekkah dimana disebutkan bahwa emas dan kiriman Sultanah Aceh tiba di Mekkah di bulan Syakban 1094 H/1683 M dan pada saat itu Syarif Barakat telah meninggal. Pemerintahan Mekkah digantikan oleh anaknya Syarif Sa’id Barakat (1682-1684 M).

Snouck Hurgronje, menuturkan “Pengiriman Seorang Duta Mekkah ke Aceh Pada Tahun 1683” sempat kagum terhadap kehebatan Aceh masa lalu dan dicatat dalam bukunya, dimana sewaktu dia tiba di Mekkah pada tahun 1883. Karena Kedermawaan Bangsa dan Kerajaan Aceh masa itu, Masyarakat Mekkahmenyebut Aceh Sebagai “Serambi Mekkah” di sana.

Ternyata sumbangan Kerajaan Aceh 200 tahun yang lalu masih selalu hangat dibicarakan disana. Menurutnya berdasarkan catatan sejarah Mekkah yang dipelajarinya barang barang hadiah itu sempat disimpan lama di rumah Syarif Muhammad Al Harits sebelum dibagikan kepada para Syarif yang berhak atas tiga perempat dari hadiah dan sedekah diberikan kepada kaum fakir miskin sedangkan sisanya diserahkan kepada Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Begitu juga tradisi wakaf orang Aceh di tanah Arab sebagai contoh tradisi wakaf umum, ialah wakaf habib Bugak Asyi yang datang ke hadapan Hakim Mahkmah Syariyah Mekkah pada tanggal 18 Rabiul Akhir tahun 1224 H. Di depan hakim dia menyatakan keinginannya untuk mewakafkan sepetak tanah dengan sebuah rumah dua tingkat di atasnya dengan syarat; rumah tersebut dijadikan tempat tinggal jemaah haji asal Aceh yang datang ke Mekkah untuk menunaikan haji dan juga untuk tempat tinggal orang asal Aceh yang menetap di Mekkah.

Sekiranya karena sesuatu sebab tidak ada lagi orang Aceh yang datang ke Mekkah untuk naik haji maka rumah wakaf ini digunakan untuk tempat tinggal para pelajar (santri, mahasiswa) Jawi (nusantara) yang belajar di Mekkah. Sekiranya karena sesuatu sebab mahasiswa dari Nusantara pun tidak ada lagi yang belajar di Mekkah maka rumah wakaf ini digunakan untuk tempat tinggal mahasiswa Mekkah yang belajar di Masjid Haram. Sekiranya mereka ini pun tidak ada juga maka wakaf ini diserahkan kepada Imam Masjid Haram untuk membiayai kebutuhan Masjid Haram.

Menurut sejarah, sebenarnya bukan hanya wakaf habib Bugak yang ada di Mekkah, yang sekarang hasilnya sudah dapat dinikmati oleh para jamaaah haji dari Aceh tiap tahunnya lebih kurang 2000 rial per jamaah. Peninggalan Aceh di Mekkah bukan hanya sumbangan emas pada masa pemerintahan ratu ini juga harta harta wakaf yang masih wujud sampai saat ini seperti :

Wakaf Syeikh Habib Bugak Al Asyi’,Wakaf Syeikh Muhammad Saleh Asyi dan isterinya Syaikhah Asiah (sertifikat No. 324) di Qassasyiah,Wakaf Sulaiman bin Abdullah Asyi di Suqullail (Pasar Seng),Wakaf Muhammad Abid Asyi,Wakaf Abdul Aziz bin Marzuki Asyi,Wakaf Datuk Muhammad Abid Panyang Asyi di Mina,Wakaf Aceh di jalan Suq Al Arab di Mina,Wakaf Muhammad Saleh Asyi di Jumrah ula di Mina,Rumah Wakaf di kawasan Baladi di Jeddah,Rumah Wakaf di Taif,Rumah Wakaf di kawasan Hayyi al-Hijrah Mekkah.Rumah Wakaf di kawasan Hayyi Al-Raudhah, Mekkah,Rumah Wakaf di kawasan Al Aziziyah, Mekkah.Wakaf Aceh di Suqullail, Zugag Al Jabal, dikawasan Gazzah, yang belum diketahui pewakafnya.Rumah wakaf Syech Abdurrahim bin Jamaluddin Bawaris Asyi (Tgk Syik di Awe Geutah, Peusangan) di Syamiah Mekkah,Syech Abdussalam bin Jamaluddin Bawaris Asyi (Tgk di Meurah, Samalanga) di Syamiah, Abdurrahim bin Abdullah bin Muhammad Asyi di Syamiah dan Chadijah binti Muhammad bin Abdullah Asyi di Syamiah.

Inilah bukti bagaimana generous antara ibadah dan amal shaleh orang Aceh di Mekkah.Mereka lebih suka mewakafkan harta mereka, ketimbang dinikmati oleh keluarga mereka sendiri. Namun, melihat pengalaman Wakaf Habib Bugak, agaknya rakyat Aceh sudah bisa menikmati hasilnya sekarang.

Fenomena dan spirit ini memang masih sulit kita jumpai pada orang Aceh saat ini, karena tradisi wakaf tanah tidak lagi dominan sekali. Karena itu, saya menganggap bahwa tradisi leluhur orang Aceh yang banyak mewakafkan tanah di Arab Saudi perlu dijadikan sebagai contoh tauladan yang amat tinggi maknanya. Hal ini juga dipicu oleh kejujuran pengelolalaan wakaf di negeri ini, dimana semua harta wakaf masih tercatat rapi di Mahkamah Syariah Saudi Arabia.

Sebagai bukti bagaimana kejujuran pengelolaan wakaf di Arab Saudi, Pada tahun 2008 Mesjidil haram diperluas lagi kekawasan Syamiah dan Pasar Seng. Akibatnya ada 5 persil tanah wakaf orang Aceh terkena penggusuran. Tanah wakaf tersebut adalah kepunyaan Sulaiman bin Abdullah Asyi, Abdurrahim bin Jamaluddin Bawaris Asyi (Tgk Syik di Awe Geutah, Peusangan), Syech Abdussalam bin Jamaluddin Bawaris Asyi (Tgk di Meurah, Samalanga), Abdurrahim bin Abdullah bin Muhammad Asyi dan Chadijah binti Muhammad bin Abdullah Asyi.

Di Mekkah juga penulis sempat bertemu dengan Saidah Taliah Mahmud Abdul Ghani Asyi serta Sayyid Husain seorang pengacara terkenal di Mekkah untuk mengurus pergantian tanah wakaf yang bersetifikat no 300 yang terletak di daerah Syamiah yang terkena pergusuran guna perluasan halaman utara Mesjidil haram Mekkah al Mukarramah yang terdaftar petak persil penggusuran no 608. Yang diwakafkan oleh Syech Abdurrahim Bawaris Asyi (Tgk Syik di Awe Geutah, Peusangan) dan adiknya Syech Abdussalam Bawaris Asyi (Tgk di Meurah, Samalanga).

Memang pada asalnya 75 persen tanah di sekitar Mesjidil Haram adalah tanah wakaf apakah itu wakaf khusus atau wakaf umum. Dan sebagiannya ada milik orang orang Aceh dulu dan ini bagian dari kejayaan Aceh yang pernah masuk dalam 5 besar negeri Islam di dunia bersama Turki, Morroko, Iran, Mughal India dan Aceh Darussalam di Asia tenggara.

Menurut peraturan pemerintah Saudi Arabia para keluarga dan nadhir dapat menuntuk ganti rugi dengan membawa bukti kepemilikan (tentu memerlukan proses yang lama ie menelusuri siapa nadhir tanah wakaf tersebut, penunjukan pengacara dll) dan bisa menghadap pengadilan agama Mekkah menutut ganti rugi dan penggantian dikawasan lain di Mekkah sehingga tanah wakaf tersebut tidak hilang. Kalau seandainya tidak ada keluarga pewakaf lagi khusus untuk wakaf keluarga maka sesuai dengan ikrar wakaf akan beralih milik mesjidil haram atau baital mal. Inilah pelajaran atau hikmah tradisi wakaf di Mekkah yang semoga bisa menjadi contoh yang baik bagi pengelolaan wakaf di Aceh.

Itulah secuil catatan yang tercecer, tentang wakaf orang Aceh di Tanah Arab, walaupun generasi sekarang hanya mengenal bahwa Aceh adalah Serambi Mekkah. Namun sebenarnya ada rentetan sejarah yang menyebabkan Aceh memang pernah memberikan kontribusi penting terhadap pembinaan sejarah Islam di Timur Tengah. Karena itu, selain Aceh memproduksi Ulama, ternyata dari segi materi, rakyat Aceh juga memberikan sumbangan dan wakaf yang masih bisa ditelusuri hingga hari ini.

Karena itu, saya menduga kuat bahwa tradisi Islam memang telah dipraktikkan oleh orang Aceh saat itu, dimana “tangan di atas, lebih baik daripada tangan di bawah”. Akibatnya, kehormatan orang Aceh sangat disegani, baik oleh kawan maupun lawan. Dalam hal ini, harus diakui bahwa Snouck telah “berjasa” merekam beberapa akibat dari episode sejarah kehormatan orang Aceh.

Inilah pelajaran penting bagi peneliti sejarah Aceh, dimana selain bukti-bukti otentik, sejarah juga bisa ditulis melalui oral history (sejarah lisan). Pelajaran ini sangat penting bagi generasi sekarang untuk melacak dimana peran orang Aceh di beberapa negara, termasuk di Timur Tengah.

Inilah sekelumit hasil muhibbah saya ke Arab Saudi dan saya benar-benar terkesima dengan pengakuan identitas “Asyi” dan pola pengelolaan wakaf di Arab Saudi. Selain ini, di dalam perjalanan ini, saya sempat berpikir apakah nama baik orang Aceh di Arab Saudi bisa sederajat dengan nama baik Aceh di Indonesia dan di seluruh dunia. Yang menarik adalah hampir semua negara yang saya kunjungi, nama Aceh selalu dihormati dan dipandang sebagai bagian dari peradaban dunia.


*) Penulis adalah sejarawan dan dosen hukum adat, universitas Syiah Kuala, Email: [email protected]

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Keuneubah Endatu

Meriam Sri Rambai’ Iskandar Muda

Published

on

By

Oleh: M. Adli Abdullah

 

Meuriam kawai sulotan

Laen nibak nyan lingka kuta

Habeh cukop peukakah prang

Keukuatan balatandra.

 

Pahlawan Rom kon bubarang

Gaseh sayang nibak raja

Han tom jeuoh uroe malam

Sajan sulotan dalam kuta.

SULTAN Iskandar Muda wafat pada 29 Rajab 1046 Hijriyah bertepatan 27 Desember 1636 Masehi, 382 tahun yang lalu. Sultan Iskandar Muda adalah seorang tokoh yang tak akan dilupakan baik di Aceh maupun dalam perbincangan di rantau Asia Tenggara. Tindakannya dalam mengukuhkan kedaulatan Aceh dan mempersatukan kerajaan Melayu melawan kolonialisme rantau Asia Tenggara terus tercatat dalam memori sejarah.

Satu bukti sejarah kejayaan masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda yang masih tersisa saat ini adalah meriam Sri Rambai. Meriam itu sekarang diletakkan menghadap ke laut di Fort Cornwallis, George Town, Penang, Malaysia. Senjata berat kebanggaan Sultan Iskandar Muda ini, pada suatu ketika juga pernah digunakan oleh Francis Light pada 1786 M, dalam mempertahankan Pulau Penang dari serangan musuh.

Di punggung meriam Sri Rumbai tersebut terdapat ukiran dalam tulisan Jawi yang berbunyi: Tawanan Sulthan kita Sri Sulthan Perkasa Alam Johan Berdaulat menitahkan Orang Kaya Sri Maharaja akan Panglima dan Orang Kaya Laksamana dan Orang Kaya Lela Wangsa akan mengamuk ke Johor Sanat 1023 H (1613 M).

Menaklukkan Johor

Awalnya, meriam Sri Rambai berada pada banteng pertahanan Belanda di kerajaan Johor yang dibangun pada 1606 M, dan digunakan juga oleh Sultan Johor, Sultan Alauddin Riayatsyah III untuk mempertahankan diri dari serangan kerajaan Islam Aceh, karena Johor bekerja sama dengan Belanda menghadapi Aceh. Tetapi pada Juli 1613 M, Sultan Iskandar Muda berhasil menaklukkan kerajaan Johor dan menghancurkan Batu Sawar, ibu kota Kerajaan Johor. Kemudian 22.000 penduduk Johor berserta Sultan Alauddin Riayatsyah III (Raja Siujud), Raja Abdullah, Tun Seri Lanang, dipindahkan ke Aceh (Lombard, 1986; Linehan, 1975).

Tindakan Sultan AlaidinRiatsyah III (Raja Si Ujud) bekerja sama dengan dengan penjajah membuat tentara Aceh dan Sultan Iskandar Muda marah dan tidak mungkin dimaafkan, bahkan dia kemudian dihukum bunuh di Aceh. Peristiwa ini digambarkan dalam Hikayat Malem Dagang sebagai berikut: Toeankoe, Si Oe/ Si Oedjoet tapoh mate/ di kamoe han le memeutjeedara// Di donja kon troih oe akhirat, kaphe la’nat be’ koengieng mata// (Cowan, 1937).

Kutipan Hikayat Malem Dagang di atas menunjukkan bahwa Sultan Alauddin Riayatsyah III harus dibunuh dan tidak lagi dianggap sebagai saudara. Kemudian dia dianggap sebagai pengkhianat terhadap Kerajaan Islam Aceh. Inilah tampaknya mengapa ada sikap anti Melayu di kalangan orang Aceh ketika itu. Pengkhianatan yang dilakukan oleh Sultan Johor tersebut sangat melukai hati Sultan Iskandar Muda.

Jadi tulisan Jawi yang terdapat pada “meriam” seperti tersebut di atas adalah sebagai mengabadikan kenangan kepada para panglima Iskandar Muda yang telah berjasa dalam menawan Sultan Johor dan 22.000 pengikutnya dan melemahkan pakatan Belanda dan Portugis dalam merongrong Aceh.

Lebih kurang 180 tahun meriam Sri Rambai menjadi satu meriam kebanggaan Kerajaan Islam Aceh. Akan tetapi pada 1795, Sultan Aceh Alauddin Muhammad Syah (1781-1795) menghadiahkan meriam tersebut kepada Sultan Ibrahim dari Selangor, sebagai balas jasa atas pertolongan Raja Nala, yaitu adik Sultan Selangor dalam peperangan Aceh melawan pemberontakan.

Pada 1871 koloni Inggris yang telah menguasai negeri-negeri Selat (Straits Setieements, yaitu Pulau Pinang, Melaka dan Singapura), dalam usaha mereka menaklukkan Selangor, menembaki ibu kota Kuala Selangor dengan meriam-meriam dari kapal HMS Rinaldo dan meminta Raja Muda Tunku Kudin agar segera meninggalkan Kuala Selangor. Kota itu diruntuhkan dan berbagai jenis meriam dirampas dan dibawa ke Penang, termasuk meriam hadiah Sultan Aceh Alauddin Muhammad Syah (1781-1795).

Perlu dikenang

Momentum 27 Desember perlu dikenang sebagai hari yang penuh hikmah, atas keperkasaan Sultan Iskandar Muda yang telah berhasil mensejajarkan Aceh dengan bangsa-bangsa beradab lain sepanjang sejarah. Momentum ini harus mengisi semua momori rakyat Aceh pada masa kini dan masa depan. Supaya generasi Aceh tidak kehilangan identitasnya. Kehilangan identitas suatu generasi, sama halnya dengan hilangnya harga diri sebuah bangsa.

Di sisi lain, membangun sebuah bangsa tidak cukup hanya dengan modal budaya intelektual personal. Akhirnya, untuk mengenang 382 tahun meninggalnya Sultan Iskandar Muda dan bersejarahnya meriam Sri Rumbai sebagai satu bukti identitas Aceh, maka sudah sepatutnya pihak eksekutif dan legislatif Aceh proaktif mengusahakan benda sejarah ini sebagai warisan peradaban Aceh.

Wali Nanggroe juga harus berperan aktif membangun upaya negosiasi, serta mengusahakan agar meriam tersebut dapat berada di Aceh atau setidaknya diakui oleh negara Malaysia sebagai satu warisan identitas keacehan yang masih wujud di negeri seberang. Usaha yang harus dilakukan oleh Wali Nanggroe ini sesuai dengan prinsip kelembagaannya sebagai pembina kehormatan, adat, tradisi sejarah, dan tamadun Aceh (Pasal 2 huruf c Qanun Aceh No.9 Tahun 2013). Sehingga peran Wali Nanggroe benar benar terasa perannya di masyarakat sebagai penjaga warisan budaya Aceh, Wassalam. []

Dr.  M. Adli Abdullah,  Email: [email protected]

Continue Reading

Budaya

Kampung Biduen, Pusat Prostitusi Masa Kerajaan Aceh

Published

on

By


Penulis : Dr. M Adli Abdullah


KLIKSATU.CO.ID| AHAD ini, kita mengupas kisah Kampung Biduen (Pelacuran) di Lampulo Banda Aceh. Beratus-ratus tahun lalu, kampung ini menjadi pusat prostitusi pada masa kerajaan Aceh. Namun sebutan ini dapat dihapuskan dengan kelembutan tangan Syeikh Abdurrauf Al Fansuri Ashingkili.

Kisah ini saya peroleh dari tulisan Muhammad Yunus Jamil yang meninggal dunia pada tahun 1978. Sejarawan sederhana ini memang selalu menukilkan sejarah Aceh dari perspektif lokal. Salah satu buku yang terakhir berjudul ìGerak Kebangkitan Acehî.

Dalam buku itu, Yunus menuturkan bahwa disebelah timur daratan pantai kuala Aceh, dulunya daerah perdagangan dan banyak bangsa asing, dari Eropa, India, Cina, Arab menetap di sana dan disitu tempat loji-loji bangsa asing. Disitu juga ada Kampong Bidook, juga disebut kampung Biduen (kampung pelacuran). Saat itu, selain warga Aceh, banyak orang orang seperti orang Tionghoa serta orang asing (bukan Eropa) yang menetap di sana (Yunus Jamil:1975).

Komplek pelacuran ini hilang setelah Syeikh Abdur Rauf Al Fansuri Asshingkili mendarat di pantai kuala Aceh. Sebelum dikenal sebagai Syaikh Abdur Rauf, ulama yang sangat disegani lebih dahulu ingin menyelamai keadaan sosial budaya masyarakat Aceh waktu itu. Diceritakan sebelum menghadap Sultanah Safiatuddin Syah (1641-1675), Syeikh Abdurrauf setelah pulang ke Aceh pada tahun 1584 dari pengembaraannya di Arab selama 19 tahun, menyamar sebagai seorang pawang dan menetap di kampung Bidook (Biduen) dan meminta izin pada Panglima Laot kerajaan Aceh untuk bisa menetap disana.

Di komplek pelacuran tersebut, Syeikh Abdur Rauf selain membasmi praktek pelacuran tersebut juga mendirikan pusat pendidikan dan pengembangan Islam. Jadi model dakwah Syeikh ini sangat manjur. Karena dia mampu mengobati berbagai penyakit yang diderita oleh masyarakat. Kemampuan ini tentu saja menjadi buah bibir mulai dari masyarakat kecil hingga ke istana. Selain itu, dia juga dikenal sebagai pawang yang selalu mendapat tangkapan ikan selalu sangat banyak. Kepiawaan dalam melaut ini banyak menarik perhatian penduduk ampung yang didominasi oleh orang asing (Yunus Jamil:1975).

Akhirnya, tenarlah Syeikh Abdur Rauf sebagai seorang pawang yang alim dan juga sebagai tabib yang mujarab. Dia mampu mengubah kampung Biduen sebagai tempat pelacuran menjadi pusat thariqat shatariah. Disebutkan bahwa masyarakat sekitar mengikutinya. Karena kemampuan lahir dan batin inilah beliau dikenal sebagai pawang keramat dan tabib yang mahir.

Karena keterkenalan beliau dalam pada perayaan maulid nabi Muhammad saw pada tahun 1075 H (1665) diundang ke Istana Darud Donya oleh Sultanah Ratu Safiatuddinsyah (1641-1675). Dalam pertemuan tersebut Syeikh Abdur Rauf memperkenalkan diri bahwa selama ini dia menyamar sebagai nelayan dan tabib untuk memperbaiki kerusakan akhlak generasi Aceh.

Dia menuturkan bahwa perhatian Sultanah Safiatuddin Syah terhadap persoalan ini sangat minim. Karena itu pula kemudian Syeikh Abdurrauf diangkat menjadi waliul amri dan mufti kerajaan Aceh sampai beliau wafat pada malam Senin, 23 Syawwal 1106 H/1695M (Wan Mohd. Shaghir Abdullah:2008)

Pengalaman kampung Bideun dan sosok Syeikh Abdur Rauf memang jarang diangkat ke permukaan. Yang menarik adalah sosok ulama ini dalam mengubah tatanan masyarakat yang sudah hancur menggunakan cara yang santun. Untuk mengubah komplek pelacuran dia memadukan kekuatan dunia dan batini. Dari aspek duniawi, dia memperlihatkan bagaimana seorang ulama yang ingin mencari rezeki yang halal, tanpa menadah tangan ke atas. Sedangkan dalam nuansa kebatinan dia mampu memperlihatkan bagaimana peran tarekat di dalam membasmi maksiat.

Kampung Bideun memang tidak ada lagi pelacuran. Namun isu pelacuran di Aceh dan anak-anak Aceh yang menjadi pelacur di luar Aceh adalah fenomena yang tidak dapat disangkal. Karena itu, kita berhadap ada generasi seperti Syeikh Abdur Rauf yang mampu mengubah tatanan seperti kampung Bideun dan kampung-kampung lain yang sudah rusak di Aceh. Inilah sebenarnya harapan kita pada ulama saat ini, yaitu harus mengelola aspek dunia dan batini untuk memperbaiki moral masyarakat.

Memberantas maksiat dengan lemah-lembut, bukan dengan paksaan. Terjun langsung ke lapangan dengan tinggal bersama mereka. Tidak membuat jarak atau memusuhi mereka. Tidak ada sikap anarkis yang diperlihatkan oleh Abdur Rauf dalam mengubah kampung rostitusi menjadi kampung yang islami.

Demikian pula, Syeikh Abdur Rauf walaupun dikenal memiliki karya intelektual yang diakui di dunia, namun perannya dalam masyarakat tidak dapat diabaikan. Sebelum menjadi wali amri pemerintah Aceh, terlebih dahulu dia menjadi rakyat supaya mengerti betul masalah rakyat. Jadi, jika tokoh-tokoh di Aceh maka perlu meniru gaya keulamaan Syeikh Abdur Rauf tersebut. Sebab, bagaimana pun persoalan Kampung Bideun pada era Sultanat, tetap bisa dijumpai pada masa sekarang.

Continue Reading

Keuneubah Endatu

Teungku Adli dan Cerita dari Subung

Published

on

By

Oleh: Dr. Sulaiman Tripa

KLIKSATU.CO.ID | BAGI saya, nama Teungku Muhammad Adli Abdullah itu sangat penting. Ia yang meyakinkan saya untuk pulang dan membantu publikasi berbagai kearifan lokal pada lembaga Panglima Laot di Aceh. Setelah tsunami, ia sengaja datang ke Jakarta dan meminta saya tidak memilih beraktivitas di Jakarta, melainkan pulang ke Aceh. Banyak hal yang harus dilakukan di Aceh. Begitu saya terus-menerus diyakinkan.

Setelah tsunami terjadi 2004, saya pulang ke Aceh pada hari keempat. Hari kedua kami berangkat dari Jakarta dengan mobil jenis sedan. Sepupu saya, pemilik mobil, pulang bersama kami karena sudah tidak ada pilihan lain. Pesawat sudah tidak ada tiket, bus-bus yang tujuan Medan dan Aceh juga padat. Tentara menyediakan transportasi pesawat, namun untuk tujuan Aceh dibatasi karena angkutan dibutuhkan untuk membawa berbagai bantuan.

Setelah seminggu di sana, saya kembali ke Jakarta untuk beraktivitas kembali. Ada dua hal yang saya lakukan. Kerja sebagai staf kontrak di gedung MPR. Selebihnya, ikut diskusi dan seminar, mencari semakin banyak teman dan menulis. Bagi saya, semakin banyak teman akan berimplikasi kepada makin banyaknya ruang untuk menulis. Setiap hari saya bergelut dengan dunia tulis-menulis ini.

Saya berangkat saat status darurat militer diperpanjang, akhir 2003. Waktu itu saya ingin melanjutkan pendidikan tingkat magister dalam ilmu hukum. Akan tetapi kesempatan beasiswa pascasarjana ternyata tertutup bagi saya, menyebabkan kuliah hanya jadi impian. Muhammad Insa Ansari, teman saya yang sekarang dosen di FH Unsyiah yang sedang kuliah doktoral hukum Universitas Indonesia, memperkenalkan saya dengan pak A. Malik Raden, Ketua Ikatan Alumni Universitas Syiah Kuala yang waktu itu sebagai anggota DPD yang memfasilitasi saya masuk dan kerja pada bagian Kelompok DPD di MPR. Kelompok ini memiliki aktivitas utama melakukan kajian untuk memperbesar kewenangan DPD dalam kegiatan di MPR.

Dengan aktivitas ini, menyebabkan saya kenal dengan sejumlah orang. Porsi menulis yang paling saya porsil, karena setelah setahun di MPR, rencana saya akan kembali tes magister hukum dan fokus menulis. Namun keadaan berubah setelah bencana Aceh.

Berkenalan dengan Teungku Adli sendiri sudah lama. Saya ingat, sejak tahun 1999-an, ia mulai mencari-cari seorang mahasiswa yang tidak terkenal dan asal dari kampung. Sebab-musabab ternyata sangat sederhana. Dalam sebuah makalah yang dipresentasikan seorang akademisi Indonesia di Brussel, Eropa, ada satu footnote dalam makalah itu yang berisi laporan penelitian mahasiswa. Penelitian saya waktu itu, “Manajemen Pengelolaan Hukum Adat Laot dalam Kaitan Keberlanjutan Lingkungan di Aceh”.

Alasan ini yang membuat Teungku Adli mencari-cari saya di awal-awal. Kami tidak sempat bertemu. Saya ingat, kami berjumpa di tempat yang tidak saya duga. Saya memiliki famili dari garis kakek, seorang perwira tentara yang bertugas di Aceh. Kakek kami di Pante Raja punya banyak famili sepanjang jalur utara pesisir Pasie Lhok hingga Samalanga. Sepanjang itu, ada garis hubungan yang tidak mampu saya jelaskan. Nah, di rumah itulah, saya berjumpa. Teungku Adli saat itu, sedang membawa Ummi Samalanga menjumpai famili yang dirinduinya itu.

Inilah pertama kali kami berinteraksi, terutama hubungan pengetahuan dan keilmuan. Sejak saat itu, kajian-kajian tentang hukom adat laot dilakukan mulai dari cara sederhana hingga publikasi yang luas. Sejak tahun 2001, Panglima Laot Aceh dikukuhkan, peran publikasi ini gencar dilakukan dalam rangka memperkenalkan kearifan lokal pesisir dan laut di Aceh.

Sejak awal menulis, isu tentang adat laot beberapa kali saya tulis. Saya ingat dalam beberapa kesempatan, Teungku Adli memperkenalkan penulis yang menulis isu ini, kepada peserta pertemuan. Dalam pertemuan-pertemuan Panglima Laot, Teungku Adli selalu memperkenalkan orang-orang yang berkontribusi dalam publikasi hukum adat laot dan Panglima Laot kepada publik di Aceh. Bukan hanya penulis, sejumlah wartawan yang ikut membantu isu-isu Panglima Laot diperkenalkan Teungku Adli dalam pertemuan-pertemuan Panglima Laot.

Setelah saya berangkat ke Jakarta, praktis interaksi hanya dilakukan melalui telepon atau email. Setiap pekan saya dikirim hal-hal yang berkenaan dengan adat laot dan nelayan. Tiada henti ia bersuara saat ada nelayan yang ditangkap di luar negeri. Ia selalu meyakinkan pejabat terkait, bahwa nelayan yang ditangkap itu sebagai nelayan kecil, dan mereka terbawa arus dan bukan unsur sengaja.

Menariknya setiap ia ke Jakarta berinteraksi isu-isu kenelayanan, selalu memberitahukan. Tidak setiap kesempatan saya bisa menemui Teungku Adli. Namun berbagai kepentingan yang saya sebutkan, membuat posisinya sangat penting bagi nelayan kecil. Bahkan saya memiliki dokumentasi berapa banyak dan dalam hal seperti apa nelayan-nelayan Aceh terdampar di sejumlah negara.

Perkenalan ini yang membuatnya merasa penting. Suatu kali, ia juga harus pergi dari Aceh, dengan alasan yang tidak usah saya ungkapkan di sini. Namun setelah tsunami, semuanya menjadi terbuka. Hal yang antara lain dilakukannya adalah menjemput saya yang sedang berada di Jakarta. Ia meyakinkan saya benar-benar agar tidak memilih beraktivitas di Jakarta. Saya harus pulang ke Aceh, dan begitu sampai di Aceh, saya ingat sekali, ia meminta Panglima Laot Aceh, HT. Bustamam, untuk memberi saya posisi sebagai tenaga ahli lembaga itu. Di pihak lain, saya merasa berutang besar kepada senior saya, Mustafa Ismail (wartawan Tempo), Fikar W. Eda (wartawan Serambi Indonesia di Jakarta), dan Azhari (sekarang redaktur budaya Harian Serambi Indonesia). Mereka bertigas sangat berjasa memperkenalkan kepada banyak penulis di Jakarta. Tidak jarang, mereka “menitip” saya kepada mereka. Saat saya memberitahu akan pulang, Mustafa Ismail dan Fikar W. Eda meminta saya berpikir berulang-ulang dulu sebelum berkesimpulan, dengan alasan penulis dari Aceh juga dibutuhkan kehadirannya di Jakarta.

Begitulah lika-liku hidup. Saya memilih pulang. Sejak saat itu, secara formal saya berinteraksi di lembaga adat ini. Berbagai publikasi kami lakukan, bersama sejumlah teman, Teuku Muttaqin Mansur, Helmi Hass, Murizal Hamzah, Hazairin, Mohd. Harun al Rasyid, Miftahuddin Cut Adek, Baharuddin. Sejumlah teman dari lembaga dan luar daerah, kami berinteraksi hingga sekarang. Mereka ada yang sudah berkeluarga di Aceh dan ada yang kembali ke kota masing-masing: Menado, Bogor, Jakarta, Demak, dan sebagainya.

Publikasi yang kami lakukan bahwa semua proses penting dan keterlibatan banyak pihak tidak mungkin diabaikan. Saat itu, posisi Teungku Adli sedang kuliah di Universiti Kebangsaan Malaysia. Lama ia tidak sempat mengurusi pendidikan. Ia menyadari saat kesempatan sudah di ujung. Ia tidak mungkin melakukan banyak hal di tengah kesibukannya yang luar biasa.

Tahun 2010, kami memaksanya untuk kembali kuliah, dengan memberi fokus waktu secara baik. Hal ini didengar. Ia mendaftarkan diri di USM, Pulau Pinang Malaysia, hingga selesai pada tahun 2017. Pada kuliah kedua ini, tidak kami biarkan ia seorang diri. Isu yang ditulis itu kamis bantu menjadi pendengar dan teman diskusi yang baik. Saat ia merasakan membutuhkan nalar dan berbagai penyelesaian konsep, kami harus hadir mendengarkan dan sejauh mungkin bisa memberikan berbagai pendapat terkait isu itu.

Begitulah. Satu tempat di Lamnyong, yang diberikan seorang familinya, sangat membantu tempat kami sering duduk sambil berdiskusi. Selain Teuku Muttaqin Mansur, ada Mukhlisuddin Ilyas dan Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad. Bukan hanya karya tulis Teungku Adli yang kami diskusikan, melainkan karya tulis saya juga dibedah dan didiskusikan di tempat ini. Berbagai hasil diskusi sangat berarti bagi usaha perbaikan dari karya kami masing-masing.

Ada hal lain yang dilakukan Teungku Adli saat membawa saya untuk menjadi bagian dari lingkungan kampus, dengan bantuan sejumlah pihak. Satu hal yang dia ungkap, adalah peluang untuk melakukan reproduksi karya keilmuan bisa dilakukan dengan nyaman di kampus.

Hal yang menarik, sebelum ia selesaikan secara tuntas pendidikan doktoralnya, ia masih sempat berpikir untuk mendirikan sebuah dayah di Meunasah Subung Cot Meurak, Samalanga, yang berlokasi di pinggiran Krueng Batee Iliek. Para Abu abu dan Waled waled di Samalanga menyahuti ide ini untuk direalisasikan. Bersama Waled Tgk Tarmizi al Yusufi yang sekarang memimpin dayah, Teungku Adli secara bersama-sama membangun dayah di Subung ini.

Saya bersama istri sering berkunjung ke Subung, jika sedang di kampung. Teungku Adli dan Waled Tarmizi (Waled Ar)sepertinya punya visi besar membangun pendidikan Aceh dalam rangka mencetak kader ulama Aceh kususnya dan nusantara pada umumnya, sehingga kini banyak sanyri dari seluruh Aceh berlajar kita kita kuning di dayah Najmul Hidayah ini, bahkan dari luar Acehpun datang ke dayah Subung ini seperti dari Sumatra Utara, Sumatrq Barat, Jambi sampai dari Malaysia Dayah ini. sepertinya daya Subung ini  menjadi ruang pembuktian terhadap visi besar besar mareka

Ada cerita yang menyentuh dari Subung ini, saat suatu kali saya dan istri berkunjung ke sana. Istri saya ada di dalam rumah Waled bersama Ummi. Saat kami bertiga duduk di bale, Teungku Adli menyampaikan permintaan sederhana. Kalau akhir waktu hidupnya di dunia tiba,  ia hanya ingin dikasih satu tempat kecil di sudut Subung sebagai lokasi makamnya. []


Sumber: Kupiluho

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

KLIKSATU CORNER

Advertisement

Facebook


Trending